Bercerita — Harus Apa?

Who will be the one to listen when it’s time to listen? Who will be the one to miss you when you’ve gone missing? Well, I do.

***

“Ayo rombongan segera naik bus!” teriak tour guide kami.

Semua rombongan segera menaiki bus pariwisata yang akan membawa kami menuju Bali. Ya, kali ini saya benar-benar akan liburan. Kenapa gak naik pesawat? Pasti pertanyaan itu muncul. Untuk kali ini saya lebih memilih ikut tour melalui jalur darat, walau memang perjalanannya sangat panjang, malam ini berangkat baru sampai Bali pada lusa pagi. Saya tidak mau melihat rundown yang diberikan oleh tour guide, buat apa toh saya juga akan melaksanakannya. Entah itu benar mengikuti ataukah saya langgar, ah urusan nanti. Udara malam ini cukup dingin, ditambah nanti dinginnya AC bus selama perjalanan, saya sudah siap dengan peralatan dingin saya. Ah untungnya saya satu bangku dengan orang yang tidak mengganggu, kami hanya mengobrol sesekali lalu memutuskan untuk saling diam dan bersiap tidur. Saya belum sepenuhnya ingin tidur, saya alihkan pandangan menuju luar jendela, gelap pekat yang ada hanya lampu kendaraan sesekali.

***

“Kamu harus berhenti”

“Kenapa?”

“Kamu harus menetralkan perasaan kamu”

“Kenapa?”

“Kamu gak paham kalo semua sia-sia? Trus emang pada akhirnya kamu akan sama dia?”

“….”

“Kamu harus mencari bahagia kamu sendiri”

“Tapi aku sayang sama dia. Kalau aku berhenti, kalau aku menetralkan, masih boleh gak untuk tetap peduli kalau di sedang sedih, kalau dia sedang galau, kalau dia butuh seseorang?”

“Gak, gak boleh. Netral kan perasaan kamu!”

“….”

“Kamu gak boleh kaya gini. Gak usah mikirin dia lagi. Cobalah jadi biasa”

“Tapi kenapa? Tidak boleh kah aku melakukan semua yang ku katakan tadi hanya dari jauh? Memang tidak akan banyak kata dan sapa yang akan keluar lagi, tapi tidak boleh kah aku untuk tetap melakukan itu semua pada dia, untuk dia?”

“Kamu harus bisa. Kamu harus mampu. Sugestikan diri kamu”

***

Bus mulai memasuki pelabuhan Ketapang. Satu persatu kendaraan masuk ke dalam kapal, parkir berjejer rapih. Kami semua turun, jam tangan saya menunjukkan pukul 02.00 WIB. Udara dingin begitu menyelekit tulang, saya rapatkan jaket saya. Saya naik ke dek atas, disana sudah berjejer orang yang duduk dan tidur-tiduran di kursi yang ada. Saya memilih duduk di pinggir tangga naik. Melihat ke arah laut luas yang gelap, hanya ada lampu kelap-kelip dari sisi pelabuhan. Saya mulai memainkan kamera mencoba menangkap gambar dari kelap-kelip itu. Kapal melaju, perlahan memutar dan mulai meninggalkan Ketapang.

***

“Kadang dia menyenangkan dan sweet. Tapi kadang dia dingin. Aku gak ngerti sama apa yang aku rasa, semua terasa absurd. Hal kecil tentang dia membuat senang, tapi kadang sedih juga datang. Terkadang cemburu pada mereka yang akrab dengannya, padahal pun aku tidak tahu itu siapa. Rindu, bisa datang di setiap hari yang ada. Berjuang meredamnya karna memang mungkin rinduku dan rasaku bukanlah hal yang diinginkannya. Dia mungkin menginginkan itu semua dari orang lain, bukan dari aku. Aku pernah mengetahui sebuah nama, dia baik padanya. Tapi suatu hari dia berkata padaku kalau dia pernah berkata pada orang tersebut kalau dia dan orang itu tidak bisa bersama. Saat itu aku memang tidak percaya sepenuhnya, karna memang isi hati siapa yang tahu”

“Lalu?”

