Mengertilah

Kenapa harus ada kenapa? Kenapa ini? Kenapa itu? Kenapa begini? Kenapa begitu? Kenapa gak gini? Kenapa gak gitu? Kenapa?

Kenapa menggantungkan obrolan? Kenapa gak bilang kalo ‘Aku lagi sibuk ngobrolnya nanti aja ya’? Kenapa gak bilang ‘Hp ku lowbath nih ngobrolnya dilanjut nanti ya’? Atau bahkan kenapa gak bilang ‘Kamu nanya apa sih? Ngobrol sama kamu tuh gak jelas, aku males!’? Bahkan jika bilang itu semua pun aku mau mengerti. Tapi tidak digantungkan, obrolan tidak disahut *tertunduk sedih*

Tapi aku paham, aku sadar, bahwa setiap orang punya hak jawab untuk tidak menjawab. Sama halnya ketika orang mempunyai hak untuk tidak membalas BBM. Membuat diri mengerti itu semua menjadi sulit ketika ingin mengobrol panjang 😦 Ketika obrolan tidak tersahut pun aku mencoba mengerti dan menenangkan diri sendiri sambil berkata — dia sedang sibuk, sudah jangan ganggu.

Sedih rasanya ketika obrolan tidak tersahut, padahal jarang untuk bisa punya obrolan panjang. Makanya untuk meminimalisir rasa kecewa adalah meninggalkan ‘D’ sebelum menjadi ‘R’. Padahal dengan mengobrol via BBM saja aku sudah senang, padahal dengan hal kecil dengan sebuah sapaan duluan saja sudah membuat aku senang, tapi sayangnya dia gak lihat itu semua.

Kenapa harus sedih? Kenapa harus kecewa? Bukankah semuanya manusiawi? Bukankah luka saja ada obatnya? Diri, tolong mengertilah, uapkan saja kangen itu, uapkan saja rasa sedih itu, uapkan saja. Mengertilah bahwa setiap orang punya hak jawab untuk tidak menjawab. Mengertilah bahwa kamu bukan siapa-siapa diri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s