Menatap Punggung Muhammad

”Apakah yang lebih besar daripada iman?”  Sebuah pertanyaan yang diucapkan sosok Muhammad dalam mimpi itu. Ia tersenyum menatapku, tetapi entah bagaimana aku tahu sesungguhnya ia sedang agak bersedih.

“Aku tak tahu”, kataku. Tenggorokanku terasa sangat kering. Terik matahari menyengat – aku berada di sebuah tempat yang kering dan tandus. Bukan padang pasir, tapi sebuah tempat yang belum pernah kulihat dan kuketahui sebelumnya. Tiba-tiba, aku ingin melihat sosok itu… dan ia tersenyum tulus ke arahku. Aku melihat seorang lelaki dengan wajah yang agung dan bercahaya. Ini semacam cahaya aneh yang justru tak membuatku merasa silau – tapi teduh. Sekali lagi ia tersenyum,..senyum itu membuatku lupa dengan rasa haus dan panas yang membakar kulitku. “Apa yang lebih besar daripada iman?” katanya mengulang pertanyaan pertamanya.

Seketika  langit hening.. bumi senyap. Dan lelaki itu melempar senyum sekali lagi, lalu membalikkan tubuhnya setelah mengucapkan sebuah salam perpisahan. Pelan-pelan, ia melangkah pergi, menjauh meninggalkanku. Aku menatap punggung sosok itu yang semakin menjauh…terus menjauh. Entah mengapa ada perasaan sedih yang teramat dalam saat ia meninggalkanku di tempat itu sendirian. Aku benar-benar tak rela melepasnya pergi..aku menatap punggungnya dan memanggilnya kembali dengan mata rinduku, tetapi  ia terus menjauh..menjelma sunyi..meninggalkanku.

Aku terbangun dengan dada yang berdebar, dengan perasaan yang begitu sedih. Muhammad, Muhammad, Muhammad.. aku mengulang-ulang nama itu. Mengapa ?

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-relakan Islam menjadi agama bagimu”.

Siapa yang tak berbahagia mendengarnya. Ini seperti sebuah kabar kemenangan. Tuhan telah merestui perjuangan kita dan menyatakan bahwa agama ini adalah agama yang sempurna. Bisa dipahami, ini adalah kebahagiaan yang tak terkira. Tapi.. kegembiraan itu justru tidak berlaku bagi sahabat terdekat Muhammad. Di tengah suasana kemenangan dan kebahagiaan itu.. di saat Haji Wada, perjalanan haji terakhir Muhammad – Abu Bakar justru menangis sedih dengan pundak yang berguncang. Air mata membanjiri tebing pipinya, sesekali suaranya tercekat pilu bagai menahan sesak di dadanya. Kenapa dengan Abu Bakar?

Ia menangis, menahan pilu di dadanya, sebab ia tahu bahwa di balik peristiwa itu…ia menyadari, tak berapa lama lagi Muhammad yang sangat ia cintai, akan meninggalkannya dan para sahabat yang lain. Ya, Sang Nabi telah usai melaksanakan tugasnya dan akan kembali ke haribaan Allah. Sebab telah sempurna agama yang telah Muhammad bawa, telah selesai tugas besar kenabiannya dan tidak akan ada lagi nabi yang akan menggantikannya.

Pelan-pelan.. Muhammad menghampiri Abu Bakar dan para sahabat,  mengatakan bahwa tak berapa lama ia memang akan pergi meninggalkan semuanya. Tangis Abu Bakar semakin menjadi dan berguncang hingga ke relung dada.. begitu pula dengan para sahabat. Sang Nabi perlahan melangkah pergi…ada cinta yang begitu kuat di hatinya, air matanya mengintip di sudut matanya, tetapi sekuat tenaga ia tahan, ia tak mau membuat para sahabatnya semakin bersedih – sesungguhnya ia juga tak ingin pergi. —

 

***

Selamat malam semua.. Postingan kali ini saya akan membahas sedikit tentang sebuah novel, “Menatap Punggung Muhammad” karya Fahd Djibran. Deretan paragraf diatas itu sebagian cuplikan novel tersebut.

Menatap Punggung Muhammad sesungguhnya adalah sebuah surat panjang yang ditulis seorang lelaki pada kekasihnya. Surat tersebut menceritakan kisah pencarian si lelaki dalam memecahkan makna pesan yang ia dapatkan dalam sebuah mimpinya bersama Muhammad Sang Nabi. Dalam perjalanannya, ia menemukan banyak hal luar biasa dari Muhammad. Fahd Djibran mendapatkan surat itu dari sahabatnya, si kekasih, kemudian menceritakan kembali kisah itu melalui novel ini. Buku ini akan memberikan cara pandang baru bagi pembaca, yang Muslim maupun non-Muslim, mengenai sosok Muhammad—baik sebagai seorang manusia maupun sebagai seorang Nabi.

Resensi buku ini semoga bermanfaat untuk menambah list buku yang ingin dibaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s