Habis, Musnah

Kalau satu hari dia pergi, akankah kamu mencari? Akankah kamu berlari dan mengejar? Akankah kamu memilih diam dan membiarkan?

Katanya kadang orang memilih pergi karena dia ingin tahu apakah dia akan dikejar dan dipertahankan. Tapi sesungguhnya mungkin yang terpenting adalah apa yang ada di dalam hati yang ditinggalkan. Untuk apa mengejar jika tidak menginginkan? Untuk apa mempertahankan jika untuk disia-siakan? Mengapa diam jika tidak ingin kehilangan? Mengapa tidak berlari mengejar jika memang yang pergi adalah dia yang penting?

Sesungguhnya mungkin apa yang dipilih oleh dia yang ditinggalkan adalah nilai seseorang yang memilih pergi. Alasan terlalu baik, tidak layak, tidak pantas, dan hal-hal senada mungkin terlontar. Tapi sungguhkah orang akan melepaskan seseorang yang penting tanpa membuat orang itu tahu dia penting? Lalu bagaimana seseorang tahu dirinya penting ketika dia tidak pernah dipertahankan untuk tinggal? Sebenarnya mungkin siapa yang dipilih untuk diinginkan tinggal adalah yang terpenting. Karena bukankah itu berarti apa yang dipilih adalah apa yang tidak bisa dilepaskan? Apa yang dibutuhkan untuk bertahan, apa yang diinginkan ada untuk melewati hari demi hari.

Lalu satu hari, dia pergi. Tidak berbalik. Tidak pernah teraba kembali keberadaannya. Tak pernah ada, seperti ilusi yang pernah terasa nyata. Habis, bersama napas terakhirnya. Tidak pernah kembali lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s