Bercerita: Bimbang?

Bagaimana jika benar aku salah? Eh tapi kan aku sendiri tidak pernah mendefinisikan rasa. Bahkan terlalu takut. Tapi kan bisa jadi benar aku salah?

***

Dari jendela kamar ku lihat awan berarak, warna biru selalu bisa menenangkan diri. — lambaikan tangan jika itu membuat lebih mudah — lagu BIP mengiringi. Percakapan BBM semalam dengan seorang sahabat membuat berpikir keras. Rasanya betul aku sudah sangat lama berpikir saja, tapi bukan tanpa alasan aku mendengarkan logika ku itu. Dia yg slama ini berperang dengan hatiku, untungnya aku masih waras. Logika ku membuatku tetap bisa berpijak diatas tanah, mempertimbangkan segala hal yang tidak boleh diputuskan, dikerjakan, dilakukan hanya karna rasa nekat saja. Dia memberiku banyak pertimbangan. Bahkan saat aku mengakui kejujuran pada sahabatku logika ku masih membimbingku untuk tetap menganalisis apa yang akan terjadi nanti dan konsekuensinya.

***

Dinginnya malam aku tembus seorang diri diatas motor. Malam sudah pekat. Jam menunjukkan pukul 00.00 tapi aku tetap nekat keluar ijin pada ibu kosku,

“Mba aku ijin mau jalan-jalan keluar bentar yaa”

“Mau ngapain? Udah malem”

“Aku pergi sama teman ku di Sagan” ah aku terpaksa berbohong untuk bisa mendapatkan ijin — “maafkan aku mba” kataku dalam hati.

Aku laju pelan motorku. Tidak ingin cepat sampai kembali ke kos. Aku bahkan tidak tahu tujuanku akan kemana. Ah kemana saja keliling sebentar asal bisa membuat perasaan sedikit terhibur — gumamku dalam hati.

***

Paginya aku mendapat banyak nasehat, padahal mereka yang memberi nasehat tidak tahu pasti apa masalahku. Aku menghargai dan berterimakasih. “…dan itu pasti gakan sesuai dengan hati kamu” — “Jika melambaikan tangan membuat jauh lebih mudah, kenapa gak?” — “Desti Isnawati please this is not absolutely a joke!”

Teman, aku juga berpikir bahkan sangat keras. Jika logika tidak aku pergunakan tidak mungkin aku bisa bertahan sampai aku jujur mengatakannya padamu! Bahkan saat itu sebelum terkatakan logika pun ikut membantu. Kamu bilang jangan slalu menyalahkan diri sendiri, tapi lalu ku rasa memang aku yang salah. Aku anti mengatakan ANDAI dan KENAPA, tapi kali ini biarkan aku mengatakan dua kata itu — andai bukan aku? dan kenapa harus dia? Jangan salah arti, itu bukan aku tidak mensyukuri. Bahkan jika aku tahu itu salah, disaat yang sama aku juga bersyukur.

***

Aku tidak mau jadi orang jahat, maka pilihannya di tanganku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s