Hanya Ingin Kamu Tahu

Saya tidak tahu apa yang mesti saya tuliskan. Berkali-kali saya mencoba menderetkan kata, namun akhirnya dibuang dari kepala. Larik-larik kalimat yang luruh sebelum sempat terangkai menjadi paragraf. Saya tidak tahu. Tapi saya hanya ingin menulis. Tulisan yang kesekian, hanya ingin kamu tahu.

Mempercayakan Barang

Mmmm sebenarnya meminjamkan sesuatu kepada orang lain memang gada salahnya sih yaa, tapi kadang saya berpikir apakah orang yang saya pinjamkan barang tersebut akan sama seperti saya menjaganya? Hmmm karna apa? Karna pagi ini charger smartphone saya rusak 😦 Gak bisa dipakai untuk mencharge BB 😦 Padahal kemarin dia sehat wal’afiat, sampai akhirnya ada yang pinjam, dan ternyata sudah tidak berfungsi 😦 Saya yang orangnya gak enakan jadi kelabakan sendiri mau minta tanggungjawabnya. Gak enak. Tapi saya juga dirugikan… Ahhh… Kalo udah gini nih nyebelin bangeettt 😦 Saya mempercayakan barang saya yang mau dipinjam, tapi kadang setelahnya malah dikecewakan. Hmmm.. Tolong dong jaga baik-baik barang yang bukan milik sendiri..

Jadi saya mesti gimana??? 😥

Away

Mungkin…Hanya suatu kemungkinan. Ini adalah lambai yang terakhir. Khawatir, resah, tanya, habis. Percaya? Apa lagi yang ada jika yang kamu lihat hanya tembok besar yang dibangunkan di depan wajah?

Kamu tahu siapa yang penting, siapa yang tidak. Kamu tahu siapa yang layak dan siapa yang tidak. Tapi terkadang sesuatu yang kamu pentingkan ternyata tidak menginginkan itu. Lalu kamu? Mungkin hanya perlu pergi sejauh yang kamu bisa. Karena mungkin itu yang diinginkan sesuatumu itu. Musnah.

Habis, Musnah

Kalau satu hari dia pergi, akankah kamu mencari? Akankah kamu berlari dan mengejar? Akankah kamu memilih diam dan membiarkan?

Katanya kadang orang memilih pergi karena dia ingin tahu apakah dia akan dikejar dan dipertahankan. Tapi sesungguhnya mungkin yang terpenting adalah apa yang ada di dalam hati yang ditinggalkan. Untuk apa mengejar jika tidak menginginkan? Untuk apa mempertahankan jika untuk disia-siakan? Mengapa diam jika tidak ingin kehilangan? Mengapa tidak berlari mengejar jika memang yang pergi adalah dia yang penting?

Sesungguhnya mungkin apa yang dipilih oleh dia yang ditinggalkan adalah nilai seseorang yang memilih pergi. Alasan terlalu baik, tidak layak, tidak pantas, dan hal-hal senada mungkin terlontar. Tapi sungguhkah orang akan melepaskan seseorang yang penting tanpa membuat orang itu tahu dia penting? Lalu bagaimana seseorang tahu dirinya penting ketika dia tidak pernah dipertahankan untuk tinggal? Sebenarnya mungkin siapa yang dipilih untuk diinginkan tinggal adalah yang terpenting. Karena bukankah itu berarti apa yang dipilih adalah apa yang tidak bisa dilepaskan? Apa yang dibutuhkan untuk bertahan, apa yang diinginkan ada untuk melewati hari demi hari.

Lalu satu hari, dia pergi. Tidak berbalik. Tidak pernah teraba kembali keberadaannya. Tak pernah ada, seperti ilusi yang pernah terasa nyata. Habis, bersama napas terakhirnya. Tidak pernah kembali lagi.