Bercerita — Maafkan Aku Atas Keadaan Ini

“Eh kita jalan-jalan yuk?! Ke sekaten!!”

“Ah tahun kemarin kan udah, tiap tahun pasti sama”

“Kamu tuh ya datar banget sih.. Beda tahun sekarang mah, kan ada kamu”

Aku tersenyum mendengar itu. “Yaudah ayok!”

***

Sekaten, tradisi yang diadakan setiap tahun ketika menjelang atau selama Maulid Nabi. Isinya seperti pasar malam, ada bianglala kecil, gula-gula, lampu warna-warni, tawa ceria, dan tentunya harus tetap hati-hati pada COPET. Aku memang belum mengenalnya tahun lalu, tapi kini dia ada dan kami pergi bersama. Bisa dibilang kami dekat, sedang dekat. Dia baik, hanya saja entah bisa dibilang apakah ini. Embel-embel apapun itu tidak membuat aku pusing, biarkan berjalan apa adanya.

“Aku mau naik itu!” Tunjuk dia ke salah satu bianglala kecil.

Dia menyeret tanganku. Yap tempat itu cuma cukup dinaiki 2 orang. Dia kelihatan senang, selalu tawa yang diperlihatkan. Dan aku selalu suka senyum dan tawanya, selalu.

***

“Kamu kemana? Kok gada kabarnya? Aku bbm gak kamu bales? I miss you already”

Sudah 5 hari ini aku mendiamkannya. Bukan karna aku marah, hanya saja aku ingin menjauh. Bukan tanpa alasan, alasannya adalah karna aku tahu ini sudah tidak sehat dan jika aku teruskan maka entahlah yang terjadi apa. Tapi yang pasti, logika ku berkata bahwa aku tidak akan pernah bisa bersamanya, walaupun aku membutuhkannya. Ingin rasanya aku membalas pesannya itu — I miss you always. Tapi aku harus mampu menahan itu semua.

***

“Maaf kalau aku gak pernah peka. Maaf kalau selama ini ternyata kamu ‘sakit’ menyimpan itu semua”

Tulisnya di akun jejaring sosialnya. Aku memang tidak benar-benar meninggalkannya, tidak benar-benar berhenti peduli padanya. Aku masih peduli, hanya saja aku melihat dari jauh. Maafkan aku juga.

***

Dia itu ceria, dia itu slalu mampu membuat aku tersenyum, juga kecewa. Dia memang banyak disukai oleh mereka-mereka yang aku menyebutnya dewa-dewa dunia, tampan tak tertandingi (maaf lebay, haha). Tapi itu benar, hanya saja herannya dia tidak pernah memilih satu pun diantara mereka. Kami dekat pun tidak tahu awalnya karna apa. Yang aku ingat, aku si pemalu ini sedang asyik duduk sendiri disebuah toko buku tiba-tiba ada yang menghampiri. Sosok indah yang ku kenal adalah teman sekolahku dulu. Dia tenar, aku biasa aja. Ya, semenjak itu kami dekat. Kemana-mana hampir selalu bersama. Mungkin selama itu juga ‘rasa’ itu tumbuh. Tapi aku tidak pernah berani mengungkapkan lewat kata-kata. Aku hanya menunjukkan lewat rasa peduli ku, lewat tindakan ku. Tidak jarang kejutan-kejutan kecil untuknya slalu aku lakukan, itu semua karna aku slalu suka melihat senyumnya. Tidak jarang juga duka menemani kebersamaan kami, saat itu datang aku slalu menghapus titik-titik air di kedua ujung matanya. Ada ‘rasa’ aneh selama menemani perjalanan kami, mungkin lebih tepatnya hanya aku yang rasa. Aku tidak pernah tahu isi hatinya, tapi dia juga tidak pernah keberatan atas kedekatan kami.

***

Aku datang ke kampusnya, hanya saja aku tidak turun, aku melihat dia dari jauh. Sudah sebulan kami tidak bersama, memang seperti ada yang hilang. Dia slalu menghubungiku, telfon, bbm, bahkan main ke rumah. Tapi aku slalu mengacuhkannya. Bukan tanpa alasan, alasan yang tadi aku katakan.
Akhirnya aku turun. Dia sendirian, dia menangis. Lalu seorang pria menghampirinya, mencoba menghiburnya, tapi dia tetap masih menangis. Ah perih rasanya melihat dia menangis, tapi aku belum bisa menghampirinya. Tiba-tiba pria itu mengatakan kalo dia menyukainya. Percakapan selanjutnya tidak bisa aku dengar dengan jelas karna bisingnya suara kendaraan.
Dia menyuruh pria itu pergi. Dia masih menangis dan bersegera pergi. Ah aku sudah tidak tahan, aku hampiri dia.

“Ekhm. Kamu a-pa ka-bar?” Aku terbata!

Dia menoleh. Dia tidak menyahut pertanyaanku. Dia pergi. Aku kejar.

“Maaf, maafin aku!”

“Kamu mau ngapain kesini?! Buat apa?!! Bukannya kamu udah pergi?!” Dia marah.

“Kamu tuh sama aja kaya yang lain! Kamu sekarang datang cuma mau bilang kalo kamu nyesel!? Kalo kamu suka sama aku, hah?!! Kamu tuh sama kaya yang lain, coba buat ambil kesempatan dalam kesempitan! Kamu nyuekin aku, lalu tiba-tiba datang buat bilang itu semua kan?! Kamu jahat!!”
Tangisnya membuncah.

Aku langsung memeluknya. Erat. Dia meronta, tapi tidak aku lepaskan lagi.

“Maafin aku, kalau aku memang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan mungkin itu sudah aku lakukan sejak dulu! Tapi aku tidak melakukan itu, karna aku terlalu takut. Lagi pula aku gak pernah mau maksain, kalo kamu gak suka atau gak mau aku gak akan mau maksain.”
“Maafin aku kalau nyuekin kamu. Aku punya alasan untuk itu. Aku takut aku terbuai, sedangkan aku tahu kamu gak akan pernah bisa dimiliki walaupun aku sebenarnya butuh kamu. Aku gak pernah mau maksain rasa ku kalau kamu gak mau dan bukan rasa dariku yang kamu harapkan. Aku gak pernah mau maksain itu, aku menghormati setiap yang kamu putusin. Maaf kalau aku sayang kamu. Maaf.”
“Menangislah jika itu bisa ngebuat kamu lega. Aku tidak ingin menanyakan kamu kenapa sekarang. Menangislah jika bisa membuat lega.”

Dia tidak meronta lagi, dia masih menangis dalam pelukanku dan menyambut pelukanku juga. Saat tangisnya reda, aku usap bulir itu.

“Aku anter pulang yaa”

Dia mengangguk dan tersenyum. Aku genggam tangannya, dan mengantarnya pulang.

“Tuhan, bolehkah kami bersama? Aku butuh dia.” Kata ku dalam hati.

——————–
Ala-ala sinetron gini sih ceritanya -__-” Kontaminasi sinetron dimana-mana, hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s