Sangat, Sangat Ingin (Mengatakan)

Rindu. Sudah beberapa hari ini aku tidak mengobrol dengannya. Ku lihat lagi photo itu, ku lihat lagi percakapan kami, dan aku sadar bahwa aku rindu.

**

“Cepat sembuh yap”

“Iya makasih yaa..”

Ku tutup percakapan itu dengan doa semoga dia lekas sembuh. Saat itu seakan dia tidak ingin mengobrol banyak denganku, karnanya aku tidak ingin berkata apa-apa lagi. Padalah kamu tahu apa? Aku rindu. Hanya lewat kata dan sapa ku samarkan rindu.

**

“Sampe kapan lo mau menyimpan perasaan lo terus??”

“Ini ga se-simple yang lo bilang weq..”

“Kalo lo ga pernah bisa buat bilang perasaan lo, someday lo pasti bakalan nyesel!”

“Iya gw ngerti, tapi ini…. Akh gw bingung ceritanya!”

………..

Dini hari itu aku berdebat dengan temanku, aku mengerti dia mencoba menasehatiku bahwa aku harus menyampaikan apa yang aku rasa dan mau sampai kapan aku memendam rasa ini. Tapi benar, itu tidak semudah seperti yang dikatakan. Hal itu sulit bagiku. Bahkan temanku itu pun tidak pernah tahu siapa ‘dearyou’.

**

Tidak bisa mengatakan bukan berarti tidak ingin kan? Sangat, sangat ingin. Tapi aku takut kamu memberi jarak dan berpaling, aku takut obrolan kita semakin pendek nantinya, aku takut tidak ada lagi senyum dan tawa, yang paling aku takuti adalah takut semua berubah jika rasa terkatakan (berpaling dan memberi jarak).

Aku bukan pemaksa dan bukan juga pandai menyampaikan rasa. Banyak pertanyaan juga dalam benakku: Kenapa Tuhan memberiku rasa ini? Kata orang, rasa ini anugerah, lantas jika untuk kamu apakah tetap menjadi sebuah anugerah? Kata orang, rasa ini tidak pernah salah, lantas jika untuk kamu apakah tetap rasa ini tidak pernah salah? Bukan, bukan berarti aku menyesali semua ini. Bukan berarti kamu bukanlah anugerah, bukan berarti juga aku merasakan rasa ini kepada orang yang salah. Aku yang salah. Aku (mungkin) tidak pernah bisa mengatakannya.

**
Malam itu aku datang ke sebuah kafe, sepi pengunjung hanya ada aku dan sekelompok orang yang sedang asik mengobrol dipojok. Tidak lama setelah aku selesai makan, pelayan disitu bertanya apa aku mau di tarot atau tidak. Pertama kalinya aku di tarot, dan aku deg-degan.
**

“Sampai kapan kamu mau mengorbankan perasaan? Lihat ini simbol hangman yang terbalik. Ga enak kan mengorbankan perasaan? Jika memang ada yang ingin dikatakan katakan pada orangnya. Dia yang entah itu siapa sepertinya terbuka kok jika kamu mengatakan yang sejujurnya.”
Kalimat itu terngiang-ngiang. Pertama kali di tarot dan hampir sebagian besar apa yang dikatakan petarot itu benar. Dan bagian tentangmu apa yang dikatakannya itu benar adanya.

**

Siang itu aku beranikan diri menyapamu. Aku sapa kamu dengan cara ‘jayus’ku. Menyapa adalah caraku mengatakan ‘hey aku rindu’. Kamu membalasnya, walau singkat tapi aku senang. Tapi karna kamu sedang berkegiatan tidak banyak kata yang kamu ucapkan. Aku ingin kata ku dan kata mu  teruntai panjang, tanpa titik. Kamu itu seperti candu, membuatku ingin selalu berbicara, mengobrol, dan bercakap lebih panjang dan lebih sering dengan kamu. Tapi aku tahu itu mungkin adalah hal yang tidak mungkin. Terlebih lagi aku sadar aku ini hanya orang baru untuk kamu (diantara orang-orang hebat yang mengelilingi kamu).

**

Sampai saat ini aku masih menyimpan kamu itu siapa, tidak ada satu pun yang tahu bahkan (mungkin) kamu pun tidak merasa. Aku tidak tahu ini apa, bagaimana dan bermula darimana, yang ku tahu aku hanya merasakannya. Yang ku tahu jika sehari saja tidak mengobrol denganmu aku rindu, yang ku tahu jika kamu tidak mengabari di akun itu aku khawatir dan mencari, yang aku tahu jika kamu asik dengan yang lain aku cemburu, yang aku tahu jika kau sebut ‘dearyou’mu aku bertanya siapa dia, yang ku tahu ketika rindu aku tidak bisa berbuat apa-apa, dan semua itu yang ku rasa.

Kamu yang dibalik siluet pergi dan cepatlah kembali, doakan aku disana di tempat paling dekat dengan Tuhan. Maaf jika menurutmu aku salah merasakan semua ini untuk kamu. Aku siap mengalah dan pergi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s