(belum tahu mau dikasih judul apa)

—- “Apa yang bisa menjadikan kami satu? Apa yang bisa menjadikan jarak menjadi ilusi?”

“Mengapa Kau mengarahkannya padaku? Mengapa Kau menganugerahkannya padaku? Mengapa padanya harus ku rasakan itu?” —–

***

Andai saja kotak tidak bisa membuatku jatuh hati. Sayangnya dia telah berhasil membuatku jatuh hati, padanya. Kalau orang lain tahu mungkin mereka juga akan berkata aku gila! Tapi memang seperti itu, seseorang dalam kotak membuatku jatuh hati.

***

“Saat ini suasana masih mencekam, terlihat disekitarannya masih menyembul awan secara konstan ….”

Di ruang tengah ku lihat setiap detik perkembangan yang terjadi, ada semacam was-was dan khawatir. Keadaannya memang saat itu tidak kondusif. Aku yang hanya bisa memandang dari jarak ratusan kilo hanya bisa mengirimkan doa.
Saat pertama, entah awalnya bagaimana setiap melihat sosoknya seakan selalu di nanti dan tidak bosan untuk dilihat. Terkadang saat larut pun aku menunggunya untuk muncul, ya walaupun terkadang bukan dia yang ada.

***

“Hai halo …” ucapnya sambil menjabat tangan.

Itu pertemuan pertamaku dengannya. Aku pernah memimpikan bertemu dengannya, tapi tak pernah senyata ini! Dia di depanku, dan tersenyum juga berbicara langsung. Rasanya tak pernah menyangka sebelumnya.
Kesempatan itu datang ketika sebuah berita sampai padaku, bahwa kami bisa bertemu. Saat itu aku senang, sangat senang. Tapi juga gugup. Sebuah kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali.

***

Saat ku putuskan untuk lepas ‘mencandu’, rasanya berat. Aku dan dia hanya ilusi, jarak yang ada bukan lagi bias tapi menjadi nyata. Aku tidak mau mengukur dalamnya hatinya, karna benda itu bukan milikku. Ada yang sudah berhasil mencuri perhatiannya, dan hatinya berhasil disentuhnya. Bukan aku tidak ingin berusaha, bukan aku tidak ingin perjuangkan, hanya saja memang hatinya tidak terbuka untuk aku. Tapi paling tidak aku senang karna bisa tetap dekat dengannya, walau ada jarak.

***

Aku mulai bertanya: “Apa yang bisa menjadikan kami satu? Apa yang bisa menjadikan jarak menjadi ilusi?”

“Mengapa Kau mengarahkannya padaku? Mengapa Kau menganugerahkannya padaku? Mengapa padanya harus ku rasakan itu?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s