Lewat Kata Samarkan Rasa

Pada kata ku samarkan rasa. Pada kata ku sembunyikan duka. Ada dia  di hatinya yang ku tahu itu siapa. Coba sembunyikan duka dengan kata, walau akhirnya ku tahu aku terluka. Kataku ‘semoga dia bisa menemanimu’, walau inginnya itu aku. Berpura-pura berkata ‘ciee’, walau hati meringis karna luka. Bukan aku tak ingin utarakan rasa dengan kata, aku takut jika rasa terungkap kata, tak ada lagi sapa. Aku takut jika rasa terungkap kata, yang ada hanya jarak dan bukan kau yang biasa. Ku pendam rasa walau itu susah. Entah kapan kata bisa mengungkap rasa, tidak bisa bukan berarti tidak ingin mengatakan rasa lewat kata. Ingin, sangat ingin. Lantas bertanya, adakah jaminan jika rasa terungkap lewat kata, tidak akan ada jarak, tidak akan memperpendek katamu, dan kamu tidak berubah? I wish that I don’t have eyes so I won’t see you liking someone else, don’t have ears so I won’t hear you screaming someone else’s name.

Kamis, 28 Juli 2011

Morning world!

Hari ini sahabat saya Eka akan segera pulang ke kampung halamannya (kampung halaman saya juga sih) karna masa study di Jogja udah habis. Walaupun kami berasal dari kota yang sama tapi rasanya sedih juga 😥 Tapi saya percaya ketika umur masih ada dan waktu juga masih ada, kami bisa ketemu lagi dan masih bisa menyambung silaturahmi 🙂

Terkait dengan skripsi saya, ini benar-benar harus dibanyakin dan di kuatin doanya. Karna sudah berusaha tinggal Allah yang membantu, makanya meminta dengan doa. Ya Allah tolong lah hamba-Mu ini…….. 😦 Saya harus percaya dan berprasangka baik pada-Nya, bismillah!

Semalem terlibat pembicaraan dengan ibu kos dan anak-anak kos yang lain, dan sialnya yang dibicarakan adalah masalah ghaib *aarrgggg!* Tapi tetep aja saya dengerin, alhasil jadi agak takut sih. Udah mana gitu dikos tinggal sisa 3 orang (saya, lia, dan nia). Nia hari ini pulang ke Semarang untuk berpuasa pertama di rumahnya sampai hari Senin. Lia, dia mau pindah kosan hari Jum’at besok. Alhasil tinggal saya yang ga pulang dan tersisa di kosan 😦 Semoga tetap dijaga sama Allah, aamiin!

Baiklah hari ini saya harus menyusun beberapa dokumen, mengantar nia yang mau pulang ke Semarang, mengambil hadiah buat Eka, trus apalagi yaa.. Itu deh.. Semoga hari ini menyenangkan buat semua 🙂

Sebuah Lagu yang Mengingatkan Pada…..

Pasti masing-masing suka lagu dong yaa.. Dan tiap lagu pasti punya kenangannya masing-masing juga. Nah disini saya mau bahas tentang sebuah lagu, lagu cover sih, lagu ini di cover sama Boyce Avenue judulnya ‘Forever’. Ini aslinya dinyanyiin siapa saya juga gatau, tapi versi Boyce Avenue emank yahud! Coba kapan-kapan denger deh lagu-lagu covernya Boyce Avenue, ga nyesel deh..

Oke lanjut, lagu ini judulnya ‘Forever’ dan lagu ini mengingatkan saya ketika pertama kalinya ketemu seseorang.  Sekitar awal Mei yang lalu, finally saya ketemu dia. Sempet deg-degan, tapi entah kenapa saya punya keberanian itu.. *wew!* Dia sedang ada di Jogja untuk suatu pekerjaan di Jogja. Tau dia bakal ke Jogja itu antara seneng dan deg-degan! Finally setelah les, saya menghampiri ke tempat dia menginap dan masih dengan rasa deg-degan -_-” Bener-bener ini entah keberanian darimana, saya memacu motor saya kebilangan salah satu jalan utama Jogja, menuju salah satu penginapan. Sampailah saya, dan saya bbm. Sosok yang di bbm pun muncul, antar takjup, tersepona, dan deg-degan! Takut ngebuat kesalahan di kesan pertama, dan wow orangnya ramah dan baik 😀 Percaya ga percaya saya ketemu langsung sama diaaa, aarrgg!hahaa, lebai.

