RIP Rosihan Anwar

Kamis Pagi 14 April 2011 Pukul 08.15 WIB Tokoh Pers Nasional Bapak Rosihan Anwar tutup usia. Saya memang tidak begitu mengenal beliau, dan lagi saya bukan dari kalangan pers yang mungkin jauh tahu lebih banyak tentang beliau tapi ijinkan saya mengulas sedikit tentang beliau dari sumber yang saya cari di beberapa website.

BIOGRAFI

Anak keempat dari sepuluh bersaudara putra Anwar Maharaja Sutan, seorang demang di Padang, Pantai Barat Sumatera ini menyelesaikan sekolah rakyat (HIS) dan SMP (MULO) di Padang. Ia pun melanjutkan pendidikannya ke AMS di Yogyakarta. Dari sana Rosihan mengikuti berbagai workshop di dalam dan di luar negeri, termasuk di Universitas Yale dan School of Journalism di Universitas Columbia, New York City, Amerika Serikat.

Rosihan telah hidup dalam ‘multi-zaman’. Di masa perjuangan, dirinya pernah disekap oleh penjajah Belanda di Bukit Duri, Batavia (kini Jakarta). Kemudian di masa Presiden Soekarno koran miliknya, Pedoman pada 1961 ditutup oleh rezim saat itu. Namun di masa peralihan pemerintah Orde Baru, Rosihan mendapat anugerah sebagai wartawan sejak sebelum Revolusi Indonesia dengan mendapatkan anugerah Bintang Mahaputra III, bersama tokoh pers Jakob Oetama. Sayangnya rezim Orde Baru ini pun menutup Pedoman pada tahun 1974-kurang dari setahun setelah Presiden Soeharto mengalungkan bintang itu di leher para penerimanya.

Rosihan memulai karier jurnalistiknya sebagai reporter Asia Raya di masa pendudukan Jepang tahun 1943 hingga menjadi pemimpin redaksi Siasat (1947-1957) dan Pedoman (1948-1961). Selama enam tahun, sejak 1968, ia menjabat Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Bersama Usmar Ismail, pada 1950 ia mendirikan Perusahaan Film Nasional (Perfini). Dalam film pertamanya, Darah dan Doa, ia sekaligus menjadi figuran. Dilanjutkan sebagai produser film Terimalah Laguku. Sejak akhir 1981, aktivitasnya di film adalah mempromosikan film Indonesia di luar negeri dan tetap menjadi kritikus film sampai akhir hayatnya.

Rosihan Anwar menikahi Siti Zuraida, yang terhitung kerabat M. Husni Thamrin, pahlawan nasional dari Betawi, pada 1947. Pasangan ini dikaruniai tiga anak dan sejumlah cucu. Pada tahun 2007, Rosihan Anwar dan Herawati Diah, yang ikut mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Surakarta pada 1946 mendapat penghargaan ‘Life Time Achievement’ atau ‘Prestasi Sepanjang Hayat’ dari PWI Pusat.

PENDIDIKAN

  • HIS, Padang (1935)
  • MULO, Padang (1939)
  • AMS-A II, Yogyakarta (1942)
  • Drama Workshop, Universitas Yale, AS (1950)
  • School of Journalism, Columbia University New York, AS (1954)

KARIR

  • Reporter Asia Raya, (1943-1945)
  • Redaktur harian Merdeka, (1945-1946)
  • Pendiri/Pemred majalah Siasat (1947-1957)
  • Pendiri/Pemred harian Pedoman, (1948-1961)
  • Pendiri Perfini (1950)
  • Kolumnis Business News, (1963 — sekarang)
  • Kolumnis Kompas, KAMI, AB (1966-1968)
  • Koresponden harian The Age, Melbourne, harian Hindustan Times New Delhi, Kantor Berita World Forum Features, London, mingguan Asian, Hong Kong (1967-1971)
  • Pemred harian Pedoman, (1968-1974)
  • Koresponden The Straits, Singapura dan New Straits Times, Kuala Lumpur (1976-1985)
  • Wartawan Freelance (1974 — sekarang)
  • Kolumnis Asiaweek, Hong Kong (1976 — sekarang)
  • Ketua Umum PWI Pusat (1970-1973)
  • Ketua Pembina PWI Pusat (1973-1978)
  • Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat (1983 — sekarang)

KEGIATAN LAIN

  • Wakil Ketua Dewan Film Nasional (1978 — sekarang)
  • Anggota Dewan Pimpinan Harian YTKI (1976 — sekarang)
  • Committee Member AMIC, Singapore (1973 — sekarang)
  • Dosen tidak tetap Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1983 — sekarang)

KARYA

  • Ke Barat dari Rumah, 1952
  • India dari Dekat, 1954
  • Dapat Panggilan Nabi Ibrahim, 1959
  • Islam dan Anda, 1962
  • Raja Kecil (novel), 1967
  • Ihwal Jurnalistik, 1974
  • Kisah-kisah zaman Revolusi, 1975
  • Profil Wartawan Indonesia, 1977
  • Kisah-kisah Jakarta setelah Proklamasi, 1977
  • Jakarta menjelang Clash ke-I, 1978
  • Menulis Dalam Air, autobiografi, SH, 1983
  • Musim Berganti, Grafitipers, 1985

PENGHARGAAN

  • Bintang Mahaputra III (1974)
  • Anugerah Kesetiaan Berkarya sebagai Wartawan (2005)
  • Life Time Achievement (2007)

(Sumber: Wikipedia)

Berikut Kesan-Kesan dari beberapa pelayat yang melayat di kediaman beliau (hasil pemantauan via televisi dan media cetak):

  • Dahlan Iskan, Dirut PLN : Salahsatu fungsi wartawan itu sebagai pencatat sejarah, dan Pak Rosihan Anwar salahsatunya. Dia bukan hanya sejarahwan tapi juga pencatat sejarah.
  • Alwi Shihab, Mantan Menteri Luar Negeri RI: Beliau berani menyuarakan kebenaran. Generasi muda harus belajar banyak dari beliau dan membaca tulisan-tulisan beliau. Kita kehilangan tokoh besar pers nasional.
  • Arief Rahman, Tokoh Pendidikan:  Saat ini orang bekerja hanya mencari status dan popularitas saja, tapi Rosihan bekerja demi tegaknya bangsa.
  • Boediono, Wakil Presiden RI:  Beliau adalah saksi sejarah Indonesia dan memiliki penuh karya yang mendokumentasikan sejarah perjalanan bangsa ini yang sangat berguna bagi generasi mendatang.
  • SBY, Presiden RI: Beliau menyampaikan pandangan kritis tapi juga dengan tanggung jawab dan niat baik.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s