Diam yang Tenang. Bisu.

Kalau kata tak lagi diucap. Mungkin bukan kata itu punah, apalagi tak melintas. Mungkin hanya mulut yang gagu berucap. Mungkin juga jemari yang kian tak lancar mengetik. Mungkin pula tubuh yang tak lagi mau bernegosiasi. Membiarkan kata demi kata ditelan oleh hati. Ditenggelamkan dalam benak yang paling dalam. Tak lagi ingin berceloteh tentang sendu. Hanya mulut yang sedang bisu dan jemari yang gagu. Entah berapa lama benak mampu menyimpan. Ujaran kata yang menumpuk dalam lorong yang paling ujung. Hanya potongan-potongan yang kadang terujar. Meletup sejenak lalu reda. Satu saat hanya ingin diam dalam sunyi yang paling tenang. Tak perlu lagi tempat berlari dan bersembunyi. Tersenyum dalam tenang yang paling sunyi. Seperti karang yang diam, tak goyah menghadapi ombak dalam hitungan tahun. Tak ada emosi. Hanya diam yang tenang. Bisu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s