Kurang Waktu

Deretan kata terasa tidak akan pernah cukup untuk terus ingin bersahut-sahutan dengan kamu.
Rentetan suara pun begitu.

Andai kamu tahu, 24 jam itu terasa kurang untuk kebutuhan akan kamu.

Ketika

Kamu datang ketika semua terasa datar
Kamu datang ketika semua berlalu begitu saja seperti angin lewat
Kamu datang ketika warna putih sudah terlalu lama menghiasi hari-hari

Kamu datang seperti balon warna-warni dalam foto hitam-putih
Kamu datang seperti semburat jingga pada langit senja
Kamu datang seperti pelukan hangat ditengah dinginnya kehidupan
Kamu datang memberi gelitik buncah rasa seperti ada seribu kupu-kupu

Kamu datang ketika pertanyaan sudah siapkah saya mulai terlontar lagi. Kamu datang dan saya segera belajar hal-hal buruk bilamana sesuatu terjadi.

Meracau

Saya belajar percaya. Percaya pada apa yang kamu katakan. Percaya pada apa yang akan kamu berikan. Percaya pada semuanya.

Satu sisi lainnya, saya belajar untuk tidak dibodohi. Karena terkadang rasa dan akal sulit dipakai pada saat bersamaan.

Satu saja cukup. Setidaknya buat saya sih begitu.

Seperti Semua Terasa Tidak Masuk Akal

Seperti terbang saat semua yang lain menapakkan kaki.
Seperti geli yang membuncah dalam perut yang penuh dengan kupu-kupu.
Seperti senyum bayi mungil ketika asyik diterbang-terbangkan ke atas.
Seperti rasa kesal yang sebenarnya terasa manis karena larangan ini dan itu.
Seperti kamu yang datang tiba-tiba.
Seperti kamu yang bisa membuat luka.
Seperti saya yang takut merasa.
Tapi bahagia.
Jalani saja.
Awas jatuh.

Percayakah?

Kamu itu seperti sedang memegang pistol yang tepat mengarahkannya ke jantung saya. Saya percayakan kamu memegangnya sekaligus mengarahkannya tepat ke jantung saya. Ketika semua rasa hilang maka kamu bersiap menarik pelatuknya, lalu memporak-porandakan semua yang mengalir dari jantung tentang kamu.

Percayakah saya dengan kamu?