Itu pertama kalinya saya ketemu sama #dearyou, saya berharap masih ada kesempatan selanjut-selanjutnya untuk bisa ketemu sama dia lagi. Apapun keadaannya, sekalipun dia udah punya #dearyou-nya (walaupun pasti bakalan sedih sih tau itu). Jadi setiap denger lagu Boyce Avenue yang ‘Forever’ (ini lagunya ada juga di blog saya) pasti keinget pertama kali ketemu sama dia..

NB: Maaf kalo selama di Jogja gak memberi keramahan yang memuaskan, maaf kalo saya agak ngebosenin (lebih tepatnya krn deg-degan jadi agak sedikit jaim :p). sumpah itu karna deg-degan campur seneng.. Ada kesempatan lain ga ya bisa ketemu lagi.. *berharap dan berdoa*

Ini liriknya, memang ga semua kata mewakili keingetan saya sama dia, tapi lagu ini mengingatkan saya pada saat itu.. :

Boyce Avenue – Forever

It’s you
And me
Moving at the speed of light into eternity
Tonight
Is the night
To join me in the middle of ecstasy
Feel the melody and the rhythm of the music around you
Around you
Imma take you there
Imma take you there
So don’t be scared, I’m right here
We can go anywhere, go anywhere
But first
It’s your chance, take my hand

It’s like I waited my whole life
For this one night
It’s gonna be me, you, and the dance floor
Cause we only got one night
Double your pleasure
Double your fun
And dance forever (ever ever)
And forever (ever ever)
And forever (ever ever)
Forever on the dance floor

Feels like we’re on another level
Feels like our love’s intertwined
We can be two rebels
Breaking the rules
Me and you, you and I
All you gotta do is watch me
Look what I can do with my feet
Baby, feel the beat inside
I’m driving you take the front seat
I just need you to trust me
girl, girl, girl

(It’s like I)
It’s like I waited my whole life
For this one night
Its gonna be me, you, and the dance floor
Cause we only got one night
Double your pleasure
Double your fun
And dance forever (ever ever)
And forever (ever ever)
And forever (ever ever)
Forever on the dance floor

Imma take you there
Imma take you there
So don’t be scared, I’m right here
We can go anywhere, go anywhere
But first
It’s your chance, take my hand

It’s like I waited my whole life
For this one night
Its gonna be me, you, and the dance floor
Cause we only got one night
Double your pleasure
Double your fun
And dance forever (ever ever)
Forever (ever ever)
And forever (ever ever)

Forever (ever ever)
And Forever (ever ever)
Forever
Forever on the dance floor

Ha-Lo

Halo shubuh (04:11)..

Ketiduran semalam dalam keadaan palylist laptop masih menyala. Nangis itu ngebuat orang tertidur pulas ya? Apa karna capek juga, gatau deh. Tiba-tiba setelah keluar sama Eka dan Anin keinget semua, keinget masalah-masalah yang seharusnya dicuekin dulu. Btw ga enak ya kalo lebaran cuma sendirian gitu?hehe. Mau nyoba deh *nyengir* Akh tapi kan katanya gamau ngecewain siapa-siapa. Coba buat biasa aja deh. Pasti ada masanya ini semua berakhir dan terselesaikan dengan baik, jadi bisa belajar dari yang ada sebelumnya.

Btw ada nge-dearyou lagi sekitar 2 jam-an yang lalu, beruntungnya dearyou-nya yang selalu dipikirin dearyou (kok banyak kata dearyou ya, haha). Akh iri. Tapi bisa apa? Terbuka untuk bilang boleh kah dearyou? *nyengir* Konsekuensi kalo bilang udah siap gitu? Mmmm itu yang belum siap. Takut memberi jarak dan menjauh.

