Sepenggal Rasa

Saat itu perjalanan jauh. Hari pun sudah gelap. Hanya kami berempat di dalam mobil yang melaju kencang. Orang yang disebelahku terkantuk-kantuk dalam posisi duduk. Ku benarkan posisi dudukku. Lalu ku tawarkan sandaran untuknya. Dia rebahkan kepalanya dipangkuanku. Ya untuk pertama kalinya jarak kami begitu dekat. Saat itu sisi kanan-kiri kami adalah hutan, tak ada lampu jalan tapi ku bisa melihat jelas wajah kelelahan itu. Tanpa aku sadari aku tersenyum. Aku senang saat itu, letih juga tentunya. Ini pertama kalinya dia rebahkan kepalanya dipangkuanku. Ingin rasanya ku pegang wajah itu, ku pegang tangannya, akh tapi keberanianku tidak sebesar itu. Hanya ku pandangi saja wajah itu.

***

“Ga dong, jangan bosen yaa”, katanya
— aku tertawa kecil “Pastinya ga, akan banyak hal menarik nih!”

Aku belum pernah melihat sisinya yang ini, dan kini aku bisa melihatnya langsung. Saat awal ku kira aku akan merasa asing *ya walaupun aku memang (mungkin) masih asing baginya* , tapi saat itu entah ada sisi lain darinya itu membuat aku bertambah takjub. Tapi ku coba sembunyikan itu.

“Eh ngelamun aja! Aku sholat dulu ya!”
— aku mengangguk “akh aku tertangkap tangan sedang mengaguminya!”, kataku dalam hati.

***

“Iya nih aku capek banget hari ini, kamu seharian ngapain? Share lah..”, katanya pada orang di sebrang telfon.

Akh aku tahu itu siapa, seperti ada hawa panas yang tiba-tiba menyerang padahal kala itu sedang berada dalam ruangan ber-AC. Lalu ku ambil ipod-ku, ku setel lagu, ku pasang headset. Maaf aku benar-benar tidak ingin mendengarkan percakapanmu itu. Ya, aku cemburu. Ku tutupi cemburu dan sedihku dengan cara itu, ku setel ipodku keras-keras hingga tak bisa mendengar suara yang lain dan juga ku palingkan pandanganku pada yang lain. Aku tak mau menatapmu, bukan aku tidak senang melihatmu senang, hanya saja aku tidak ingin memperlihatkan sedihku. Dan cemburuku.

“Beruntungnya diaa..”, batinku dalam hati mencoba berbicara pada dia yang di sebrang telfon.

***

Malam itu, perjalanan panjang kembali kami tempuh. Lagi lagi harus berjalan dibawah pekatnya malam. Ku lihat dia sedang tidak bersemangat dengan smartphonenya. Entah mungkin kantuk dan letih menyerangnya. Tampaknya begitu. Hening, sepi, serta dinginnya AC mobil membuatku asyik sendiri dengan ipodku. Tapi tidak ku setel keras, agar aku bisa ikut berbincang dengan yang lain.
Ku lihat dia yang lagi lagi terkantuk dalam duduk. Ku copot ipodku, ku ambil sesuatu yang empuk atau paling tidak bisa membuat nyaman. Ku taruh diatas pangkuanku. Lalu ku colek dia yang sepertinya sudah sedikit terkantuk.

“Mau tidur?”, tanyaku sambil menunjuk pangkuanku.

Tanpa berkata apa-apa, dia rebahkan kembali kepalanya dipangkuanku. Rasanya sama seperti pertama kali dia lakukan itu, aku senang. Tapi tentunya tidak ku perlihatkan. Lagi ku lihat wajah itu, masih sama hanya saja lebih letih dari sebelumnya. Lagi ku tak berani untuk menyentuhnya, ku biarkan tangan ku disilangkan depan tubuhku tepat diatas kepalanya yang berada dipangkuanku. Ku coba untuk pejamkan mata juga, tapi tak bisa. Ku lihat saja wajahnya, dan tak pernah bosan untuk dilihat. Kali ini ku beranikan diri menyentuh kepalanya. Ku sentuh rambutnya. Pelan-pelan agar dia tidak terbangun dalam tidurnya. Aku berani! Ku usap-usap kepalanya, ku usap-usap rambutnya. Entah dia merasa atau tidak, tapi yang pasti dia melakukan beberapa gerakan untuk membenarkan sandarannya. Aku tidak tahu apakah dia merasa atau tidak, atau dia merasa dan membiarkan aku, aku pun tidak tahu. Yang ku tahu, ada rasa aneh yang terasa, aku senang dan aku tidak ingin melewatkan setiap rasa yang terasa dalam momen itu. Aku usap perlahan.

***

Entah sampai kapan ku sembunyikan rasa. Yang ku tahu, aku tidak bisa memilikinya. Walau begitu aku akan selalu ada untuknya, saat dia butuh bahkan tidak butuh. Aku menjauh darinya bukan karna inginku, tapi karna aku sadar yang dia butuhkan bukan aku. Dia telah temukan bahagianya, dalam sosok dia-nya. Tapi saat dia menyebutku, mem-ping-ku, menelfonku, aku akan selalu ada untuknya. Selalu ada dan siap menawarkan pundakku saat dia letih ataupun sedih, siap menjadi pendengar walaupun yang diceritakannya adalah dia-nya, siap 24 jam yang ada jika dia butuh (bahkan jika dia tidak butuh). Aku tak ingin menjanjikannya banyak hal, karna aku takut waktuku tak cukup. Aku akan mencoba mewujudkannya lewat tindakan.
Tapi sekarang, aku harus menjauh, karna takut mengganggu bahagianya. Walau sebenarnya aku tak ingin begitu. Hanya saja ku tak ingin perlihatkan sedihku.

Aku, biar ku sembunyikan saja rasaku sampai suatu saat ku diberi kesempatan untuk serahkan buku biru itu.

Sekian.
———————————————————–

 

Terimakasih.

Advertisements

2 thoughts on “Sepenggal Rasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s