Journey To The East, Mount Rinjani 3726Mdpl

Hay lama gak nulis disini, setelah turun gunung dan mencari wangsit saya mau kembali bercerita tentang pengalaman spektakuler dan pertama kalinya naik gunung. Heran? Saya juga. Hahaha.

Saya mendapat ajakan naik gunung dari teman saya Wisnu, dia mengajak saya sekitar 1,5 bulan sebelum keberangkatan. Dan tidak tanggung-tanggung, dia mengajak saya untuk hiking ke Rinjani. Yap, Rin-ja-ni, yang katanya gunung tertinggi ke-2 di Indonesia setelah Gunung Jaya Wijaya di Papua. Ketinggiannya mencapai 3726 Mdpl, tinggi sekali buat saya *yaiyalah, hahaa* Sebelumnya saya coba meminta izin pada mamah saya dulu, dan diluar prediksi saya ternyata mamah tidak membolehkan saya untuk hiking. Diucapkannya dengan tegas: GAK BOLEH. Tanpa saya diberi penjelasannya kenapa. Saat itu saya pikir yah sudahlah. Wisnu masih mengajak saya dan Eriana, teman saya satunya, untuk kembali ikut hiking. Saya pun kembali menanyakan kepada mamah, dan lagi lagi jawaban penolakan yang tegas keluar dari mulut mamah. Saya nyaris menyerah, dan saya sudah bilang untuk membatalkan keikutan saya kepada Wisnu dan Wayan (koordinator keberangkatan kami) padahal malam sebelumnya saya sudah ikut briefing untuk keberangkatan kami. Paginya, pas hari H keberangkatan, saya ikut mengantarkan Eriana untuk meminjam perlengkapan hiking yang notabene memang belum dimilikinya, ya karna memang saya dan dia pemula dalam hiking ini jadi belum punya peralatan yang memadai. Ketika mengantarkan dia, lagi lagi saya mencoba membujuk mamah untuk membolehkan saya pergi. Kenapa saya ingin pergi? Karna saat itu (tepatnya karna ada sesuatu hal) saya menginginkan sebuah pelepas penat, awalnya saya ingin ke pantai tapi kemudian mendapat ajakan naik gunung saya pun memikirkannya. Tapi mamah melarang saya untuk pergi, lalu saya bilang pada mamah kalau saya hanya ingin ke Lombok tapi ke pantainya saja, mamah pun membolehkan. Lalu saya coba melobi mamah lagi, saya bilang nanggung banget kalo udah di Lombok tapi malah ke pantai dan meminta untuk membolehkan saya hiking. Mamah hanya bilang, yaudah terserah de aja. Dengan kata terserah itu saya merasa belum mendapat restu dari mamah, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 sedangkan jika ingin ikut maka setelah ashar semua harus beres dan segera menuju terminal Giwangan. Saya yang masih merasa belum sreg dengan kata terserah mamah tetap terus mencoba untuk mendapat restu darinya, maka saya pun bilang, mamah yang ikhlas yaa doain dong biar dijalannya lancar. Lalu mamah membalas sms saya dengan kalimat, iya hati-hati yaa, kabari mamah terus. Nah dengan kata iya dari mamah dan restu serta doanya saya pun mengiyakan untuk jadi ikut hiking ke Rinjani, padahal saya belum mendapat pinjaman carrier (tas gunung) serta perlengkapan lainnya. Saya pun dipinjamkan tas oleh temannya Wisnu, saya bersiap dengan persiapan cepat yang saya lakukan memilah-milah mana yang harus saya bawa dan tidak terlalu banyak. Dengan waktu yang mepet Alhamdulillah prepare barang-barang saya pun beres.

Kami berangkat pada hari Sabtu tanggal 7 Juli 2012. Setelah makan, kami pun berangkat menuju Giwangan. Oh iya yang berangkat adalah 6 orang: saya, Wisnu, Eriana, Wayan, Ari Susena, dan mba Ika. Kami ber-6 ini semua pemula dalam hiking, mungkin kecuali Wisnu yang sudah pernah ke Merbabu walau belum sampai pos 1 karna ada badai. Yap 6 orang pemula ingin menaiki Rinjani gunung tertinggi ke-2 di Indonesia, pengalaman seru, agak sedikit membuat bergidik, dan campur aduk (buat saya). Hahaa. Kami ber-4, saya , Wisnu, Eriana, dan mbak Ika pergi menuju ujung timur pulau Jawa dengan transport bus. Sedangkan Wayan dan Ari, mereka naik kereta Sritanjung menuju Banyuwangi. Kenapa kami ber-4 tidak naik kereta juga? Karna saat Wayan sudah dapat tiket kereta, saat itu juga saya, Eriana, dan mbak Ika masih bingung jadi aja kami menuju ujung timur pulau Jawa menaiki bus.

