Membeli Waktu

Aku tiba dirumah tepat pukul 9 malam, setelah lelah bekerja segera ku menuju dapur untuk mengambil segelas minuman. Ku lihat putriku, Tasya (9 tahun), belum tidur. Rupanya dia menungguku sedari tadi di ruang tivi.

“Sya, ko belum tidur nak?”

“Aku nunggu papah pulang. Aku mau tanya berapa sih gaji papah?”

“Coba kamu hitung yaa.. Tiap hari papah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar 400.000, tiap bulan rata-rata 22 hari kerja, kadang Sabtu masih lembur. Berapa hayoo gaji papah?”

“Kalo 1 hari papah di gaji 400.000 untuk 10 jam, berarti papah 1 jam di gaji 40.000 dong”

“Wah pinter kamu.. Sekarang, cuci kaki terus tidur yaa”

“Papah, aku boleh pinjam 5.000 gak?”

Aku kaget dan heran, “Sudah gak usah macam-macam.. Buat apa minta uang malam-malam gini? Tidurlah..”

“Tapi papah…”

“Papah bilang tidur!”, bentakku.

Tasya pun lari menuju kamarnya dengan raut wajah sedih.

**

Usai mandi, aku terpikir akan sikap kasarku pada Tasya. Aku pun berjalan menuju kamarnya. Ku lihat lampu kamarnya masih menyala, dan benar saja Tasya belum tidur. Dia sedang terisak sambil memegang uang 15.000.

Sambil mengelus kepala Tasya, aku berkata, “Sya, maafin papah yaa.. Papah sayang sama Tasya. Tapi buat apa sih minta uang sekarang?”

“Papah aku gak minta uang, aku hanya mau pinjam.. Nanti aku kembalikan kalo sudah menabung lagi dari uang jajanku seminggu ini”

“Iya iya, tapi buat apa?”

“Aku nunggu papah dari jam 8 mau ajak papah main ular tangga 30 menit saja. Mamah sering bilang, waktu papah itu berharga. Jadi, aku mau ganti waktu papah. Aku buka celenganku cuma ada 15.000.. Karna papah 1 jam dibayar 40.000 maka setengah jam aku harus ganti 20.000… Uang tabunganku kurang 5.000, makanya aku mau pinjam dari papah..” kata Tasya polos.

Aku terdiam, seolah kehilangan kata-kata mendengar ucapan gadis kecilku itu. Ku peluk dia erat-erat dengan haru. Aku baru menyadari ternyata limpahan harta yang selama ini aku beri tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anakku.

——————————————————————————————————————————————————–

Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya. Sempatkan sedikit waktu untuk bisa berbagi dengan orang-orang yang disayangi, Selagi kau/orang itu masih punya waktu (untuk hidup). Tidak ada yang pernah tahu detik berikutnya apa yang terjadi.

 

SUMBER: BBM

2 thoughts on “Membeli Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s