Obrolan Telpon

Hai halo..

Hari ini sedang mengapa? Dimana? Kalo saya dikosan sedang menghadap laptop. Btw maaf ya buat teman saya Wisnu yang ngajak makan tapi saya gak iso karna udah makan — inget kolesterol nhu, hehe. Oia tadi habis telpon sama mama, finally mama telpon ya walopun masih biasa nanya soal TA saya, syukurlah masih dicariin sama ditanyain. Mama seperti biasa cerewetnya gak ketulungan, tapi orang tua saya ini herannya kok ngasih saya kebebasan apa aja yaa — ma pa anaknya cewek lho ini.. *berasa pengen dikhawatirin, hahaa. Saya memang anak cewek dan anak bungsu juga, tapi orang tua slalu menaruh kepercayaan dan kebebasan sama saya, Alhamdulillah.. So saya juga ga boleh mengecewakan mereka — makanya TAnya diselesaiin wooiiiii #amtalktomyself! HOSSSHHH!!!

Setelah ngomongin TA, saya bilang sama mama, “ma, kalo de kerja di Papua gimana? Boleh gak?”. “HAH? Ngapain?? Jangan jauh jauh.. Nanti mama susah nengoknya.. Males naik pesawat yang kecil-kecil gitu kalo ke Papua. Kalo ke Kalimantan, Sulawesi, mana kek boleh lah asal jangan Papua.. Nanti mama susah juga backpackerannya” — hadeeeuuhh mama kaya tau aja backpackeran apa (saking anaknya jalan-jalan mulu kali ya jadi ngerti sendiri –“). Agak jarang orang tua yang ngebolehin anak ceweknya buat kerja di luar Pulau Jawa, tapi ini orang tua saya malah ngebolehin, gak khawatir apa sama anaknya nyak beh!? Kadang-kadang saya juga kan pengen dikhawatirin, tapi gini nih kalo udah berasa punya adek kecil lagi (maksudnya ponakan saya), jadi udah gak berasa anak bungsunya *huft. Diakhir obrolan tentang kerjaan (yang notabene TA aja masih belum beres tapi udah semangat mau kerja *yaiyalaahh gapapa kaleee), saya utarakan kekesalan saya pada kakak saya yang cowok, habisan dia nyebelin, grrrr!! Tapi ya tapi karna males buat terus nyeloteh gak jelas jadi aja saya akhiri percakapan telpon dengan mama, sambil bilang “Ma de gak pulang ya pas lebaran haji”, dan mama cuma bilang “Yaudah terserah aja, asal jangan main melulu”, “Yoi coiiiii” jawab saya, hahahaa..

Advertisements

Have You Ever?

Have you ever loved somebody so much it makes you cry?
Have you ever needed something so bad you can’t sleep at night?
Have you ever tried to find the words but they don’t come out right?
Have you ever?

Have you ever been in love, been in love so bad
You’d do anything to make them understand?
Have you ever had someone steal your heart away?
You’d give anything to make them feel the same?
Have you ever searched for words to get you in their heart
But you don’t know what to say and you don’t know where to start?

Have you ever found the one you’ve dreamed of all your life?
You’d do just about anything to look into their eyes?
Have you finally found the one you’ve given your heart to
Only to find that one won’t give their heart to you?
Have you ever closed your eyes and dreamed that they were there
And all you can do is wait for that day when they will care?

What do I gotta do to get you in my arms, baby?
What do I gotta say to get to your heart to make you understand how I need you next to me?
Gotta get you in my world ’cause, baby, I can’t sleep

— Have You Ever, Brandy

Dear Mama

Ma..

Beberapa hari ini dada de rasanya sesak. Mata yang selalu mama banggakan selalu memerah tanpa merasakan sakit. Mama tahu sebabnya? De kasih tahu ya, ma. Dada de sesak karena de seringkali menahan tangis. Otak de rasanya penat dan lelah, ma, tapi de nggak bisa tidur cepat. Sekalinya tidur eh tahu-tahu alarm hape udah bunyi nyaring banget. Tapi mama jangan tanya kenapa de pengin nangis ya, ma. Karena jujur, de juga bingung gimana caranya ngasih tahu ke mama.

Ma..

Mama pernah ngerasa sesak karna ada hal yang tertahan untuk dikatakan? Mama pernah ngerasa sesak dan ingin berteriak sekeras-kerasnya tapi sayangnya itu cuma bisa dilakuin dalam hati (atau bahkan dalam hati pun terasa sesak untuk dilakukan)? De lagi ngerasain itu ma. Bukan tidak ada tempat untuk mengatakannya dan mengutarakannya ma. Mungkin de terlalu takut untuk mengatakannya, atau mungkin tidak ada yang mau mengerti ini. Ma, de penat, sesak rasanya. Mama pernah merasakan rindu yang membuat terasa sesak tapi gak bisa ngelakuin apa-apa? Mungkin de terlalu takut ma.. Mengatakan atau tidak mengatakan adalah hal yang harus dipertimbangkan, pertaruhannya adalah adanya jarak dan kehilangan. De takut akan itu ma.

Ma..

De mohon kali ini, tolong mama buka pintu telepati biar apa yang de mau sampaikan ke mama bisa sampai ke hati mama tanpa de harus cerita. De pengen dipeluk mama seperti dulu saat de masih kecil dan yakin bahwa mama selalu ada untuk de.