Kami ber-4 berangkat dari terminal Giwangan Jogja tepat setelah maghrib, tadinya kami mau menaiki bus yang langsung ke Banyuwangi (Akas Asri) tapi nampaknya kami telat dan bus sudah berangkat, jadilah kami naik bus jurusan Jogja-Surabaya (bus Eka). Sekitar pukul 03.20 dini hari, Minggu 8 Juli 2012, kami sampai di terminal Bungur Asih Surabaya. Disana kami sudah dihadang calo karna mereka tahu kami membawa tas-tas yang besar, karna sebelumnya kami tidak ada yang tahu harga tiket Surabaya-Banyuwangi kami pun kena tipu salahsatu calo (sampai sekarang saya masih ingat wajah dan ciri-cirinya, semoga barokah deh tuh si bapak). Salah kami juga memang, kami langsung menaruh tas kami di bagasi belakang bus tanpa tanya dan nego-nego dulu. Kami kena tarif diluar sewajarnya. Coba bayangkan, masa tarif Surabaya-Banyuwangi lebih mahal ketimbang Jogja-Surabaya?! Jogja-Surabaya dengan menaiki bus patas AC kami kena tarif 63ribu, sedangkan untuk Surabaya-Banyuwangi yang notabene bus Ekonomi (Kalima Sodo) awalnya kami kena 85ribu, tapi setelah mbak Ika dan Wisnu menego kami pun diberi harga 68ribu (masih tidak wajar memang). Kami pun nyaris ribut dengan si calo bapak-bapak geblek itu. Kami naik bus itu dengan harga yang kurang ikhlas karna ternyata harga normalnya itu adalah sekitar 30-40ribuan, arg damn!! Yah jadikan ini pelajaran biar nanti di terminal berikutnya kami tidak seperti ini.

Pukul 11.30 WIB kami sampai di terminal Banyuwangi, karna jarak terminal dengan pelabuhan cukup jauh kami harus naik angkot dulu ke pelabuhan, tarif yang dikeluarkan 5ribu. Pukul 12.30 kami naik kapal ke Gilimanuk dengan biaya sekitar 7ribu. Sekitar 45menit perjalanan laut menyebrangi selat Bali dengan kondisi ombak yang cukup tinggi membuat saya yang biasanya tidak mabok laut pun menjadi mual, maka sampailah kami di Gilimanuk. Selepas turun di Gilimanuk, kami melanjutkan perjalanan ke ujung timur Bali menuju terminal Ubung Bali dengan kembali menaiki bus ekonomi, harga yang harus dibayar adalah 25ribu. Pukul 18.10 WIB kami sampai di terminal Ubung Bali, karna kami terakhir makan saat naik bus Jogja-Surabaya maka kami memutuskan untuk beristirahat dan makan dulu di terminal sembari menanyakan harga angkutan dari Ubung ke Padangbai. Selesai semua, pukul 19.20 WIB kami mencarter angkutan umum menuju Padangbai, masing-masing mengeluarkan uang 37500. Sebenarnya pelabuhan Padangbai itu pelabuhan 24jam yang kapalnya pun selalu ada jadi kami bisa berangkat kapan saja, tapi karna kami menunggu Wayan dan Ari yang naik kereta dan kami juga janjian bertemunya di Padangbai maka kami pun memutuskan menginap semalam di pelabuhan Padangbai. Kami pun menggelar matrass serta sleeping bag kami, tidur selonjoran di pelabuhan Padangbai. Wayan dan Ari pun datang keesokan paginya, sekitar pukul 06.00 WIB.

