Sebenarnya Tidak Boleh Ada Alasan Kecewa

Bentrokan antara kewajiban, kewajiban yang sama-sama sulit untuk disikapi buruk keduanya. Entahlah, tapi sekarang ada pengurangan jumlah sayang dan itu terjadi. Tapi saya tidak ingin menjadi sosok yang durhaka, masih sadar bahwa kewajiban itu memang ada dan tidak bisa dihilangkan. Namun konsekuensinya kadar kasih sayangnya menjadi berkurang. Walaupun apapun itu sebenarnya tidaklah boleh terjadi. Tapi disisi lain ada suatu hal yang sebenarnya salah tapi kemudian pertanyaannya adalah apakah harus di diamkan dan anggap tidak ada atau mengingatkan tanpa maksud menasehati tapi untuk melakukan itu takut dianggap durhaka? Nah saya mengambil jalan tengahnya, sudah dibicarakan tanpa maksud menasehati tentunya, dan mencoba untuk tetap menjadi baik dan penurut (karna masih sadar bahwa ada kewajiban dan terlebih lagi takut durhaka). Tapi entah kenapa tetap belum ada perubahan, mungkin belum ada perubahan kali ya (mencoba untuk tetap positif). Dan konsekuensinya entah kenapa kadar kesayangannya menjadi berkurang. Yang awalnya apapun yang saya lakukan itu dilakukan untuk beliau, tapi saya seperti kehilangan arah kehilangan semangat karna sebuah rasa kecewa (tanpa mengurangi dan tidak ingin menjadi durhaka). Seakan semenjak itu, selain ada kadar yang berkurang, saya pun seperti kehilangan sebuah motivasi. Lalu mulai berpikir, akh andai saja dari dulu saya sudah mempersiapkan semuanya dengan baik, at least sudah dapat mencari pendapatan (entah itu untuk pribadi atau beliau-beliau). Yah menyesal memang datang belakangan, diiringi dengan kecewa. Tapi sekarang saya mencoba untuk tidak memikirkan itu dulu, ada kalanya saya perlu melakukan sesuatu (membuat keputusan) yang baik untuk diri sendiri, ya untuk diri sendiri. Mencoba egois dalam hal itu. Tentunya seperti tadi, tanpa ingin menjadi durhaka. Tetap menjadi penurut dan memberi perhatian, walaupun kadarnya berkurang karna telah dikecewakan. Saya sadar betul bahwa sebuah kecewa itu tidak boleh menjadi alasan adanya pengurangan kadar, karna entahlah sudah seberapa sering saya mengecewakan beliau-beliau tapi kadar sayang mereka tidak berkurang. Sebenarnya kadar itu berkurang juga bukan ingin saya kok, entah itu jadi terasa. Saya tetap berusaha berpikir paling tidak saya jangan membuat hal-hal aneh atau menjadi jelek atau nakal, karna itu nantinya sama saja sudah mengecewakan mereka dan malah memperburuk keadaan. Mungkin fase ini sedang saya lewatin, fase tersulit dan pengasahan menjadi seorang dewasa dalam berpikir dan bertindak. Beberapa teman menasehati saya, teman saya lia berkata “lo pasti ga ngerti kalo jadi mereka, sebenernya mereka juga gamau kaya gini. mungkin ini saatnya lo lagi dibawah sedang dicoba, pasti ada saatnya lo bakal perlahan naik lagi diatas. setiap orang punya masalahnya masing-masing dan berbeda-beda”. Thanks anw lia, buat at least bertanya saya kenapa, dan kemudian mau mendengarkan dan memberi solusi. Paling tidak sekarang saya ingin menjadi egois dulu, tidak ingin mencabangkan pikiran ke hal itu. Karna pasti kecewanya sangat terasa.

Sekalipun sudah dikecewakan, jangan sampai saya mengecewakan. Karna dikecewakan itu ga enak rasanya. Berusaha yang terbaik dan menjadi baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s