Untuk yang paling atas bolehkah disingkirkan dulu pikirannya? Iya boleh banget! Hari ini berencana menjajal jalanan lagi, mau liat isi ATM buat servis motor, habis itu ngampus dan menuju daerah perkantoran sana (kagak tau nama jalannya apa), setelahnya berencana melanjutkan hal yang tertunda kemarin. Pikiran kacau jangan sampai merusak hari ini. Semoga diberi kemudahan dan kelancaran dalam proses meraih gelar ini, aamiin ya Allah ya rabbal’alamin.

Selamat menjalani hari Senin..

NB: Hey #dearyou apa rasanya ya bisa liburan bareng? 🙂

Caviiinnggg!!

Hey morning world.. Morning you yang semalam nge-dearyou, siapa sih dearyou-nya, boleh tau ga? Jealous nih jealous 😦 *beneran* | eh kan mau cerita caving kemarin yaa, hehe

**

Yap kemarin kan saya bilang mau caving dan itu dilakukan. Acara caving ini sendiri yang ngadain Couch Surfing, apa itu? Yaitu (kalo ga salah yaa) perkumpulan orang-orang dari berbagai belahan dunia yang mana jika salah satu anggotanya misal saya di Indonesia nih mau ke Belanda trus ada member Couch Surfing yang disana, nah nanti saya ngasih tau dan nawarin diri untuk menginap di salah satu tempat si member yang di Belanda itu. Ada yang sekedar numpang nginep, ada yang ga di inepin di tempatnya tapi nanti misal dia nawarin diri buat jadi guide, ya pokoknya gitu-gitu deh. Nah teman saya yang namanya Wisnu itu member dari CS itu, kebetulan tanggal 23 kemarin CS Jogja ngadain event yakni caving dan Wisnu ngajak saya untuk ikut. Setelah liat poto-potonya, wah saya tertarik kayanya seru nih, jiaah berpetualang menyusuri goa yang berair dengan hanya menaiki ban dan dikasih life jacket+helmet. Awalnya sempet ragu mau ikut, tapi finally tanpa pikir panjang ikutlah saya. Saya ngajak Anin dan Eka, sayangnya yang bisa hanya Anin, alhasil kami bertiga ikut. Persiapan sudah disiapkan malam sebelumnya, baju ganti, handuk, plastik, sabun, dan yang paling penting adalah perlengkapan pribadi diantara yang pribadi *hahaa*. Besoknya kami berangkat sekitar jam setengah 8 pagi menuju tempat janjian bertemu di daerah Gedong KUning. Sempet gatau dimana Gedong Kuning, tapi berkat nanya sama Bapak kos baik hati walhasil jadi tau. Sesampainya disana ternyata yang datang baru sekitar 6 orang padahal udah jam 8. Wah bau baunya waktu berangkatnya molor nih, dan benarrrr baru berangkat itu sekitar jam 9 setengah 10an. Oiya yang ikut acara caving kemarin bukan cuma orang Indonesia, tapi ada juga bule dan pakle nya *eh :p Iya ada yang dari Inggris, Manila, Belanda.