Maka pukul 07.00 WIB, Senin 9 Juli 2012, kami berangkat dari Padangbai menuju Lembar dengan menaiki truk dan biayanya 40ribu per-orang. Sebenarnya yang kaya gitu gak boleh, memasukkan orang ke truk barang, tapi si bapak truk menjamin tidak apa-apa. Karna memang sepertinya juga tidak ada bus yang bisa dinaiki disitu, maka kami pun memilih truk. Sekitar 3-4jam perjalanan laut, kami bertemu beberapa orang yang sepertinya Mapala yang sepertinya juga punya tujuan sama dengan kami yakni hiking ke Rinjani. Terlihat jelas perbandingan antara kami dengan mereka, mereka benar-benar terlihat seperti Mapala, sedangkan kami mau naik gunung aja cukup stylish, hahaa. Maklum pemula #alasan :p

Pukul 12.35 WIB sampailah kami di tanah Lombok, Lembar. Bapak truk memberi kami tumpangan sampai Mandalika (kalo gak salah yaa, hehe). Di perempatan lampu merah Mandalika, kami diturunkan. Kami pun jalan kaki untuk mencari tempat makan terlebih dulu. Setelah makan, suami dari ibu pemilik rumah makan pun mencarikan kami angkot untuk menuju Universitas Mataram. Kenapa kesana? Karna Wisnu punya kenalan disana, dan kenalannya itu adalah anak Mapala Faperta Unram. Sekitar pukul 14.30 kami sampai di Universitas Mataram, ongkos angkot tadi 5rb sampai di Unram. Yang pertama bertemu kami adalah bang Molar, kemudian dibawanyalah kami ke basecamp Mapala Faperta Unram. Disana kami berkenalan dengan yang lainnya, disuguhi beberapa gorengan dan minuman dingin. Kami meminta tolong untuk bisa dibimbing hiking ke Rinjani, abang-abang disana dengan ramah dan baik hati membantu kami, dari mulai a-z dari mulai perlengkapan sampai konsumsi. Sebelum keberangkatan, malamnya kami membeli konsumsi selama disana. Kami pun memasukkan konsumsi tersebut ke tas masing-masing dengan dibagi. Lalu kami pun beristirahat untuk persiapan keberangkatan besoknya.

Besoknya, Selasa 10 Juli 2012, pukul 07.00 WIB kami sudah disewakan kendaraan sejenis elf untuk akomodasi menuju Sembalun. Dengan biaya 50ribu per-orang, kami pun naik. Kami ditemani oleh bang Udin, bang Fuad, dan bang Legis. Abang-abang ini yang nantinya akan menjadi pembimbing kami selama hiking Rinjani. Di tengah jalan kami pun berganti kendaraan, kali ini dengan mobil bak terbuka. Kami pun tiba di pasar Aikmel, karna malamnya kami tidak sempat membeli sayur-sayuran maka di pasar ini pun kami membeli sayur-sayuran. Sayangnya karna menurut abang-abang kami datangnya kesiangan, maka kami pun hanya membeli sayuran seadanya karna pasar sudah agak sepi tukang jualan. Pukul 12.05 WIB kami berangkat dari pasar Aikmel menuju Sembalun (jalur pendakian kami). Selama perjalanan dari Aikmel ke Sembalun pemandangannya Subhanallah bagus banget! Tapi sayangnya, saya jadi agak mual karna rutenya yang berkelok-kelok. Pukul 13.30 WIB kami pun tiba di Rinjani Trekking Centre (RTC) Sembalun. Kami registrasi dulu di dalam, dan membayar 90ribu untuk 9 orang. Dengan kondisi saya pribadi yang masih mabok gara-gara tadi perjalanan menuju Sembalun, saya mencoba untuk merilekskan diri sambil minum tolak angin dan makan dulu sebelum hiking. Sekitar pukul 15.00 WIB kami pun mendaki. Dengan kondisi badan yang kurang fit, kepala saya pusing dan mual. Setelah perjalanan naik cukup panjang, saya benar-benar tidak kuat bahkan melihat trek naik pun kepala saya pusing dan mual. Maka kami pun berhenti, saya merasa tidak enak dengan yang lain, saya nyaris menyerah saya bilang untuk berhenti dan kembali turun karna takur merepotkan yang lainnya jika saya meneruskan perjalanan. Tapi beberapa diantara mereka meyakinkan saya untuk bisa dan berjalan perlahan. Maka saya pun memutuskan untuk meneruskan. Kami pun meneruskan perjalanan, saya membatin untuk tidak melihat ke depan karna itu hanya akan membuat saya pusing dan mual. Karna kondisi saya yang tidak fit, maka pada pukul 19.00 WIB kami sampai di pos 1 dan memilih untuk bermalam di situ padahal di situ tidak ada sumber air. Sebelumnya kami di jalan bertemu dengan abang-abang dari Bekasi yang nyasar di sabana, dan mereka pun ikut bergabung bersama kami. Bermalam semalam di pos 1 yang padahal target kami sudah sampai di pos 2 membuat saya merasa bersalah pada rombongan lainnya. Tapi beberapa dari mereka menenangkan dan meyakinkan saya bahwa semua gapapa.