“Entah, nalarku berkata: dia baik karna aku baik. Dia baik. Sangat baik. Tapi memang sepertinya rasanya bukan padaku dan bukan untukku. Dia bilang ini semua rumit, bahkan dia pun mengakuinya jika ini rumit. Walau saat itu aku bercerita menyamarkan subjeknya, dan dia bilang ini rumit. Terlebih lagi, aku memang belum bisa berdiri diatas kaki ku sendiri, itu yang membuat aku minder.”

“Minder kamu itu gak pada tempatnya. Kamu bisa seperti mereka yang sedang berusaha mencuri perhatiannya, hanya saja ini belum giliran kamu, kamu belum menjadi seperti mereka. Maka dari itu kamu harus berusaha dengan usaha dan cara kamu sendiri untuk bisa berdiri di atas kaki kamu sendiri. Tapi….”

“Tapi apa?”

“Tidak kah kamu mau menyerah saja? Letting go doesn’t mean you’re giving up, that makes you strong and growing up. Bukankah kamu gatau ujungnya? Atau sudah tahu, kan?”

“Pada akhirnya memprediksikan hal terburuk sudah bisa diprediksi. Tapi, bolehkah aku hanya sekedar bilang kalau aku sayang dia dan punya rasa padanya? Tidak ingin mengharapkan jawaban apa-apa, berharap lebih pun tidak berani. Hanya sekedar bilang. Boleh kah?”

***

Hari pertama di Bali, kami menginap di Jalan Raya Kuta. Entah dekat dengan pantai Kuta ataukah jauh. Saya berjalan-jalan sebentar selepas mandi. Waktu menunjukkan pukul 10.00 WITA, dekat hotel ada nasi pedas bu Andika. Saya tidak suka pedas, tapi entah kenapa sejak mengenalnya saya jadi akrab dengan rasa itu. Mungkin juga rasa pahit, dan perih. Saya hanya menghabiskan separuh. Untuk berjalan sendirian di malam seperti ini rasanya kurang aman, apalagi jalan sudah mulai sepi. Saya putuskan untuk kembali ke hotel setelah makan malam.


“Hari ini kita akan berkunjung ke Tanah Lot …”

Kata-kata guide tidak saya dengarkan sepenuhnya. Saya mengarahkan pandangan keluar kaca mobil, jalanan macet memang katanya Bali yang sekarang sudah hampir mirip dengan Jakarta, macet.

Setibanya di Tanah Lot saya berpisah dengan rombongan, saya memang lebih suka menyendiri. Ini pun mengikuti travel agent karna saya memang tidak punya waktu banyak untuk menyiapkan sekedar backpacker. Baiklah, liburan saya ini adalah bisa dibilang rencana ‘minggat dari penat’. Saya mulai melihat-lihat yang ada, membidik gambar lewat mata kamera, jepret sana jepret sini. Saya teringat lagi akan malam itu:

“Kamu dimana?”

BBM saya hanya di ‘R’ kan, tidak tersahut.

“Sudah baik kah moodnya?”

Kali ini ada balasan ‘writing message’:

“Sudah. Habis karaoke dengan teman-teman kantor, bikin plong”

“Baguslah. Lihat display pict BBM aku buat kamu. Hopely your mood getting better ya.”

“Thanks dear *emot hug*”

“*emot senyum*”
“Aku tidur duluan ya”

***

“Dia sakit. Dia di opname.”

“Iya, aku tahu. DBD right?”

“He’eh. Padahal dia baru pulang liburan. Sedih.”

“Aku ikut doain semoga dia cepet sembuh. Kamu jangan sedih yaa. Jangan terlalu mikirin juga.”

“Iya. Dia di RS ditungguin sama orang yang baik kok, aku tahu orang itu ya walaupun gak kenal personal. Orang yang kadang bikin aku cemburu. Yang penting dia cepat sembuh”

“Udah gak usah dipikirin.. Doain aja cepet sembuh”

“Iya pasti dong *emot senyum*”

***

Bersiap untuk naik flying fish di Tanjung Benoa. Ramai. Saya yang takut ketinggian mencoba memberanikan diri naik flying fish. Untuk menghilangkan sesak tepatnya, dan mencoba hal baru tentunya. Bersiap.


“Silahkan ambil tempat untuk makan siang.”