Lama perjalanan sekitar 1,5 jam. Jam setengah 11 jam 11an udah sampai di Kali Suci. Jadi tempat cavingnya itu letaknya di Dusun Semanu Kecamatan Pencarejo Gunung Kidul (itu kecamatannya bener atau ga gatau deh, hehe). Kami yang konvoi motor datang duluan, eh tapi malah dapetnya kloter kedua (kloter buat berangkat nyusurin guanya). Jadi guanya ini gua yang disusurinya itu kaya arung jeram gitu, tapi ini pake ban dalem mobil dan kita naik diatasnya. Kami yang kloter kedua harus nunggu sekitar 2 jam. Yap 2 jam itu waktu yang lamaaaaaaa banget kalo ga ngapa-ngapain. AKhirnya sebagian dari kami mutusin buat jalan-jalan di daerah sekitar situ. Di kloter kami yang kedua, membernya itu: saya, Anin, Wisnu, mba Tri, mas Tedo, mas Deny (1), mas Zaki, mas Deny (2), mba Agustin, Elisabeth (UK), Hatch (Manila), dan Chris (UK). Kami pergi ke bawah liat-liat sungai. Si bule itu pada berenang disitu, saya mah ga karna ga bisa berenang -_-” Ngabisin waktu dengan kaya gitu ternyata ga cukup juga buat bener-bener 2jam nunggu giliran kita. Masih setengah jam lagi buat dapet giliran berangkat. Kami ngopi-ngopi (padahal ga pada minum kopi juga,hehe) dulu di warung deket sekre cavingnya. Ngobrol ngobrol sama ibu warungnya, dan ternyata ibunya itu kocak mameen, hahahaa. Skip skip skip, finally dateng deh giliran buat berangkat caving. Kata yang kloter pertama mah waah seru seruuu! Wah jadi tambah penasaran nih (plus deg-degan karna sadar ga bisa renang, padahal udah pake pelampung tapi tetep aja deg-degan :p). Perlengkapan udah dipake, semua dari mulai life jacket, helmet, sama yang di kaki itu gatau apa namanya. Menuju ke sungai tempat awal start masuk gua, kami harus bawa-bawa ban yang nantinya bakal dipake buat dinaikin selama nyusurin gua. Bannya itu gilee lebih dari badan saya, kayanya itu ban dalem truk deh. Saya dengan tubuh mungil membawa seonggok benda yang jauh lebih besar daripada saya, wiih perjuangan banget ciiinn, hahaaa. Tapi saya berhasil, yaiiiyyy!!

Sampai di start memasuki gua, siap menaiki ban tapi sebelum itu poto-poto dulu dikit, hehe. Satu satu udah pada naik tuh, giliran saya, sumpah ga boong deg-degan! Udah mana gitu ya kan badan saya kecil, kagak nyampe sedikit tangannya buat ngedayung jadi agak susah buat ngemudiin tuh ban. Tapi untung guidenya baik baik, kalo ada yang nyangkut ditolongin (yaiyalah itu mah pan kerjanya.. *nyengir*). Lagi lagi padahal udah tau pake pelampung tapi tetep aja agak parno. Di gua pertama (namanya saya lupa) kami jalan beriringan, kaki dikaitkan ke tangan (lebih tepatnya kaki kita di ketekin sih, hahaa) sampai jadi kaya rantai gitu. Di gua pertama selain gelap tapi bagus juga lhoo. Kaya liat lukisan stalagtit stalagnit cuma bedanya ini nyata! Udah gitu banyak kelelawar juga lagi pada nangkring diatasnya, berharap ga di eek-in mereka sih :p Di tengah perjalanan menuju gua kedua, kami berhenti dulu, pastinya apa lagi kalo bukan buat poto-poto, hahaaa! Di jalan menuju gua kedua ini ada beberapa spot dari sungainya itu airnya dalem, omigosh dimulai lah kekhawatiran saya.. Walaupun udah pake pelampung disini saya sangat dibantu sekali sama Anin (btw maap merepotkan ya nin, hahaa). Ada spot dimana kita tuh ga selalu naik ban, jadi mesti kaya ngapung dan sendiri gitu di air. Ada juga spot yang mengharuskan ban harus jalan satu satu ga boleh barengan. Jadi ini kaya main arung jeram cuma sungainya lebih kecil dan bukan pake perahu tapi pake ban dalem gitu. Ga sering juga pantat saya berbenturan dengan batu sungai *ouch. Oia saya sarankan kalo mau caving JANGAN PAKE SENDAL JEPIT, karna susah dan bikin sakit. Kenapa? karna emank butuh tenaga ekstra entah itu buat naik atau buat sekedar berjalan di batu batu sungai yang di dalam air jadi biar ga terluka. Disarankan pake sepatu atau pake sendal gunung.

