Kalau Besok Mati, Kita Bawa Apa?

Betapa banyak orang yg takut menghadapi hari tua. Takut tak memiliki harta yang cukup saat tubuh tak lagi kuat bekerja. Takut kebutuhan hidup tak terpenuhi saat pendapatan tak lagi ada. Maka, kasak kusuk orang mencari solusi mengatasi ketakutan itu. Tak heran bila kemudian PNS banyak diminati para pencari kerja meski konon gajinya lebih kecil dari pegawai swasta. Alasannya, PNS lebih menjamin hari tua.
Para pegawai swasta pun tak mati asa. Mereka ikut asuransi hari tua. Mereka rela pendapatannya dipotong stiap bulan.
Begitu juga mereka yang tak akrab dengan asuransi, memilih untuk mengumpulkan sendiri rupiah demi rupiah di pundi-pundi mereka.
Alangkah piciknya kita jika hanya sibuk mempersiapkan diri sebatas hari tua saja! Padahal setelah hari tua ada masa yang jauh lebih penting untuk kita mempersiapkan bekalnya. Masa setelah kematian menjemput kita. Masa ini jauh lebih lama dibandingkan masa tua kita. Bahkan kita akan kekal berada didalamnya. Masa ini meminta konsekuensi jauh lebih berat ketimbang masa tua kita. Jika kita persiapkan dgn matang, maka penderitaan yang sungguh tak tertahankan bakal menanti kita. sebaliknya, jika kita persiapkan dengan baik, maka kebahagiaan yang sungguh tak terbayangkan bakal menyambut kita.
Sayangnya, banyak diantara kita yang lebih merasa takut menghadapi masa tua ketimbang masa setelah itu. Banyak diantara kita yang lalai, seolah masa ini masih lama. Padahal masa ini bisa terjadi jauh-jauh hari sebelum masa tua itu datang. Bahkan ia bisa datang esok, saat kita berada di usia “emas”.
Jadi sebelum tiba masa dimana nafas sudah tersekat di tenggorokan, lekas kumpulkanlah bekal! Mumpung sekarang belum terlambat.

-dikutip dari majalah Hidayatullah-

Semoga bisa jadi pembelajaran buat kita smua. amin ya Allah ya rabbal’alamin.

Bahagia dan Syukuri lah

Alkisah ada seorang pemuda yang bermimpi bertemu malaikat. Saat itu dia mengajukan satu keinginan, “Aku ingin tinggal dalam sebuah rumah besar dengan serambi di depan, dua peliharaan yang bagus, dan sebuah taman di halaman belakang. Aku ingin menikahi seorang wanita yang tinggi, sangat cantik dan baik hati, dan berambut hitam panjang, bermata biru, yang bisa bermain gitar dan bernyanyi dengan suara bening dan tinggi.”

“Aku juga ingin tiga anak lelaki yang kuat sebagai teman bermain sepak bola. Ketika mereka tumbuh dewasa, yang satu akan menjadi ilmuwan besar, satu lagi menjadi senator, dan yang paling muda menjadi penyerang belakang. Aku ingin menjadi petualang di samudera luas, mendaki gunung-gunung tinggi dan menyelamatkan orang. Dan aku ingin mengendarai Ferari merah dan tidak pernah harus menyupir sendiri.”

Malaikat menjawab, “Tampaknya itu mimpi yang indah. Aku ingin kamu bahagia.”

Suatu hari, saat bermain sepak bola, anak lelaki itu terluka lututnya. Tentu dia tak bisa bertualang ke laut dan gunung. Dia pun terpaksa banting stir dan memulai bisnis pemasok farmasi. Dia menikahi seorang gadis cantik dan baik hati, tapi gadis itu pendek, bermata coklat (tidak biru), tidak dapat bermain gitar apalagi bernyanyi (tapi, bisa memasak masakan yang enak). Karena usahanya yang biasa-biasa saja, dia tinggal di kota besar di puncak gedung apartemen yang tinggi dengan pemandangan ke laut membiru dan lampu kota di bagian bawah. Dia pun memiliki anak perempuan lumpuh, tapi sangat cantik dan pintar memainkan musik. Dia tidak mengendarai Ferari, walaupun sangat berkecukupan.

