Bercerita: A Wedding Day

Sebuah perkataan klise dikatakannya kemarin, dia bilang jika dia harus pergi. Bukan karna dia ingin tapi ini permintaan orang tuanya. Ayahnya meminta dia untuk menikah. Bukan dengan aku, tapi dengan pilihannya. Lantas apakah selama ini kehidupan aku dan dia hanya sebatas ilusi belaka, tak berarti apa-apa? Aku memang kecewa, aku sedih melihat gadisku akan pergi meninggalkan aku di sebuah rumah yang telah lama kami pakai untuk hidup bersama.

***

Aku sendiri tidak pandai bercerita, agak aneh memang bertemu dia yang banyak bicara dan tak pernah berhenti untuk bicara. Tapi aku suka. Padahal itu pertemuan pertama kami, aku yang tenang bertemu dengan dia yang berisik (setidaknya itu kata yang pas buatnya). Tapi sekali lagi aku nyaman. Dia bisa bercerita dari hal-hal yang paling kecil, aku hanya bercerita sesekali jika dia bertanya tapi dia tidak pernah bosan mendengar ceritaku yang sesekali.

***

Saat itu kami sedang menikmati liburan masing-masing di Karimun Jawa. Aku yang sungguh penat dengan rutinitas kerjaku sebagai staff financial di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Pekerjaan yang di depannya hanya ada tumpukan kertas berisi angka-angka, yang harus ku santap SETIAP HARINYA. Perempuan itu, Variska, bekerja di salahsatu majalah traveling di Jakarta. Hobinya memang traveling dan itu pas dengan pekerjaannya. Pekerjaannya membuat dia banyak bertemu dengan orang-orang baru, budaya yang beraneka, kehidupan sosial yang nyata dan beragam, membuat pekerjaannya sangat tidak membosankan. Beda dengan aku. Entah kenapa pertemuan pertama kala itu, disebuah pantai di Pulau Karimun Jawa seakan membuat kami pernah bertemu. Awalnya aku hanya duduk sendiri di pantai, lalu selang 5 menit kemudian seorang wanita datang dan ikut menikmati indahnya malam. Dia menyapaku duluan, kami berkenalan dan mengobrol. Merasakan indahnya pantai di malam yang penuh bintang, tertawa lepas bersama. Tidak sengaja saling menatap dan hal itu pun terjadi begitu saja, membuat malam semakin sunyi.

***

“Bantuin aku pindah kosan donk..”

“Buat apa kamu ngekos, toh kosan itu cuma jadi tempat kamu singgah sementara saja kan?”

“Trus aku harus tinggal dimanaa?” tanyanya dengan nada manja padaku seperti biasa.

“Mmmm.. Kamarku juga udah habis sih bulan depan, gimana kalo kita patungan buat nyewa apartemen?”

“Ide bagus!! Kapan kita cari?”

“Sore ini aku jemput kamu di kantor yaa”

“Iya sayangg..”

Aku hanya tersenyum mendengar tingkah manjanya itu.

***

Aku dan dia tinggal disebuah apartemen yang hanya ada 1 kamar tidur, membayar sewa “rumah” ini dengan patungan kami berdua. Hidupku yang datar semenjak bersama dia semakin berwarna. Dia mengajakku kemana-mana, ke mall, pasar membeli sayuran, ke tempat rekan kerjanya, menemani dia membeli baju, dan hal-hal lain yang sangat jarang aku lakukan saat aku sendiri dengan hidupku yang monoton. Terimakasih Tuhan untuk anugerah indahmu ini.

Malam ini dia berkata,

“Aku sudah harus pergi besok”

“Kenapa secepat itu?”

“Kita kan sudah sering membicarakannya kemarin.. Kamu lupa? Aku sudah menyuruh kamu untuk mulai membiasakan diri tanpa aku.” nadanya datar, namun aku menangkap kesedihan dalam kalimatnya.

“Haruskah kamu menuruti ayah?”

“Sayang.. Kamu tahu kan aku sayang banget sama ayahku, aku sudah berjanji pada diriku apapun keinginannya akan aku wujudkan” dia diam sebentar,
“Walau aku tahu itu harus mengorbankan kita”

Airmatanya mulai jatuh. Ku genggam tangannya, ku peluk dirinya. Gadisku akan menikah dengan pria lain, betapa sedih namun aku bisa apa. Aku menyayanginya dan dia menyayangi ayahnya. Kami melewati malam terakhir dengan amat berat dan dingin, walau aku sudah memeluknya sampai dia tertidur. Namun dia berjanji dia akan menengokku sesekali, meluangkan waktunya hanya untukku.

***

Aku lihat dia dalam busana kebaya pengantin putihnya, cantik seperti biasa. Pria yang menjadi mempelainya seorang yang sama sekali tidak aku kenal, gadisku hanya menceritakannya saja tidak pernah mempertemukan kami. Pria itu adalah anak seorang teman ayahnya. Aku hadir pada pernikahannya, duduk diantara para pager bagus. Aku diminta untuk membantunya, herannya aku menurut saja, maka mau tidak mau aku pun kini duduk di barisan depan penerima tamu, menjadi pager ayu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s