Gua kedua (masih dengan lupa namanya apa), kami disuguhi pemandangan yang ga jauh beda dari gua pertama. Cuma bedanya disini ada kaya sumber mata air gitu, udah gitu banyak spot spot air dalemnya lagi *huffh. Udah gitu ada mas guidenya yang tahu saya ga bisa berenang, dan dengan baik hatinya saya diajarin berenang, hahaa. Untuk gaya punggung lumayanlah sedikit sedikit, nah untuk yang gaya dada saya tidak bisaaa. Karna panik jadi aja susah gitu, maafkan saya mas jika belum berhasil menjadi murid yang jago, hehee *nyengir*. Emank harus kursus dulu nih ama Elsa Nasution (bener ga ya nama atlet renangnya) #tsaah. Finally sampai pada titik akhir perjalanan caving, sebelum pulang kembali ke sekre kami poto-poto dulu. Untung ada yang punya kamera underwater, thanks ya mas Deny (1), hehee. Nah kirain tuh petualangan udah berakhir, bagian cavingnya sih sebenernya ga bikin capek tapi bagian yang ini yang bikin capeknya. Buat kembali ke sekre, kami harus ke atas yap naik ke atas! Tipe tanahnya adalah tanah merah yang licin karna mungkin sudah dinaiki oleh grup sebelumnya jadi tanahnya licin gitu karna basah. Udah mana awalnya kami ke atas harus sambil bawa ban-nya, ga kebayang naik ke atasnya aja susah dan ini pake ban pula, astajiimm! Tapi berkah menghampiri (lebai, haha), buat yang cewek-cewek bannya kagak usah dibawa, horeee *cium bannya satu satu*. Tapi ga pake ban aja medannya udah susah menurut saya, naiknya itu lhoooo tinggi dan curam -_-” Jadi kami kalau mau naik harus megang tali tambang yang udah disediain. Jangan ampe aja dilepas, bisa sangat bahaya jatuh lagi ke bawah. Entah kenapa saat itu sepertinya tenaga saya sedang tidak full, jadi entah beberapa kali saya jatuh karna kehilangan keseimbangan. Karna itu saya malah diketawain -_- Beneran deh itu lebih susah daripada cavingnyaaa *grrrr*. Tapi dengan penuh perjuangan dan tentunya jatuh beberapa kali, saya sampai diatas dengan ngos-ngosan 😀 Sampai di tempat peristirahatan sebelum ke sekre. Meluruskan kaki dan pastinya diketawain gara-gara jatuh beberapa kali *fufufufu*.

