BERCERITA — Untuk Kamu

Kamu berhak bahagia, dan aku pun begitu. Melihat teman-temanmu sudah banyak yang menikah membuatku berpikir, apakah aku mau menjadi orang jahat yang bakal merusak bahagiamu? Jawabannya: TIDAK. Aku tahu keinginanku bersamamu sama seperti aku tidak ingin merusak kebahagiaanmu (jika suatu hari nanti kamu telah menemukan orang yang tepat untuk bersanding denganmu). Lalu akal sehatku berkata dan bertanya pada diri sendiri: apakah kamu mau menjadi orang jahat yang bisa saja merusak bahagianya? Dan akal sehat serta nuraniku menjawab: aku tahu dan sadar betul seharusnya ini tidak boleh terjadi, hal yang menurut sebagian pasti akan berkata salah. Di dalam bahagiamu (jika suatu hari akan datang waktu kamu bersanding dengan orang yang kamu pilih dan orang yang memilih kamu) ada bahagia mamah dan papahmu juga, dan sungguh aku tidak ingin merusak itu.

Sadar bahwa suatu hari akan datang masa dimana kamu akan bersanding di pelaminan, disaat yang bersamaan aku juga pasti rapuh. Aku menutupinya dengan senyum. Sebagai manusia yang memiliki ego, keinginan tersendiri sekaligus akal pikiran dan hati nurani, peperangan antara — aku ingin bersama kamu, aku hanya inginnya kamu VS rasa yang kamu rasakan itu kata sebagian orang salah, dia telah menemukan pasangannya dan pasangannya memilih dia. Dia bahagia, dan aku tidak ingin merusaknya (karna ingat di dalam bahagianya ada bahagia kedua orang tuanya). Lalu (mungkin) aku mengambil jalan tengah, suatu hari jika dia telah dengan siapapun itu, aku hanya ingin mengatakan apa yang selama ini dirasa, aku ingin jujur pada dia dan at least pada diri sendiri. Niatku hanya ingin mengungkapkan saja, menyatakan kalo ada kupu-kupu di dalam yang ingin membuncah keluar. Tanpa berniat aneh-aneh.

Jika hari pernyataan itu datang, aku sudah tidak peduli apakah nantinya kamu akan menjauhiku dan memberi jarak, karna saat itu datang berarti aku sudah siap dengan segala risikonya, walaupun sudah bisa dipastikan hatiku yang (kataku) terbuat dari baja bakal mringis lagi. Akankah kamu membaca ini suatu saat nanti? Akankah kamu tahu aku menyukai kamu dengan segala konsekuensi yang ada (bahkan itu banyak menyakiti hati dan diriku sendiri)? Apakah kamu bahagia sekarang (dengan siapa pun kamu saat ini)? Aku suka kamu apa adanya tanpa tahu kenapa, mulai darimana dan bagaimana. Bolehkan lah aku selalu memanggil namamu dalam hati dan menyimpannya. Terimakasih buat semua baiknya kamu. Maaf jika aku salah.

——-

Selesai mengetik pada postingan blog. Ragu menyergap, haruskah meng-klik ‘publish’ atau ‘save draft’.

“Ah gue bingung!” batin gue.

Tanpa banyak cangcingcong gue isi kolom title, dan gue klik publish.

“Ayok makan, cuy!” teriak mamah dari bawah

“Iya mah!”

Gue matiin laptop, dan turun ke bawah. Tersenyum. Ragu. Biarlah. Bismillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s