Akankah Kamu Mengerti?

Akankah kamu mengerti? Ketika setiap peluk tak tersampaikan. Setiap senyum digantikan tatapan tajam. Setiap ujar digantikan dengan bisu yang senyap.

Akankah kamu mengerti? Ketika setiap rasa diucap dengan nada-nada datar. Ketika setiap rindu dibungkus dingin yang beku.

Akankah kamu mengerti? Ketika tak ada ruang yang dibiarkan ada untuk sekedar menyentuhkan jemari. Ketika setiap cakap tak pernah pecah menjadi obrolan panjang. Ketika setiap senyum masam tak pecah menjadi gelak tawa.

Mungkin tidak. Saya mengerti. Tidak apa-apa.

Maka Berjuanglah

Terlambat. Mungkin begitu. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk tetap dan terus berjuang. pasang saja kacamata kuda, agar tidak melihat kiri dan kanan, melihat hanya ke depan. Pasang saja headset di telinga, agar tidak mendengar nada-nada sumbang dan cibiran. Hidup sudah sulit, maka akan lebih sulit jika sibuk mendengarkan apa kata orang. Maka berjuanglah, buat diri bangga, buat mereka tersenyum lega. Maka berjuanglah. Walau mungkin sudah terlambat beberapa kali. Tapi pastikan ini yang terakhir. Yakinkan. Berusahalah.

Bacalah

Bacalah mataku, maka kamu tak kan menemukan kebohongan.
Bacalah sikapku, maka kamu akan tahu seberapa besar peduli ku.
Bacalah hatiku, maka disitu kamu tahu dimana kamu berada.

Maukah kamu bertanya? Maka aku akan menjawab tanpa kebohongan. Maukah kamu memberi kesempatan? Maka aku akan berusaha.
Maukah kamu membaca? Maka disitu kamu akan paham, setiap kata disini untuk siapa.
Maukah?

Tuhan, hapus sedihnya. Ganti dengan sebuket penuh keranjang senyum, nanti, setelah sedihnya Kau hapus. Aamiin.

— sepagi buta terbangun pada pkl 02.00, melihat lini masa dan mendapati dia sedang sedih. Aku akan baik-baik saja jika kamu baik-baik juga disana. Begitu pun sebaliknya.

Aku Bergumam

Tidak pernah kamu sadari kah, jika kata ku keluar berarti aku rindu? Berarti aku ingin punya kesempatan untuk berbicara panjang. Mengobrol. Namun aku pun tidak pernah untuk memaksakan. Karna memang ketika kata mu sedikit, aku bahkan bingung untuk melanjutkan. Karna di setiap tanya ku, hanya ada jawab mu, mungkin kamu sedang sibuk, mungkin kamu sedang tidak bergairah, atau bahkan mungkin kamu sedang tidak ingin diganggu. Lantas, kapankah katamu berujar panjang padaku? Tak hanya aku tanya dan kamu jawab. Tapi tidak lah sepantasnya aku mengeluh, karna memang aku tak pernah tahu. Mungkin hidup akan lebih baik jika peduli dikurangi. Tapi apa aku bisa? Ah sudahlah jadi baik saja, tak perlu banyak tanya kenapa. Karna hanya luka yang ada nanti. Aku tidak akan pernah berhenti berdoa untuk setiap baik ku, baik mu. Semoga Tuhan melembutkan dan meluluhkan hatimu.

Mungkin

Mungkin hanya semak belukar di depan mata. Tapi kalau kamu tidak pernah membiarkan kakimu menapak, kamu tidak akan pernah tahu ujungnya.

Mungkin kamu akan menemui ujung-ujung yang buntu. Tapi kamu tak akan pernah tahu itu jalan buntu jika kamu tak pernah menyusurinya.

Mungkin kamu akan menemui pintu-pintu yang ditutupkan di depan wajah. Tapi selama kaki terus melangkah seharusnya kesempatan masih ada.

Mungkin waktu terkadang tidak berpihak. Tapi tak ada yang pernah tahu kepada siapa nanti akan berpihak.

Mungkin berlian tak pernah ada kalau intan dilemparkan begitu saja.

Mungkin kini tak akan begini jika tak ada dulu yang begitu.

Mungkin ini hanya sederet mungkin di kepala. Karena pasti? Mungkin tak ada yang tahu.