Skip skip skip, udah ngebersiin badan segala macem. Ternyata agendanya itu bukan cuma mau caving, pakle dan bule itu pada mau ke pantai. Yap karna pantai daerah Gunung Kidul itu sangat terkenal dengan indah dan pasir putihnya, jadi kalo kesitu ga enak kalo sekedar mampir. Berangkat lah kami menuju pantai sadranan. Kami yang naik motor mulai berkonvoi, yang naik mobil jalan duluan. Dan kami ketinggalan, bertanyalah kami pada seorang warga. Trus kami dikasih tau harus kemana. Lamaaaaa perjalanan, dan mulai berasa kok ga sampai sampai. Ternyata eh ternyata pas nanya sama warga lain di lain tempat, kami sudah terlalu jauh berjalanan menuju pantai sadranan. Lebih tepatnya sih bapak yang ngasih tau itu bilang kalo mau ke pantai sekitar pantai drini dll itu jaraknya sekitar 17km, 17km dengan waktu mengejar sunset, apakah mungkin?! Waktu menunjukkan sekitar pukul setengah 5 sore. Dan itu entah benar jauhnya 17km atau ga, tapi feeling saya sih itu lebih dari 17km deh. Kami baru sampai itu jam setengah 6 lebih, saat matahari mulai sedikit hilang dan senja merah muncul. Kami sampai ke pantai sadranan. Eh ternyata yang lain gada disitu.. Karna mungkin kami selisih jalan. Akh ga nyia-nyiain kesempatan ke pantai (walopun sebenarnya saya udah pernah ke pantai lain namanya sundak dan itu ga kalah bagusnya juga) saya dan Anin poto-poto, hahaa. Malam itu langit ga mendung, jadi banyaaakkk banget bintang yang keliatan, subhanallah bagus bangettt! Pengen deh kayanya ngejaring bintang-bintang itu dan dibawa pulanggg. Nah untuk membunuh kebosanan, kami (mba Danda, mba Hana, mba Witri, Anin, saya, mas Deny (2), Elisabeth, mas Deny (1), mas Zaki dan Wisnu) melakukan suatu permainan. Permainannya lucu dan seru. Udah gitu ada hukumannya pula -_-” Saya pun kena, ini nih gara-gara Aninnn *grrrr*hahahaa*. Saya di hukum pura-pura jadi Miss Indonesia trus ngepromosiin Indonesia ke Elisabeth dengan bahasa Inggris, saya berharap ELisabeth ngerti apa yang saya ucapin, hahaa. Skip skip, saya pun berhasil melalui ujian tersebut, nyahaha. Karna waktu udah jam 7 kurang, kami pun harus segera kembali. Jalan menuju pantai pantai Gunung Kidul memang sudah bagus, cuma tidak ada penerangan jalan sama sekali, padahal kiri kanan jalan itu ladang warga, hutan hutan, dan rumah warga pun jaraknya itu jauh jauh (kalo yang deket pantai sih saya liat gada rumah warga, kecuali satu dua hotel hotel buat nginep tapi ga banyak juga). Jadi kami pun jalannya beriringan, biar ga saling ninggalin. Saya pikir ga bakal sampai malem gitu, eh taunya ampe malam dan saya ga bawa jaket. Namanya daerah tinggi, jadi udah pasti dingin banget, jadi selama di jalan itu nahan-nahan dingin. Wisnu aja yang pake jaket masih bilang kedinginan, nah apalagi saya *brrrr*. Yang jago sih Anin, dia nyetir motor sendirian dari mulai awal ampe akhir ini, wiih jago banget nyetir motornya *jempool*. Dari jam setengah 7 lebih dan melalui jalan yang meliuk liuk, kami pun sampai di Jogja sekitar pukul 8 lebih. Kami berpisah di daerah Kusumanegaran dan saya yakin selain membawa pengalaman dan kenangan seru tentang caving tentu oleh-olehnya adalah masuk angin, hahaa. Ga nyesel biarpun tau badan pasti pada capeknya, dan masuk angin, tapi ini pengalaman baru dan seruuu cuii.. Mesti coba!! Kalo ada yang butuh info tentang caving bisa tanya saya gapapa (nanti saya tanya Wisnu gitu yang punya kartu namanya, hehee).

Kesan kesan pribadi selama ikut caving: SERU, GOKIL, DAHSYAT, WAH, HEBOH!!! Mas/Mbaknya baik-baik, bulenya juga baik-baik dan ramah dan lucu, hahaaa. Jadi pengen belajar renang habis ikut caving, biar enak kalo ikut acara-acara outdoor yang berair 😀 Makasih banget buat Wisnu yang udah ngajakin, Anin yang mau nemenin dan ikut juga, dan buat CS Jogja acaranya seruuu!!!! 😀

Berikut galeri galeri poto caving, monggo… :

Sebelum Caving

Jam kamar menunjukkan pukul 04:28 , masih belum pada bangun dikosan tapi ada sih yang udah mandi duluan padahal dingin banget nih pagi ini *brrrr. Btw ini beberapa jam menuju caving deg-degan euy. Rencananya Insya Allah hari ini mau ikut caving di daerah gunung kidul gitu, gatau nama goanya apaan itu letaknya di desa semanu kalo ga salah mah. Udah search di mbah google dan liat gambar-gambarnya sih sepertinya seru dan goanya bagus, ya semoga begitu, aamiin. Tapi disini masalahnya adalah kami menyusuri goa dengan menggunakan ban dan life jacket, ya karna goanya berair gitu.. Nah masalah lainnya adalah kedalaman air itu bisa 1-3meter, dan saya ga bisa be-re-nang! Itu yang bikin deg-degan.. Ya biarpun udah pake life jacket, tetep aja tau ga bisa berenang dan takut kak takuut.. Allah tolong lindungi kami semua, dalam hal ini saya, semoga gada hal-hal aneh yang terjadi. Allah temenin cavingnya, pliss.. Semoga berangkat dalam kondisi sehat tidak kurang apapun dan pulang kembali ke kos masing-masing dalam kondisi sehat tidak kurang apapun, aamiin! Am so excited tapi, YEAAYY, BISMILLAH!