Suatu ketika dia terbangun dari tidur dan mengingat mimpinya yang dulu. Dia pun bersedih dan mengeluh kepada seorang psikolog. Dia mengeluhkan tentang istrinya, rumahnya, dan kariernya. Dia dikenai bayaran $110. Karena masih ingin Ferari, dia mendatangi seorang akuntan untuk mencoba menghitung uangnya. Akuntan itu mengenakan biaya $100. Dia pun datang ke ahli nujum untuk mengeluhkan nasib anak-anaknya. Semua yang didatangi menyatakan, “Kamu sudah cukup bahagia dengan kondisimu sekarang!”

Lelaki ini tak mau mendengar, akhirnya jatuh sakit. Semua keluarga bersedih, kecuali psikolog, akuntan, dan ahli nujum. Pada suatu malam, dia bermimpi bertemu malaikat dan bertanya padanya, “Kenapa Tuhan tidak memberikan permintaanku?”

Malaikat menjawab, “Tuhan bisa memberikan semuanya, tapi Tuhan mengejutkanmu dengan hal-hal yang tak kamu impikan. Tuhan menyangka kamu telah memperhatikan apa yang telah diberikan-Nya kepadamu: seorang istri cantik dan baik hati, sebuah usaha yang bagus, sebuah tempat yang bagus untuk ditinggali, tiga anak yang cantik.”

“Ya,” sela lelaki itu, “Tetapi aku pikir Tuhan akan memberikan apa yang benar-benar aku inginkan.”

“Dan Tuhan pikir, kamu memberikan kepada-Nya apa yang benar-benar Dia inginkan,” jawab malaikat.

“Apa yang Tuhan inginkan dariku?” tanya lelaki itu terkejut. Dia tak menyangka bahwa Tuhan menginginkan sesuatu darinya.

“Tuhan ingin kau bahagia dengan apa yang telah Dia berikan kepadamu,” jawab malaikat.

 

 

Sumber: Buku Mr. Positive vs Mr. Negative karya Praveen Verma (termuat dalam La Tahzan!)

Sedikit Renungan Perjalanan

Pernah terpikir ga ketika ingin mengatakan/menulis sesuatu dan kemudian berpikir jika dengan mengatakan/menulis sesuatu tersebut akan ada orang yang nantinya tersinggung atau merasa tersindir? Bukan hanya tersinggung atau tersindir tapi juga terkadang dikira memojokkan, merasa paling benar dan meng-impress orang lain. Padahal ketika mengatakan/menulis hal tersebut tak ada niat sama sekali untuk memojokkan, merasa paling benar, menyindir, bahkan meng-impress orang lain.  Orang bilang jangan lah berbohong, katakan jika memang ingin dikatakan, nah lalu jika dalam keadaan seperti itu bagaimana? Ada yang merasa ragu karna takut menyakiti perasaan orang, ada pula yang akh go ahead aja sembari berdoa semoga gada yang merasa seperti itu (tapi faktanya mungkin secara tidak ditunjukkan ada yang merasa tersinggung, terpojokkan, tersindir), sekalipun tidak ada niat sama sekali untuk menyinggung, memojokkan, menyindir, bahkan meng-impress. Lalu pertanyaannya adalah, apakah orang yang menjudge seperti itu (menjudge: orang yang mengatakan/menulis sesuatu itu telah memojokkan, menyindir, menyinggung, bahkan meng-impress dirinya) adalah orang yang berpikiran sempit? Lalu orang yang mengatakan/menuliskan itu adalah orang yang jujur? Bagaimana jika ingin dikatakan tapi banyak pertimbangan ini dan itu (seperti diatas) ketika di satu sisi ingin benar-benar mengatakan/menulis sesuatu yang dirasakan? Menurut saya, kembali kepada hak. Setiap orang memiliki haknya masing-masing untuk mengatakan/menulis apa yang dirasa, dan hak orang lain juga untuk menjudgenya bagaimana. Selama hati sendiri berkata, lakukanlah jika menurutmu itu benar. Tapi tidak lupa juga dengan tetap melihat dan memposisikan diri sebagai orang lain, betapa tidak enaknya apabila kita disindir, dipojokkan, dan disinggung oleh orang lain. Coba sekali-sekali melihat perasaan orang lain, hanya sekaliiii saja tapi mungkin itu bisa menyelamatkan dari tindakan menyinggung, menyindir, dan memojokkan orang lain. Jika untuk urusan meng-impress, kembali lagi pada hak orang tersebut yang menilai, biar hanya kita dan Tuhan yang tahu jika sebenarnya tak ada niat untuk melakukan itu. Bijaklah dalam berkata-kata, dari kata-kata semua bisa terjadi: pertemanan, permusuhan, bahkan cinta.