Puisi: Soneta XVII — Pablo Neruda

Soneta XVII

aku tak mencintaimu seolah-olah kau adalah serbuk mawar, atau batu topaz,
atau panah anyelir yang menyalakan api.
aku mencintaimu seperti sesuatu dalam kegelapan yang harus dicintai,
secara rahasia, diantara bayangan dan jiwa.

aku mencintaimu seperti tumbuhan yang tak pernah mekar
tetapi membawa dalam dirinya sendiri cahaya dari bunga-bunga yang tersembunyi;
terimakasih untuk cintamu suatu wewangian padat,
bermunculan dari dalam tanah, hidup secara gelap di dalam tubuhku.

aku mencintaimu tanpa tahu mengapa, atau kapan, atau darimana
aku mencintaimu lurus, tanpa macam-macam tanpa kebanggaan;
demikianlah aku mencintaimu karena aku tak tahu cara lainnya

beginilah: dimana aku tiada, juga kau,
begitu dekat sehingga tanganmu di dadaku adalah tanganku,
begitu dekat sehingga ketika matamu terpejam akupun jatuh tertidur.

 

Pablo Neruda

Bercerita: Bimbang?

Bagaimana jika benar aku salah? Eh tapi kan aku sendiri tidak pernah mendefinisikan rasa. Bahkan terlalu takut. Tapi kan bisa jadi benar aku salah?

***

Dari jendela kamar ku lihat awan berarak, warna biru selalu bisa menenangkan diri. — lambaikan tangan jika itu membuat lebih mudah — lagu BIP mengiringi. Percakapan BBM semalam dengan seorang sahabat membuat berpikir keras. Rasanya betul aku sudah sangat lama berpikir saja, tapi bukan tanpa alasan aku mendengarkan logika ku itu. Dia yg slama ini berperang dengan hatiku, untungnya aku masih waras. Logika ku membuatku tetap bisa berpijak diatas tanah, mempertimbangkan segala hal yang tidak boleh diputuskan, dikerjakan, dilakukan hanya karna rasa nekat saja. Dia memberiku banyak pertimbangan. Bahkan saat aku mengakui kejujuran pada sahabatku logika ku masih membimbingku untuk tetap menganalisis apa yang akan terjadi nanti dan konsekuensinya.

***

Dinginnya malam aku tembus seorang diri diatas motor. Malam sudah pekat. Jam menunjukkan pukul 00.00 tapi aku tetap nekat keluar ijin pada ibu kosku,

“Mba aku ijin mau jalan-jalan keluar bentar yaa”

“Mau ngapain? Udah malem”

“Aku pergi sama teman ku di Sagan” ah aku terpaksa berbohong untuk bisa mendapatkan ijin — “maafkan aku mba” kataku dalam hati.

Aku laju pelan motorku. Tidak ingin cepat sampai kembali ke kos. Aku bahkan tidak tahu tujuanku akan kemana. Ah kemana saja keliling sebentar asal bisa membuat perasaan sedikit terhibur — gumamku dalam hati.

***

Paginya aku mendapat banyak nasehat, padahal mereka yang memberi nasehat tidak tahu pasti apa masalahku. Aku menghargai dan berterimakasih. “…dan itu pasti gakan sesuai dengan hati kamu” — “Jika melambaikan tangan membuat jauh lebih mudah, kenapa gak?” — “Desti Isnawati please this is not absolutely a joke!”

Teman, aku juga berpikir bahkan sangat keras. Jika logika tidak aku pergunakan tidak mungkin aku bisa bertahan sampai aku jujur mengatakannya padamu! Bahkan saat itu sebelum terkatakan logika pun ikut membantu. Kamu bilang jangan slalu menyalahkan diri sendiri, tapi lalu ku rasa memang aku yang salah. Aku anti mengatakan ANDAI dan KENAPA, tapi kali ini biarkan aku mengatakan dua kata itu — andai bukan aku? dan kenapa harus dia? Jangan salah arti, itu bukan aku tidak mensyukuri. Bahkan jika aku tahu itu salah, disaat yang sama aku juga bersyukur.

***

Aku tidak mau jadi orang jahat, maka pilihannya di tanganku.

Terimakasih Sahabat

Sejarah terbuat malam ini.. Kejujuran meluncur setelah banyak pertimbangan. Kawan, sahabat, terimakasih sudah membolehkan saya berkata jujur, dan kamu tidak menghakimi. Amazing, supersonik, hits, histeria, apapun itu MATUR NUWUN teman!! 😀

Nb: maaf kalo kebanyakan becanda, hehee

Catatan Sore

Kejatuhan ditengah pendoktrinan diri akan kalimat — love like you’ve never been hurt. Satu kalimat dari akun mikro blogging membuat hari semakin lemas. Memang sejak awal sadar betul apapun bisa terjadi ditengah sebuah perjuangan menyakini kalimat itu. Jatuh-bangun itu sebenarnya hal manusiawi, dan kini jatuh yang terasa. Tidak ingin berkata — ah sia-sia saja kalau begitu! Optimistik selalu untuk memegang ‘love like you’ve never been hurt’. Tapi kamu tahu, dearyou? Tidak semudah mengucapkannya. Andai kamu mau paham dan mau mengerti,tapi ah sudahlah..

Sebuah kata komitmen yang kamu inginkan, yang kamu harapkan dari dia, tidak menyurutkan aku untuk suatu saat berkata apa adanya. Karna memang sejak awal aku tahu segala konsekuensi yang ada. Tapi kok sakitnya terasa ya? Mungkin aku cemburu, mungkin iya.

Selamat sore dimana pun kamu.