Sebenarnya Tidak Boleh Ada Alasan Kecewa

Bentrokan antara kewajiban, kewajiban yang sama-sama sulit untuk disikapi buruk keduanya. Entahlah, tapi sekarang ada pengurangan jumlah sayang dan itu terjadi. Tapi saya tidak ingin menjadi sosok yang durhaka, masih sadar bahwa kewajiban itu memang ada dan tidak bisa dihilangkan. Namun konsekuensinya kadar kasih sayangnya menjadi berkurang. Walaupun apapun itu sebenarnya tidaklah boleh terjadi. Tapi disisi lain ada suatu hal yang sebenarnya salah tapi kemudian pertanyaannya adalah apakah harus di diamkan dan anggap tidak ada atau mengingatkan tanpa maksud menasehati tapi untuk melakukan itu takut dianggap durhaka? Nah saya mengambil jalan tengahnya, sudah dibicarakan tanpa maksud menasehati tentunya, dan mencoba untuk tetap menjadi baik dan penurut (karna masih sadar bahwa ada kewajiban dan terlebih lagi takut durhaka). Tapi entah kenapa tetap belum ada perubahan, mungkin belum ada perubahan kali ya (mencoba untuk tetap positif). Dan konsekuensinya entah kenapa kadar kesayangannya menjadi berkurang. Yang awalnya apapun yang saya lakukan itu dilakukan untuk beliau, tapi saya seperti kehilangan arah kehilangan semangat karna sebuah rasa kecewa (tanpa mengurangi dan tidak ingin menjadi durhaka). Seakan semenjak itu, selain ada kadar yang berkurang, saya pun seperti kehilangan sebuah motivasi. Lalu mulai berpikir, akh andai saja dari dulu saya sudah mempersiapkan semuanya dengan baik, at least sudah dapat mencari pendapatan (entah itu untuk pribadi atau beliau-beliau). Yah menyesal memang datang belakangan, diiringi dengan kecewa. Tapi sekarang saya mencoba untuk tidak memikirkan itu dulu, ada kalanya saya perlu melakukan sesuatu (membuat keputusan) yang baik untuk diri sendiri, ya untuk diri sendiri. Mencoba egois dalam hal itu. Tentunya seperti tadi, tanpa ingin menjadi durhaka. Tetap menjadi penurut dan memberi perhatian, walaupun kadarnya berkurang karna telah dikecewakan. Saya sadar betul bahwa sebuah kecewa itu tidak boleh menjadi alasan adanya pengurangan kadar, karna entahlah sudah seberapa sering saya mengecewakan beliau-beliau tapi kadar sayang mereka tidak berkurang. Sebenarnya kadar itu berkurang juga bukan ingin saya kok, entah itu jadi terasa. Saya tetap berusaha berpikir paling tidak saya jangan membuat hal-hal aneh atau menjadi jelek atau nakal, karna itu nantinya sama saja sudah mengecewakan mereka dan malah memperburuk keadaan. Mungkin fase ini sedang saya lewatin, fase tersulit dan pengasahan menjadi seorang dewasa dalam berpikir dan bertindak. Beberapa teman menasehati saya, teman saya lia berkata “lo pasti ga ngerti kalo jadi mereka, sebenernya mereka juga gamau kaya gini. mungkin ini saatnya lo lagi dibawah sedang dicoba, pasti ada saatnya lo bakal perlahan naik lagi diatas. setiap orang punya masalahnya masing-masing dan berbeda-beda”. Thanks anw lia, buat at least bertanya saya kenapa, dan kemudian mau mendengarkan dan memberi solusi. Paling tidak sekarang saya ingin menjadi egois dulu, tidak ingin mencabangkan pikiran ke hal itu. Karna pasti kecewanya sangat terasa.

Sekalipun sudah dikecewakan, jangan sampai saya mengecewakan. Karna dikecewakan itu ga enak rasanya. Berusaha yang terbaik dan menjadi baik.