Esok harinya, pukul 07.00 WIB, Selasa 11 Juli 2012, kami melanjutkan perjalanan. Saya juga sedikit membaik. Pukul 07.30 WIB kami tiba di pos 2, disana ada sumber air maka kami pun mengisi botol-botol kosong kami. Tapi ternyata, airnya habis kata bang Udin sih karena banyak pendaki yang cukup intens maka sumber airnya kosong. Ada pun itu yang cukup keruh dan kotor. Karna ketika berangkat kami belum sarapan, di pos 2 kami sarapan. Botol-botol kosong diisi dengan kondisi air yang seperti itu pun tidak kami pedulikan, yang penting bekal air mencukupi untuk 9 orang. Sekitar pukul 12.00 WIB kami sampai di pos ekstra atau pos 3 saya lupa, kami istirahat sholat dan makan siang. Jadi untuk naik dari Sembalun itu ada trek yang dinamakan bukit penyiksaan dan bukit penyesalan. Kalau bukit penyesalan itu, treknya tidak terlalu naik tapi panjang dan entah harus melewati berapa bukit dan lama. Sedangkan bukit penyiksaan, treknya nanjak terus tapi lebih cepat. Maka abang-abang itu pun bilang kalau kami akan naik lewat bukit penyiksaan. Selesai makan siang dan sholat, kami pun berangkat menaiki jalur bukit penyiksaan. Dan ternyata benar, treknya itu naik naikkkk sekali *lap keringet kalo inget lagi* Memang ramai pendaki disana, kami sering berpapasan dengan beberapa wisatawan lokal bahkan mancanegara pun ada. Kalo wisman kebanyakan menggunakan jasa porter, dan hebat banget bapak-bapak porter itu, antara salut dan juga miris, kok ya cari uang sampe segitunya 😥 Semoga selalu diberikan rejeki yang mencukupi untuk mereka semua, aamiin. Memang benar treknya itu hardcore buat saya yang pemula, debu batu pasir membuat kami kumel, bahkan upil pun hitam *iyuuhhh..hahahaa* Maka sekitar pukul 17.00 WIB sampailah kami di Pelawangan-Sembalun, woohooo!!! Senang rasanya, kabut mulai turun dan udara semakin dingin. Dari atas kami bisa melihat keindahan Danau Segara Anak, secara LANGSUNG :’D Kami pun nge-camp di pinggir bibir jurang sehingga Danau Segara Anak pun jadi seolah dekat. Pukul 02.00 WIB, Rabu 12 Juli 2012,  kami berencana naik ke puncak, maka berangkatlah. Tapi sayang badai di puncak, sehingga tidak satu pun diantara kami yang berhasil menyentuh 3726 Mdpl, hanya sampai 3500 Mdpl. Suhu pun mencapai 5 derajat celcius, gak kebayang kalo sampai minus. Karna kata bang Udin kemarin-kemarin suhunya mencapai minus 6 derajat celcius. Brrrr.

