Tentang Bertahan

Hari ini saya berpikir bahwa hidup itu mungkin serangkaian mekanisme pertahanan. Manusia bertahan untuk tetap hidup. Manusia bahkan bertahan untuk sekedar bahagia.

Ya, manusia bertahan dari setiap masalah yang dihadapi. Hal itu yang membuat manusia hidup. Mengapa saya bilang itu suatu pertahanan? Bukankah ketika menghadapi masalah, manusia mudah menjadi rapuh? Bukankah ketika rapuh, manusia menjadi mudah dimasuki pikiran-pikiran dangkal dan jalan pintas? Tapi apa yang membuat orang kembali menghadapi masalahnya? Karena dia memilih bertahan. Karena dia memilih berproses dan menjadi kuat.

Bahagia, itu adalah tentang bertahan juga. Bertahan dan melakukan serangkaian kompromi demi seujar cukup. Bertahan dan bersabar menghadapi setiap kenyataan yang dihamparkan di depan mata. Bertahan untuk berdiri lagi meski masih ada nyeri. Bertahan untuk tertawa lagi meski masih ada sisa air mata. Bertahan untuk belajar lagi meski ada sisa kecewa akan kegagalan sebelumnya.

Bertahan dan terus bertahan. Belajar dan terus berproses. Tetap berdiri, menggertakkan gigi kuat-kuat menahan nyeri, mengatupkan bibir rapat-rapat agar tidak mengeluh. Semestinya selalu ada terang di setiap akhir lorong yang gelap, berjalan saja, bertahan saja. Karena apa yang akan terjadi, tidak ada yang sungguh tahu. Mungkin begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s