menyimak, mendengar, dan memperhatikan — dalam diam

Saat kata bukan tidak ingin terkatakan, tapi mencoba memahami dan memberi tempatnya sendiri, tetap menyimak, mendengar dan memperhatikan — dalam diam. Mencoba uapkan rasa, membiarkannya mengambil jalannya — bukan ingin mematikan rasa. Dari sini tetap menyimak, mendengar, dan memperhatikan — dalam diam. Simpan rasa jauh lebih dalam, walau sesekali menyeruak keluar dan mengingatkan — pada siapa rasa terasa. Hanya bisa diam tanpa kata walau ada yang terasa — rindu.

Joke #6

Seorang koboi preman yang menunggang kuda berhenti di sebuah kota tua. Kebetulan kota tua itu banyak dihuni oleh mantan pengutil (pencuri), yang sampai sekarang masih suka mengutil benda-benda milik orang asing.
Seperti biasa si koboi menambatkan kudanya di luar bar, kemudian masuk ke dalam bar. Ia memesan segelas bir dingin dan menegaknya hingga habis. Kemudian ia keluar untuk melanjutkan perjalanan.
Tak disangka kudanya yang barusan ditinggal sudah hilang.
Jelas aja si koboi naik pitam. Ia masuk kembali ke dalam bar lalu berteriak.
” SIAPA YANG MENCURI KUDA SAYA ! ! ! ! ”
Tidak ada yang menjawab.
Semua pengunjung bar itu pura-pura tidak tahu.
” SAYA TANYA SEKALI LAGI !
SIAPA YANG MENCURI KUDA SAYA ? ”
Suasana bar sunyi senyap.
Beberapa pengunjung bar mulai gelisah.
” BAIKLAH . . . SAYA AKAN MINUM SEGELAS BIR LAGI. SETELAH ITU SAYA AKAN MENINGGALKAN BAR INI. KALAU SAMPAI SAAT ITU KUDA SAYA BELUM KEMBALI . . . . AWAS ! ! !
SAYA AKAN MENGULANG APA YANG PERNAH SAYA LAKUKAN DI TEXAS.
TERPAKSA AKAN SAYA LAKUKAN ITU WALAUPUN SEBENARNYA SAYA TIDAK SUKA ! ! ! ”

Mendengar ultimatum koboi itu, beberapa orang mulai berdiri dari meja dan berlari meninggalkan bar dengan ketakutan.
Dengan tenangnya, si koboi memesan 1 gelas bir lagi, lalu meminumnya sampai habis. Setelah itu ia keluar dari bar, dan ternyata kuda itu sudah ada di tempatnya semula.
Bartender bar berlari menghampiri si koboi lalu berkata :
” Nah Pak . . . Kuda Bapak sudah kembali.
Syukurlah tidak terjadi pertumpahan darah di sini. Maafkan kami atas kelancangan kota ini. ”
” Ya . . . sudahlah . . . lain kali jangan sampai terulang lagi . .”
jawab si koboi sambil menaiki kudanya.
Bartender : ” Pak . . . pak . . . boleh tahu apa yang telah Bapak lakukan di Texas ? ”
” Ooohhh . kmu pingin tahu ? Waktu di Texas . . .
Saya pulang jalan kakiiiiii… ”

ngok! –“