Sekitar pukul 12.00 WIB, Rabu 12 Juli 2012, kami pun berangkat turun menuju Danau Segara Anak. Memang sih treknya turun terus, tapi sangat membuat lutut dan kaki bergetar. Medan turun ke bawah adalah bebatuan dan disebelah kanan kami adalah jurang, jadi harus tetap berhati-hati dalam melangkah. Benar-benar membuat kaki bergetar, padahal judulnya adalah turun -____-” Hari semakin sore, kami belum sampai juga ke danau padahal kabut sudah mulai turun sehingga jurang di sebelah kanan kami pun tidak terlihat, cukup membuat saya bergidik. Tapi untung saya tidak sendirian di perjalanan, karna yang lainnya memang jalannya lebih cepat dari saya, tapi untung ada Ari dan Eriana. Mereka berdua sangat baik dan juga menjaga saya. Ah Wisnu mah gak tau deh kemana, katanya dia, dia kesal melihat saya maka dia pun berjalan cepat di depan saya. Saya pun gak tahu kenapa, karna memang selama perjalanan saya tidak mengeluh capek lah atau apalah, jadi buat saya alasan dia sangat absurd untuk kesal kepada saya. Padahal dia yang mengajak saya hiking tapi dia sendiri yang sering meninggalkan saya. Tapi tidak saya hiraukan, karna ada Ari dan Eriana yang sangat sangat baik kepada saya. Kami berada di tengah-tengah rombongan, tapi karna memang jaraknya cukup jauh maka cukup membuat kami tertinggal. Ari yang berada di depan saya bersedia menunggui saya berjalan, dan Eriana yang dibelakang saya pun juga begitu. Sampai akhirnya pukul 17.30 WIB kami sampai di pinggir Danau Segara Anak. Disana juga sudah banyak yang menge-camp. Ohiya selain saya yang sebelum naik sudah sakit, ternyata di tengah perjalanan giliran Wayan yang sakit. Maka kami pun memutuskan bermalam di danau selama 2 malam, tadinya pada Jum’at keesokan harinya kami mau langsung turun via Senaru, tapi karna Wayan sakit kami memutuskan untuk turun pada hari Sabtu. Selama di danau, beberapa diantara kami memancing dan berhasil mendapat beberapa ikan untuk dimakan saat dinner dan sarapan. Oh iya FYI, selama disana untuk mengisi air di sumber air cukup jauh jalannya. Jangan fikir seperti di iklan dengan tagline yang ‘sekarang sumber air sudekat’, disana bahkan kami punya perkataan ‘di Rinjani kemana-mana gak ada yang deket’, hahaa. Saat di pos Pelawangan-Sembalun, untuk menuju sumber air juga harus turun sekitar 10menit. Sedangkan sumber air di danau, harus turun menuju kesana sekitar 15menit. Karna kami tidak bisa mengambil air di danau (secara danau itu danau vulkanik jadi bahaya), maka air danau hanya bisa dipakai untuk mencuci piring dan peralatan makan lainnya DENGAN CATATAN: TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN SABUN, untuk menjaga agar danau tidak tercemar. Dari danau kami bisa melihat jelas anak gunung Rinjani, kalau tidak salah namanya Gunung Baru Jari. Menurut abang-abang yang mengantar kami, kedalaman danau Segara Anak ini tidak terukur. Pernah dulu katanya ada ilmuwan yang melakukan penelitian dan mengatakan seperti itu. Ya saya sendiri juga gatau sih, hehe.

Hari kedua di danau, kami seharian bebas mau ngapain aja, bang Udin mengajak kami ke Goa Susu. Katanya disana ada pemandian air panas disertai sauna, jadi bagi yang mau mandi-mandi disana bias TAPI untuk menuju kesana sekitar 2 jam. Lalu akhirnya yang ikut ke sana diantara kami ber-6 hanya mbak Ika. Saya, Wisnu, Eriana, Wayan, dan Ari memilih menikmati pemandian air panas yang ada di dekat sumber air saja. Rasanya nikmaaattt sekali dan sudah pasti hangat, hahaa. Malam kedua di danau terasa lebih dingin, dan berkabut. Danau yang diselimuti kabut membuat suasana agak mistis, hahaa. Ohiya di atas langit danau pun bertebaran bintang-bintang, dan untuk pertama kalinya saya melihat bintang jatuh! Pemandangan yang sangat indah yang sangat terekam di kamera paling canggih di dunia, yakni mata kami.

