Bagian Hidup

“Halo selamat pagi dengan agen perjalanan RvianTour?”

“Ya pagi mba, saya mau pesen 2 tiket perjalanan ke Paris untuk 2 minggu dari sekarang”

“Oh baik mas, atas nama siapa ya?”

“Atas nama Bimo Aryo Sasongko”

**

(berbicara dalam hati) — Akh sial siang ini aku melakukan presentasi buruk sekali, padahal ini tender besar dan sekarang aku cuma bisa berdoa semoga aku bisa mendapatkan tender ini.

**

Hari ini aku harus bergegas pergi, bos ku sedari tadi sudah menelpon untuk menanyakan persiapan presentasi yang sudah ku buat. Dengan langkah tergopoh — karena banyaknya barang yang kubawa dan lagi tidak ada yang membantu, aku segera berlari keluar menuju parkiran sebuah mall setelah makan siang dengan kekasihku, Dhila. Ya, namanya Dhila Prameswari Sardono, aku sudah mengenalnya sejak kami sama-sama duduk di bangku SMA. Saat itu aku seniornya dan entah kenapa sejak pertama kali melihatnya seperti ada sesuatu yang tidak bisa lepas dan mengalihkan pandanganku, love at the first sight kah? Akh entahlah yang penting sekarang aku sudah bersama dia.

**

“Dhil, kamu apa kabar? Sudah hampir satu bulan kamu belum juga ada perubahan. Aku kangen. Aku kangen ngobrol sama kamu, berdebat sama kamu, aku kangen.”

Giliranku untuk menjaganya selesai, ibunya datang untuk bertukar shift dengan ku.

“Bim, kamu harus optimis ya. Kalau kamu kuat Dhila juga pasti bisa ikut termotivasi. Jangan pernah bosan ya Bim. Terimakasih untuk mau terus mencintai Dhila dalam keadaan bagaimana pun,” ujar ibunya.

“Iya bu, saya sayang sama Dhila, bagaimana pun keadaannya saya gamau ninggalin Dhila. Ibu kalau ada apa-apa telpon saya aja ya, saya pamit pulang dulu bu,” ujar ku sambil berjalan menuju pintu keluar ICU.

**

(bunyi dering telpon) — kemana langkahku pergi selalu ada bayangmu, ku yakin makna nurani, kau takkan pernah terganti

“Ya halo..”

“Bim, Dhila Bim, Dhila..”

Terdengar suara panik dari ujung telpon, “Ya bu, kenapa bu Dhila?!!”

**

Bergegas selepas sholat ku tembus dinginnya shubuh, ku laju mobil dengan kencang menuju RSCM. Dalam hati berkecamuk gelisah, senang dan khawatir. Tidak peduli jam berapa itu, aku berlari kencang menyusuri lorong-lorong rumah sakit.

“Gimana Bu? Apa Dhila sudah siuman?”, tanyaku panik dan gembira

“Alhamdulillah Bim, dia sudah sadar. Sekarang sedang diperiksa oleh dokter..”

“Alhamdulillah..”

**

Siang itu aku dan Dhila bertengkar hebat, aku merasa Dhila terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia bekerja di sebuah kantor akuntan publik terkenal di Jakarta. Dia memang pintar, supel, dan pandai bergaul. Entah kenapa aku yang biasanya tidak pernah komplain dengan sikapnya itu sekarang berbalik menjadi sensitive dan inginnya selalu ada dia.

“Bim, ngertiin aku dong, aku kerja disitu dengan susah payah, harus melewati beberapa tahap seleksi yang ketat! Jadi ini konsekuensinya waktuku 70% tercurahkan kesitu.. Dan memang kebetulan sedang ada klien besar. Kamu juga ga biasa biasanya kaya gini!”

“Iya Dhil aku ngerti, tapi ini udah ga kaya biasanyaaa..”

“Ga kaya biasanya gimana?! Pikiran kamu aja yang aneh-aneh, aku ga ngerasa ada yang beda, gada yang berubah Bim! Aku tetep sayang sama kamu..”

……

Pertengkaran kami pun berakhir dengan kata putus dari dia, dan aku kecewa sangat kecewa. Ternyata malamnya aku mendapat kabar bahwa Dhila mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak pembatas jalan dan terbalik.

Aku berlari kencang, mencari keberadaan Dhila di RSCM. Ku lihat ibunya sedang menangis

“Gimana bu keadaan Dhila? Apa dia baik-baik aja?!!”, tanyaku panik

“Dokter bilang Dhila mengalami pendarahan di otak dan dia koma Bim”, ujar ibunya sambil terisak.

Aku lemas, seakan tenaga terambil secara tiba-tiba. Orang yang aku sayangi kini terbaring lemah dihadapanku, terbalut kasa putih di kepalanya, bernafas pun dibantu oleh tabung oksigen. Tak ada senyum cerianya, tak ada bawelannya, ya dia hanya terbaring lemah dan mungkin dia tidak tahu aku disitu.

Dalam hati aku berjanji, kata putus yang terucap kemarin adalah sepihak dan aku tidak pernah mengiyakannya, maka sampai kapan pun Dhila tetap kekasih ku. Akan aku jaga dia, akan aku tunggu, seberapa lama pun dia koma aku ingin menjadi orang pertama yang dilihatnya saat dia tersadar.

**

“Dhil, Tuhan ngasih aku kesempatan ini untuk bisa bilang sama kamu, bahwa kamu itu hal terindah dalam hidup aku. Saat kamu bilang putus, aku sedih. Tapi aku jauh lebih sedih saat ngeliat kamu terbaring lemah, seakan aku ga berguna, aku ga bisa apa-apa. Saat itu aku berjanji, jika aku diberi kesempatan oleh Tuhan, saat kamu tersadar dan mulai membaik aku ingin mengajak kamu pergi, mencari suasana baru dan merasakan kembali cinta kita. Saat kamu siuman, aku senang, ternyata Tuhan selama ini mendengar doaku, mendengar kebutuhanku. Aku butuh kamu Dhil, untuk melengkapi bagian kosong ini. Aku ingin menjadi bagian dalam hidup kamu, ikut menulis dalam lembaran kisah hidupmu, aku ingin ada di setiap kamu membuka dan menutup mata, aku ingin setiap rasa kamu bagi hanya denganku walau itu rasa sedih sekalipun, aku ingin setiap detik setiap menit setiap jam dilalui untuk menemani kamu, melihat kamu, melihat senyummu, mengusap air matamu, menopangmu disaat kamu rapuh, aku ingin menjadi bagian hidupmu.. Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku?”

Dhila menangis, selang kemudian dia mengangguk.

Aku membawa dia ke Paris untuk berlibur dengannya….. dan melamar dia. Aku senang dia mengiyakan, ku peluk dia, lalu ku dorong kursi rodanya untuk menikmati keindahan menara Eiffel. Semenjak kecelakaan itu, Dhila tak bisa lagi berjalan dan bicaranya pun terbata-bata. Aku tidak peduli bagaimana keadaan dia, yang aku tahu dari dia aku merasakan hal kecil yang disebut, cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s