Makan siang dipinggir danau Bratan, Bedugul, udara sejuk terasa. Saya memilih meja yang menghadap ke arah danau.

“Boleh ikut duduk?” tanya seorang perempuan pada saya. Perawakannya tinggi dan semampai, dengan rambut panjang terurai.

“Cantik” batin saya.
Lalu saya menjawab, “Silahkan”

“Dari kemarin kayanya gak gabung dengan rombongan?”

“Eh maaf, kesannya sombong kah? Maaf jika terkesan begitu. Tidak ada maksud.”

“Hahaa” dia tertawa kecil
“Gak sih, cuma kelihatan agak murung aja. Bukannya ini liburan ya? Harusnya kan senang.”

“*senyum simpul* Jujur, ikut ini karna ingin minggat dari kepenatan, tapi disini malah menyendiri kalau gitu gausah aja ikut travel agent yang rombongan gini ya. Lucu ya?”

“Ooh.. Iya sih, kalau gitu mending sendiri aja. Pasti kamu gamau repot ya?”

Saya mengangguk.

“Oiya nama saya Kinar.”

Gantian saya yang memperkenalkan diri.

***

“Aku tahu banyak orang yang mempesona, kadang memang tergoda, tapi aku buru-buru bilang di otak aku: cuma dia yang mempesona cuma dia yang mempesona. Kamu tahu kan kalau aku ini gak neko-neko? Ya buat dia aku ini pasti terlalu sederhana dan biasa, sedangkan mereka yang mencoba menarik perhatiannya jauh lebih kece. Tapi aku mau setia sama dia.”

“Buat apa? Toh kamu kan gak bisa sama dia, kan? Kamu sadar, kan?”

“….”

“Ayolah, jadi biasa aja. Jangan terlalu peduli pada dia. Memposisikan kadarnya menjadi biasa. Toh dia juga gakan kehilangan banyak perhatian dan rasa peduli dari yang lain. Kamu kan yang bilang kalau kamu ingin dia bahagia dengan siapa pun dia nanti?”

“Iya. Aku gak pernah lepas menyelipkan doa itu juga. Walau aku bukan bagian dari bahagianya. Aku kadang gak paham sama Tuhan, kenapa begini? Tuhan ingin aku belajar, aku tahu itu. Tapi boleh kah aku diberi kesempatan kali ini untuk bisa bersama dia?”

“Hey! Aku juga mau kamu bahagia, Kak. Makanya aku bilang kaya gini. Hal itu akan menjadi sulit untuk dijalani nantinya. Makanya berhentilah”

“Aku gak boleh peduli lagi sama dia?”

“Iya. Tapi kamu gak usah mikirin banget banget. Nanti kamu sakit”

“Bahkan sekarang aku udah sakit. Kenapa gak terlanjur basah aja? Pertanyaanku waktu itu belum kamu jawab, boleh kah aku hanya sekedar untuk bilang padanya?”

***

Sekarang kami ada di pantai Kuta, menunggu senja di pantai yang memiliki garis pantai panjang. Kinar disebelah saya, semenjak mengobrol di danau Bratan kami jadi akrab. Entah dia bosan dengan saya yang agak kurang excited atau tidak, tapi dia tetap mau menemani saya. Dia baik.

“Apa yang lagi kamu pikirin?”

“Mmmm gada..” saya bohong.

*Jepret* Suara kamera* Kamera saya bidikkan ke wajahnya. Wajahnya bermandikan sinar senja.

“Cantik” lagi lagi saya berkata dalam hati. Buru-buru saya hilangkan pikiran itu.

Dia tersenyum.

“Ayo foto aku disana!”

Dia menyeret tangan saya untuk mendekat ke pantai. Saya bidikkan kamera ke arah dia yang sudah bergaya macam-macam. Dia tertawa. Senja mulai pekat. Kami duduk di pinggir pantai, riuh ombak menemani.

“Ini ketenangan yang aku butuhkan. Melihat senja, tenang duduk dipinggir pantai. Aku lelah. Benar lelah. Sebegini capeknya kah menyayangi seseorang? Sebegini sulitnya kah?” Saya menghela nafas.

“Kamu capek ya? Aku mau ada untuk kamu kalau kamu capek. Aku mau menawarkan bahu untuk sekedar bersandar.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s