Bercerita — Coba Mengerti

“Kamu baik-baik aja kan?”

Dia diam. Dia temanku, baru saja patah hati. Patah hati dengan orang yang sama sekali aku gatau rimbanya. Dia hanya menyebut orang itu sebagai ‘diryu’, “sebut saja begitu” — katanya saat aku tanya siapa dia. Entah alasan apa dia memanggilnya seperti itu. Yang aku tahu temanku memang sudah jatuh hati pada ‘diryu’. Aku memang penasaran siapakah dia, siapakah yang sudah membuat temanku sangat jatuh hati, siapa pula dia yang sudah membuat temanku ini menjadi sedih begini. Ah andai aku tahu, aku pasti sudah menemui orang itu untuk memberi tahunya bahwa dia telah membuat seseorang menjadi seperti itu, jatuh bangun tapi tak pernah ingin memaksakan rasanya, ada orang yang darinya (dari ‘diryu’) dia jadi belajar memiliki rasa tanpa menangis (yang padahal aku tahu pasti hatinya pasti terluka, seperti saat ini). Sayangnya aku tak pernah tahu siapa orang itu. Ah tapi buatku, tidak penting siapa orangnya. Aku hanya ingin temanku bahagia, aku tahu pasti dia tahu harus apa. Yang ingin aku lakukan sekarang bukan mengorek lukanya, karna memang aku tahu persis bagaimana rasanya ‘sakit’. Aku tidak mau coba memaksakan bertanya siapa dia, aku akan selalu mendengarkan ceritamu teman, tiak akan memaksakan untuk bertanya: kalau begitu kenapa kamu menyukainya, menanyakan seberapa dalam lukanya, menyudutkannya dengan pertanyaan mengejek seputar patah hatinya. Aku tahu dia memang tidak setegar kelihatannya, aku tahu hatinya bukan benar-benar terbuat dari baja, aku hanya ingin mengerti dirinya. Aku paham, siapa coba yang ingin patah hati, siapa juga yang ingin merasakan ‘jatuh’nya saat memiliki rasa dengan orang lain, siapa sih yang ingin merasakan itu semua. Hari-hari ini aku tahu dia sedang membangun semangatnya dan meredam rasa sakit akibat patah hatinya itu, dan aku tidak mau mengecilkan hatinya. Aku hanya akan berkata — apa kamu baik-baik saja? jangan katakan baik, jika sebenarnya kamu tidak baik, katakan saja tidak dan setelahnya aku tidak akan menanyakan lebih lanjut sampai kamu mau cerita sendiri, tak apa jika aku tak diberitahu siapa orang itu, aku hanya ingin kamu tidak mencoba tegar dihadapanku, aku ingin kamu jujur walau hanya dengan mengatakan “tidak, aku tidak baik. aku sedih.”

***

“Kamu baik-baik aja kan?”

Dan dia hanya diam.

— Terimakasih untuk tidak mengorek perihnya dikala aku sedang membangun benteng pertahanan untuk belajar dan paham dari semua ini. Terimakasih kamu mau mengerti walau kamu tidak tahu pasti siapa dia.

***** end

Cerpen yang terinspirasi dari hari ini. Adakah yang seperti itu? Sayangnya ini hanya percakapan antara aku dan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s