Sebelum turun, malamnya kami menanyakan rute menuju Senaru ke abang-abang. Ternyata sebelum trek turun, kami harus menaiki dulu bukit, dan kami harus berhati-hati dalam berjalan karna sebelah kiri kami nantinya adalah jurang. Bang Udin bilang, nanti kami akan melewati hutan maka dia berpesan untuk kami berangkat pagi agar tidak kemalaman di hutan. Dia berkali-kali bilang untuk tidak kemalaman di hutan. Cukup membuat hati saya ciut ketika diceritakan seperti itu, tapi mau tidak mau memang jalan itu harus dilewati untuk bisa pulang (karna gak mungkin juga naik lagi ke Sembalun -_____-). Esok paginya, Sabtu 14 Juli 2012, pukul 09.00 WIB kami mulai berjalan turun gunung (yang harus terlebihi dahulu menaiki bukit). Dan ternyata, medan untuk naik ke bukit menuju pos Pelawangan-Senaru ternyata lebih hardcore daripada saat naik ke Pelawangan-Sembalun! Jika trek di Pelawangan-Sembalun itu memang naik tapi masih bisa dijangkau dengan kaki-kaki, sedangkan trek menuju Pelawangan-Senaru kami bahkan harus ROCK CLIMBING! Dengan medan naik yang seperti itu dan disebelah kiri adalah jurang, maka bayangkan sendiri harus benar-benar fokus mengambil step *glek* Perjuangan yang benar-benar perjuangan. Sekitar pukul 13.30 WIB kami sampai di pos Pelawangan-Senaru. Kami istirahat sebentar, dan kemudian melanjutkan perjalanan. Treknya kali ini sudah tidak naik lagi, tapi benar-benar turun. Sebelum masuk ke pintu hutan, kami menemui trek turun berpasir. Beberapa kali di trek ini saya jatuh tergelincir, saya pribadi lebih menyukai trek turun berbatu karna bisa mencengkram untuk berpijak. Tapi memang itu lah yang harus dilalui, trek menurun berpasir dan sangat berdebu. Sampai akhirnya kami tiba di pintu masuk hutan, kami beristirahat sebentar. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB, bang Udin memprediksi jika kami bisa segera sampai di pintu keluar hutan menuju Senaru sebelum maghrib. Tapi ternyata semua tidak berjalan mulus seperti di kata, lagi lagi karna kondisi kami yang sudah sangat capek sehingga jalan pun pelan-pelan. Saya pribadi juga capek, dan bekal minum kami pun menipis, bahkan di pos ke-berapa di hutan kami sudah kehabisan air minum padahal perjalanan kami masih panjang. Hari pun mulai gelap, bang Fuad, bang Legis serta Ari sepertinya sudah sampai duluan di pos pintu hutan Senaru, sedangkan kami (saya, Wisnu, Eriana, mbak Ika, bang Udin, bang Cacing, bang Rengga, bang Andra *abang-abang yang lainnya kami bertemu sebelum masuk hutan dan itu kenalannya bang Udin juga*) saat maghrib pun baru sampai pos ekstra (sebelum pos 1). Kami mulai menyalakan headlamp, dan berjalan berjajar untuk tidak saling meninggalkan. Selama perjalanan, saya hanya bisa terdiam dan fokus memperhatikan pijakan saya untuk turun. Tidak menghiraukan ajakan obrolan dari bang cacing, sehingga saya pun membatin bahwa bang cacing ini berisik sekali, tapi saya hanya diam menanggapinya. Setelah perjalanan yang sangaaat lama, maka pukul 21.00 WIB pun kami tiba di pintu hutan Senaru, FINALLY!!! Ibarat di gurun pasir, seperti menemukan oase mata air yang sangat menggiurkan, beneran gak bohong!!! :”D Di depan pintu hutan Senaru, ada warung milik inaknya bang Udin. Kami pun beristirahat dan bermalam disana. Saya yang sedari perjalanan tadi memimpikan bisa minum es teh (hal simple), akhirnya kesampean, dan rasanya nikmat tiada tara *cesss* hahaa. Di depan warungnya terdapat seperti padepokan yang terbuat dari bambu dan atap genting namun terbuka sekelilingnya, dan itu cukup besar menampung beberapa orang diantara kami. Walau memang sebagiannya mendirikan tenda dan tidur disana. Tapi saya, Eriana, Ari, Wisnu, Wayan memilih tidur di padepokan itu.

Sebelum tidur, saya memang sudah di posisi tidur dan menutup mata tapi sebenarnya saya masih terjaga, abang-abang pun mulai cerita horor. Ternyata lumayan banyak hal mistis yang baru kami tahu saat itu. Misal, saat di danau di belakang tenda abang-abang Bekasi, bang Udin melihat kain putih menjuntai di pohon pinus sana. Lalu, saat kami kemalaman di hutan, bang Rengga paling belakang dan tepat di belakangnya ada 2 buah sinar senter yang mengikuti  dari belakang padahal selang berapa menit setelah kami sampai di pintu hutan Senaru (kalau memang ada orang dibelakang kami) seharusnya ada juga yang turun, tapi ternyata dibelakang kami tidak ada orang turun lagi. Sebelum gelap malam datang, saya pribadi juga mengalami hal mistis, saat saya sedang capek-capeknya (tapi tidak bisa berkata apa-apa dan berpikir apa-apa), samar-samar dari arah kanan saya seperti ada yang mengikuti dan selang beberapa menit juga ada yang memanggil nama saya sebanyak 3x, tapi tidak saya hiraukan karna terlalu capek. Bang Udin sendiri juga mengalami hal mistis, saat berjalan di hutan dia tepat di depan saya, ternyata dia sering diganggu dengan munculnya sekelebat bayang putih dan mata yang memperhatikan dia. Ternyata bang cacing dengan keberisikannya itu mengganggu saya merupakan bagian dari taktik dia agar saya tidak kosong pikirannya. Kenapa saya? Karna memang selama perjalanan, hanya saya yang terlihat paling pendiam dan tidak banyak bersuara. Saya yang masih terjaga pun mendengar cerita-cerita itu bergumam dalam hati agar Allah mempercepat datangnya pagi, hehee.

