Bercerita: Secarik Surat UntukNya

Antrian masih sangat panjang, apakah orang-orang ini juga memiliki persoalan yang sangat ingin disampaikan langsung padaNya? Sepertinya iya. Aku sabar menunggu giliranku, entah kapan aku akan dipanggil masuk. Ku lihat wajah orang-orang yang sudah keluar dari ruangan itu terlihat lebih ceria dari sebelumnya. Dalam hati aku berkata — aku hanya ingin menyampaikan ini, menyampaikan yang selama ini ingin aku katakan dan belum sempat aku katakan. Aku hanya ingin ini setelah yang lainnya. Menunggu begitu lama membuatku mulai merasa gelisah. Lalu ku buka tasku, ku ambil secarik kertas dan aku mulai menulis. Itu antisipasi jika saja aku tidak bisa masuk menemuiNya langsung.

***

Sudah sangat lama aku menunggu, akhirnya aku maju, ku hampiri wanita di balik meja kerjanya itu lalu aku berkata, “Aku ingin menitipkan ini, tolong sampaikan padaNya. Terima kasih.” Lalu aku pergi.

***
Aku menuliskan surat untuk Tuhan, isinya:
“Tuhan, bisakah kita bicara empat mata saja? Ada yang ingin ku sampaikan, mmm lebih tepatnya aku minta, boleh? Tuhan, aku tahu Kau sibuk dengan segala urusan manusia di bumi ini, banyak doa yang terpanjatkan kepada-Mu tapi hamba-Mu ini hanya minta satu doa kecil saja Tuhan.. Tuhan, Engkau pasti tahu apa yang tidak aku katakan lewat mulutku, Engkau pasti tahu segala isi hati dan pikiranku. Ada satu bagian Tuhan yang selalu ada dalam hati dan pikiranku setiap harinya (tentu saja itu selain Engkau). Dia selalu ada dalam sisi hati dan pikiranku, dia bagai sisi lain dalam diriku yang selalu menyita waktuku 24 jam sehari. Dia (sepertinya) membuat aku jatuh hati ketika pertama ku intip dalam “kotak”. Mungkin itu terdengar aneh Tuhan, tapi aku yakin Engkau sangat mengerti akan itu. Aku tahu Tuhan jika rasa ini (mungkin) tidak boleh, karna keterbatasan yang (mungkin) tak bisa ditembus tapi Tuhan aku masih tidak habis pikir jika yang ku rasakan ini salah lalu mengapa Engkau memberikannya padaku? Tapi Tuhan aku sungguh tidak ingin terlalu mempertanyakan itu, aku yakin pasti ada sesuatu dibalik semua itu. Untuk dia Tuhan aku takut mendefinisikan rasa yang disebut CINTA. Yang aku tahu aku selalu merasakan hal-hal aneh dalam hatiku ketika membicarakannya dan mengingatnya, yang aku tahu setiap kata-katanya terekam jelas dalam ingatanku, yang aku tahu aku setiap hari merindukannya, yang aku tahu aku selalu tersenyum tanpa sebab ketika teringat dia, yang aku tahu aku cemburu ketika dia mulai menuliskan tentang dia-nya di akun itu, yang aku tahu dan aku rasakan semua itu Tuhan.. Tapi aku takut mendefinisikan itu CINTA. Mungkin aku telah jatuh hati padanya. Doaku pada-Mu Tuhan, aku mohon ijinkanlah aku untuk bisa bersamanya, ijinkan aku untuk bisa memperlihatkan rasaku padanya, ijinkan aku untuk bisa menjaganya, ijinkan aku untuk bisa menunjukkan sayangku padanya, ijinkan aku untuk bisa menjadi  alasan dia untuk selalu tersenyum, ijinkan aku untuk bisa membahagiakan dia, ijinkan aku untuk bisa menghapus sedihnya, ijinkan aku untuk bisa memeluknya saat dia rapuh, ijinkan aku untuk bisa selalu mengatakan sayang dengan jelas dan lantang, ijinkan aku untuk bisa mengatakan kangen padanya setiap hari, ijinkan aku untuk bisa selalu ada untuknya 24 jam dalam setiap harinya, ijinkan aku untuk bisa menjadi teman kawan sahabat dan kekasihnya, ijinkan aku untuk bisa masuk ke hatinya dan menyentuh hatinya, buatlah dia menyukaiku sama seperti aku menyukainya, ijinkan lah kami bisa bersama Tuhan.. Aku butuh dia karna aku mencintainya, Tuhan. Walau sekarang aku belum mengatakan rasaku padanya ijinkan lah aku suatu saat nanti bisa menyatakannya padanya apapun keadaannya nanti dan dengan siapapun dia nanti, tapi Tuhan tolong kabulkanlah doaku ini, karna jika memang benar aku menyukai dia aku hanya ingin dia saja, seseorang yang tanpa aku katakan pun Engkau pasti tahu Tuhan. Kabulkanlah doaku, Tuhan.. Aamiin.”

“NB untuk kamu: Aku mungkin gak bisa jadi pensil yang nulisin kebahagiaan untuk kamu, tapi aku mencoba menjadi penghapus yang akan menghapus sedihnya kamu.”

Diakhir surat aku tulis: “Maafkan aku Tuhan jika aku belum menjadi hamba yang taat bagi-Mu, tapi terima kasih banyak Tuhan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s