Suatu Hari

Hari itu peluru menembus dadanya. Namun dia tidak mati. Tidak juga rebah ke tanah. Hanya luka menganga dan darah yang menetes membasahi tanah.

Hari itu di berlari tapi tidak pergi. Hanya derap langkah dan ayunan lengan untuk meluapkan gundah. Mencoba berbalik dari kenang.

Hari itu tidak ada isak. Hanya bibir yang dikatupkan dan seulas senyuman. Hanya rahasia di dalam hati.

Hari itu tak ada kesah yang dimuntahkan keluar. Hanya gelas-gelas yang bertukar dan minuman yang mengalir ke kerongkongan. Hanya isi perut yang terlontarkan keluar; muak pada manis yang memabukkan.

Hari itu dia sendiri. Berdiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s