Maka pagi pun datang. Minggu pagi, 15 Juli 2012, kami setelah sarapan sekedarnya dari jajanan yang ada di warung inak, dan setelah permisi kepada inak, kami melanjutkan perjalanan menuju RTC Senaru. Berjalan tidak lama, sekitar 30 menit kurang kami pun sampai disana. Rasanya senang melihat pemukiman warga lagi 😀 Maka kami istirahat sebentar di RTC sambil menunggu elf yang datang menjemput kami untuk membawa kami pulang ke Mataram. Pukul 09.30 WIB pun berangkatlah kami menuju Mataram. Perjalanan pulang lebih bersahabat dibanding perjalanan menuju Sembalun. Sekitar pukul 14.30 WIB sampailah kami di Unram. Dan disanalah akhir perjalanan kami dari Rinjani (belum sampai kembali ke Jogja). Niatnya, jika bisa dapat bus sore itu saya, Wisnu, Eriana, dan 1 abang Bekasi, bang Oji, ingin langsung pulang. Tapi ternyata bus terakhir menuju Surabaya sudah berangkat, kami pun bermalam lagi di Unram. Wayan, Ari, dan mbak Ika memang berencana untuk melanjutkan ke Gili, tapi saya, Wisnu dan Eriana tidak. Karna masih ada sisa waktu semalam lagi di Mataram, kami gunakan untuk niatnya mencicipi beberapa kuliner disana tapi sayang kami terkendala transport. Kondisi yang sudah malam dan tidak angkot yang bisa mengantar berkeliling membuat kami hanya bisa mencicipi ayam taliwang. Dengan dicarikan cidomo (kalau di Jawa disebutnya delman) maka kami ber-9 pun naik cidomo tersebut. Padahal harusnya kapasitasnya untuk 6 orang, walhasil cidomo berat kebelakang. Si kuda kalau bisa ngomong pasti dia bilang: woi berat wooiii!! Hahaha, maaf ya kudaaa 😀 Kami pun jadi tontonan orang di jalan, dengan kapasitas yang melebihi seharusnya selama di jalan kami pun teriak-teriak karna beberapa kali cidomo nyaris jomplang ke belakang dan bahkan juga ke depan! Hahaa lucu deh pokoknya! Tapi akhirnya kami sampai tempat pujasera dengan selamat :’D Karna pulangnya kami tidak dapat cidomo lagi, maka kami pun jalan kaki padahal jalannya cukup jauh dan cukup membuat kaki gempor (lagi). Tapi over all seru!!

Senin, 16 Juli 2012, pukul 09.00 WIB kami berangkat naik bus menuju Surabaya dengan tarif 225rb (karna bus eksekutif tapi ternyata eksekutifnya abal-abal main naikin penumpang asal aja padahal udah penuh banget isinya -____-“) Setelah perjalanan panjang menyebrangi 2 selat dan 1 pulau, Rabu 17 Juli 2012 pukul 04.00 dini hari kami sampai di terminal Bungur Asih Surabaya. Kami ber-4 istirahat sebentar untuk ishoma, kemudian setelah shubuh melanjutkan perjalanan naik bus ekonomi AC (Mira) tujuan Surabaya-Jogja dengan tariff 63ribu per-orang. Setelah melewati daerah-daerah di bagian timur pulau Jawa, sampailah kami di Jogja pukul 14.00 WIB. Di terminal Giwangan saya, Wisnu, Eriana berpamitan dengan bang Oji yang mau langsung melanjutkan perjalanan menuju Bekasi. Kami ber-3 yang sudah lelah tadinya mau naik trans Jogja untuk pulang ke kosan, tapi apa daya badan sudah berasa capek se-capek-capeknya kami memutuskan patungan naik taksi, dan ketika ashar pun sampailah kami di kos Eriana. Aaahhh rasanya senang bisa kembali ke Jogja… Tentu saja dengan membawa cerita dan ingatan di kepala tentang perjalanan kami selama di Rinjani. Gunung pertama yang kami naiki sekaligus yang terindah dan tidak terlupa, hahaa. Jika ada tawaran untuk hiking lagi, saya pribadi lebih untuk memikirkannya 2x…Hahahaa..
Terimakasih buat bang Udin, bang Legis, dan bang Fuad atas persahabatan dan keramahannya selama kami disana. Maaf jika saya pribadi merepotkan abang-abang (dan teman-teman seperjalanan) semua, maaf jika ada salah-salah kata dan perbuatan selama disana. Bang Legis inget ketawanya jangan kenceng-kenceng! Bahahaa. Terimakasih buat Ari, Eriana, mbak Ika, Wayan, dan Wisnu. Buat Ari yang udah mau menukar barang bawaannya dengan punya saya dan mau menunggui serta menyemangati saya selama perjalanan disana. Eriana, yang mau menjaga saya dari belakang, menyemangati, membantu ketika ada medan sulit dan menemani saya mengobrol selama perjalanan. Mbak Ika, yang mau juga menukar barang bawaannya ketika naik menuju Pelawangan dari Sembalun, maaf merepotkan. Wayan dan Wisnu yang sudah mengajak trip Rinjani. Over all thank you guys, so much. Tapi lain kali kalo kalian ngajak hiking saya pikir-pikir dulu yaaaa, hehee (hati-hati terhadap ajakan salesnya Wayan juga, hahaaa :p)

