Bercerita — Aku Ingin Seperti Bumi

Seperti bumi yang tak pernah takut mengatakan cintanya dengan tegas pada seisi dunia maya. Menyebutkannya dan menyebarkan bahagianya pada seantero dunia. Dia tidak takut. Dia tidak ragu. Karna memang bukan sebelah tangan yang di dapat, jabatan tangan erat yang dia genggam. Bukan sebuah rasa yang hanya dia yang tahu, bukan sebuah rasa yang dia tutupi karna takut akan ada jarak darinya jika ia katakan. Bumi berani karna dia tahu itu bukan sebelah tangan. Bukan bermain judi. Sekarang bumi bahagia, dengan hidupnya dan hidup dengannya.

Bercerita — Reinkarnasi

Besok aku akan hidup dengan keadaan baru. Dengan tempat baru. Ku harap kamu masih disitu. Karna saat itu, aku bisa datang kepadamu tanpa cela malu-malu. Apalagi takut. Dengan lantang kan ku katakan — temani aku di setiap 24 jam 86400 detik setiap harinya, berjalan lah dengan ku menyusuri setiap naik turunnya hidup sambil saling berpegang dan menopang, jadilah salahsatu alasan aku sangat bahagia hingga senyum dan tawa yang terus terkembang, berilah aku kesempatan untuk bisa menuliskan bahagiamu dan menyeka sedihmu walau dalam ketidaksempurnaan ini, ijinkanlah aku untuk memberikan rasa yang walau tidak sempurna tapi aku mau dan akan berusaha yang terbaik untuk aku untuk kamu untuk kita, di setiap harinya.

Saat reinkarnasi itu tiba, aku harap kamu masih disitu. Dan kan ku perjuangkan kamu tanpa malu-malu, tanpa rasa takut.

Mungkin Begitu Kata Tuhan

Berjalanlah sampai jauh, sampai mungkin yang kamu hadapi hanya tembok. Lalu jangan berhenti. Cobalah panjat tembok itu.

Sekali…Dua kali…Tiga kali.

Lagi…Lagi…dan lagi.

Lalu ketika kamu lelah, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk ada di situ. Berdiri dan mencoba mendorong kamu dari bawah untuk melompati tembok itu. Jadi, cobalah. Saya ada. — Mungkin begitu kata Tuhan. Saya percaya.

Kelu

Saya hanya ingin menuliskan larik-larik sederhana. Hanya ingin sejenak berbagi tentang apa yang tak bisa diujarkan. Tapi kata demi kata seperti tertahan di kepala. Menyisakan jemari yang kelu dan mata yang menatap lama ke layar monitor. Hanya rasa yang berteriak dalam bisu. Mungkin ini rindu, sebatas itu kata yang mampu diujarkan. Lalu, saya tak tahu. Karena bahkan lidah pun kelu untuk sekedar menguntaikan kata demi kata. Lalu saya di sini, berkutat dengan rasa dan pikir di kepala.