Menyerah

Aku menaruh titik pada akhir kalimat, sebagai tanda bahwa telah usai. Lalu aku mengawalinya lagi dengan huruf besar. Menyerah. Begitu bunyinya. Getarnya sangat lemah, melihat realita yang ada. Karna rasa itu hanya aku yang rasa, dan dia tidak. Aku mengerti, apa arti aku untuknya. Maka aku ingin berusaha bahwa semua baik-baik saja, tak ada hati yang luka. Walau sebenarnya ada goresan luka. Aku ingin menyayangi hatiku lebih dari sebelumnya. Tidak ingin membiarkannya terluka lagi. Mungkin begitu.

Lalu akan dikemanakan rasa yang ada? Aku simpan saja, dalam kotak aman bersama kenangan. Aku pelihara getar lemah ini jauh di dalam sini, dalam hati. Biar aku duduk tenang melihat saja dari jauh, memperhatikan dalam diam. Mendoakan setiap baikmu. Menanyakanmu lewat Dia. Menyampaikan rindu lewat doa. Aku paham, apa artiku dimatamu. Maka aku pun membawa diri menjadikan peranku tak terlihat. Karna memang sejak awal aku tidak kamu lihat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s