Berikut kurang lebih rincian biaya yang dikeluarkan Jogja-Mataram-Rinjani dan sebaliknya:

63000 (bus Jogja-Surabaya)

68000 (bus Surabaya-Banyuwangi) *ini kena calo padahal harga normal cuma sekitar 30-40an

6600 (kapal penyebrangan Ketapang-Gilimanuk)

25000 (Gilimanuk-Ubung via bus)

15000 (makan di terminal Ubung dengan menu ayam dan seisinya, termasuk mahal dibanding di Jogja, tapi karna lapar jadi santapp aja!)

37500 (sewa angkot dari terminal Ubung ke pelabuhan Padangbai)

40000 (ikut truk barang buat nyebrang ke Lembar dan dianter sampai Mandalika)

15000 (makan di Lembar, dengan menu yang sama ayam dan seisinya)

5000 (naik angkot dari Mandalika ke Universitas Mataram)

50000 (naik elf dilanjut mobil bak dari UnRam ke Aikmel-Sembalun)

45000 (pulang habis turun gunung sewa elf dari Senaru-Mataram)

20000 (makan di pintu hutan Senaru)

10000 (makan siang di jalan menuju Mataram)

4000 (naik Cidomo buat makan ayam Taliwang di daerah pujaseranya Mataram)

230000 (patungan yang ber-6 per-orang semuanya)

225000 (bus pulang Mataram-Surabaya)

34000 (bus ekonomi AC Surabaya-Jogja)

17000 (taxi dari terminal Giwangan-kos Eriana)

; Jadi total semua biaya yang sudah dikeluarkan (sudah termasuk makan) Rp 954500 *cukup banyak juga yaa..

Berikut gambar-gambar yang berhasil ditangkap selama perjalanan:

Sebelum berangkat diantar ke terminal Giwangan, Jogja

Bermalam di pelabuhan Padangbai, sambil menunggu Ari dan Wayan datang

Diatas kapal siap menyebrangi selat Lombok

Bersama mba Ika mau turun dari kapal ke pelabuhan Lembar

Golden ticket to the top

2 Gambar diatas, ngeteng naik truk dan desek-desekan sampai ke Mandalika

Habis makan di Mandalika, ready go to UnRam

3 Gambar diatas perjalanan menuju Sembalun (jalur pendakian kami) dengan naik mobil bak

Perjalanan pun dimulai

Menyisir padang Sabana Rinjani

Morning Rinjani 😀 (5 Gmbar diatas)

Makan siang sebelum menghadapi bukit penyiksaan

Sebelum hari gelap

Sampai juga di pos Pelawangan-Sembalun (3 Gambar diatas)

Camp kami di pos Pelawangan-Sembalun, pinggir jurang meenn

Danau Segara Anak terlihat jelas dari tempat kami nge-camp di Pelawangan-Sembalun

5 derajat celcius di ketinggian 3500Mdpl

Angle lain dari Rinjani

Sun rises

Tertutup kabut

Segara Anak mameenn

Bersama bang Fuad

Bang Fuad dan bang Legis

bang Udin in action :p

Camp di pinggir Danau Segara Anak

Tempat berteduh

What a beautiful lake, right?!

Spot air hangat di dekat sumber air Danau Segara Anak

Di pos Pelawangan-Senaru, mau turun gunung

Pintu hutan Senaru, jalur lain pendakian selain dari Sembalun

Terimakasih yang mau berkenan mampir di tulisan saya yang ini. Selamat melanjutkan shaum tinggal setengah hari lagi, semangat!! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s