Rasa

Dia berdiam di situ. Di antara sajak-sajak bisu yang dibisikkan pada malam. Di antara bulan-bulan yang habis berganti terang. Di situ dia berdiam.

Di antara riuh yang tak henti. Di antara sorak yang pecah diiringi tawa berderai. Bersama tabuhan genderang yang riang dipukul. Di situ dia memandang.

Di balik setiap bayang. Di antara setiap keluh. Di belakang setiap langkah yang tertatih. Di situ dia berdiri dalam tenang.

Diam dalam ketenangan, memandang dari kejauhan. Untuk sebentuk rasa yang diam tenang. Sesuatu yang menjadi gumpal merah muda di sana. Diujar namun seperti tak ditakdirkan mempunyai rupa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s