Dongeng dari Langit

“Kamu ingin mamah cerita apa malam ini?”

(mikir) “Mmmm.. Cerita tentang sebuah anugerah aja mah!”

“Baiklah.”
“Kala itu tanggal 23 April 2001. Mamah masuk rumah sakit. Sesuatu di perut mamah rasanya gak sabar ingin segera keluar. Padahal mamah sedang mencoba menahan rasa sakit, tapi kala itu sebenarnya bukan sakit yang mamah rasa. Mamah juga sama gak sabarnya dengan dia yang mau keluar dari perut mamah. Mamah ingin tahu seperti apa rupanya, seperti mamah kah atau seperti papah.”

Mamah tersenyum melihatku.

“Mamah sabar menunggu sampai tiba saatnya dia bisa keluar dari perut mamah. Karna saat itu dokter bilang masih pembukaan 3, belum saatnya untuk dia keluar”

“Pembukaan itu apa mah? Apa sama seperti kita membuka kado setiap aku ulang tahun?”

Mamah tertawa kecil — “Ini beda dengan membuka kado, sesuatu yang lebih spesial dari kado malah.”
“Sampai saatnya mamah sudah benar-benar gak tahan, lalu masuklah mamah di ruang bersalin. Selang berapa menit, mamah mendengar suara tangisan yang merdu sekali..”
“Dia yang mamah tunggu sampai juga di dunia..”
“Sayangnya kala itu mamah tak bisa menyentuhnya. Mamah hanya bisa melihat anugerah itu sebentar saja, karna mamah sudah harus ikut seseorang ke suatu tempat.”
“Mamah pernah berpesan pada papah untuk menamakannya Tere. Entah kenapa mamah suka dengan nama itu. Mamah hanya bisa melihat Tere dari jauh. Sampai pada akhirnya mamah meminta untuk bisa mengunjungi Tere setiap malamnya, sepeti malam ini.”
“Mamah tahu Tuhan baik, dan biarpun anugerah itu hanya bisa mamah datangi setiap malam, tapi ingatlah selalu Tere.. Mamah selalu ada buat kamu. Mamah selalu menyayangi kamu. Jangan berkecil hati jika ada yang mengejekmu. Mamah ada dalam setiap doa-doamu pada Tuhan, dan Tuhan menyampaikan itu langsung pada mamah. Jadi tetaplah tersenyum selalu ya sayang..”

Fajar nyaris terbit, itu artinya sudah saatnya mamah harus pergi. Ya setiap malam mamah selalu datang mengunjungiku. Mamah tak pernah absen untuk datang, padahal aku juga gak tahu berapa jarak antara kamarku dan surga sana. Mamah selalu datang untuk mendongengkan aku.

Mah, terimakasih..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s