Bekas Kata

Kata-kata itu setajam pedang. Kamu tidak pernah tahu sedalam apa dia mampu menusuk ke kedalaman. Kamu tidak pernah tahu berapa lama lukanya akan sembuh. Karena setiap luka akan meninggalkan bekas. Seperti lontaran kata yang tak pernah bisa kamu tarik kembali.

Jika seseorang itu penting, apa yang kamu lontarkan pasti akan kamu pikirkan berkali-kali. Jika seseorang itu penting, kamu tidak akan menyayatkan pedangmu begitu saja. Luka akan sembuh, tapi terkadang bekasnya akan tinggal selamanya.

Advertisements

Melepas Ikat

Melepaskan setiap ikat

tentangnya;

Karna tidak ingin keras terjerat

Karna memang balasan peduli tak pernah ada

Karna terkadang kecewa yang ada

Karna balas kata hanya sesekali saja

 

Melepaskan setiap ikat

Karna yang ada hanya satu rasa

Bukan darinya, tapi dari saya

dan dia tidak.

 

Maka,

Melepaskan setiap ikat

Pelan-pelan

Tapi tak pernah mau benar meninggalkan

Hanya ingin mengurangi jerat

Agar setiap abai (darinya) tidak perih terasa.

 

Melepaskan setiap ikat

Pelan-pelan.

 

Risiko Pekerjaan

Setiap pekerjaan pasti punya risikonya sendiri-sendiri, demikian juga kamu. Sore tadi saya membaca tweet teman kamu yang me-mention kamu, sempat kaget dibuatnya. Karna memang sebelumnya kamu bilang jika kamu pada puasa ini hanya akan ditugaskan di dalam saja, tidak untuk keluar. Kamu ditugaskan ke sebuah negara yang memang akhir-akhir ini sedang ‘in’ dengan isu hak asasinya. Media cetak maupun elektronik pun sering memberitakannya, maka siapa yang tidak terkejut dan khawatir dengar itu? Apalagi untuk saya. Saya pun menanyakan pada kamu, kamu mengiyakan sambil berkata ‘keberangkatannya menunggu visa keluar’. Sedikit lega karna saya masih bisa berkomunikasi dengan kamu sebelum kamu berangkat. Saya yakin jika saya bilang ‘hati-hati ; take care ; be careful ; be safe’ kamu pasti akan bilang ‘no worries, doakan ya’ Biarpun kamu berkata begitu, saya pasti akan bilang ‘ok’, tapi tidak kah kamu tahu dalam ok itu tetap terkandung khawatir dari saya.

Saya faham dan mengerti pekerjaan kamu, maka kemana pun kamu ditugaskan dengan siapa pun itu (sekalipun dengan pacar kamu) saya selalu menyelipkan nama kamu dalam doa di setiap tengadahan tangan dan tundukan kepala yang saya lakukan, untuk kamu. Bentuk sayang saya yang bisa saya lakukan untuk kamu, sekalipun kamu tidak tahu. Karna hanya itu yang bisa saya lakukan.

Maka, jika visa sudah keluar teriring doa kelancaran, kemudahan, dan keselamatan untuk kamu, hati-hati sayang, please.

Maaf masih menyimpan rasa dan merindukan kamu.

Sisi Lainnya

Apa yang dia tahu?

Dia tahu, di balik semua yang orang lihat, dibalik semua pilihan-pilihan terbaik yang dia pilih, dia bisa memilih yang sebaliknya. Dia bisa mengurutkan sekian pilihan yang menjatuhkan orang lain. Dia bisa memilih sekian cara untuk menusukkan belati ke orang-orang yang menyakitinya. Dia bisa memanipulasi orang untuk mencapai apa yang dia mau. Dia bisa memainkan politik dan membuang orang-orang yang tidak disukainya.

Tapi, selalu ada satu sisi yang mengatakan “Jangan”.

Satu sisi yang menuntut dia membuat pilihan-pilihan yang benar, lebih daripada yang baik. Sisi yang memaksa dia memilih menyakiti diri daripada menyakiti orang lain. Sisi yang menyuruh dia diam dan berlari daripada mencaci maki orang lain. Sisi yang mengekang dan menyuruh dia tunduk pada apa yang benar. Sisi yang dia maki setiap kali dia ingin menusukkan belati dan harus diam tertahan. Sisi yang membuat dia tetap di jalan yang benar, sementara dia ingin berlari keluar.

Terkadang dia tidak tahu.

Tidak tahu, sisi yang mana yang menjaga dia tetap waras. Ketika setiap pikiran untuk menyakiti orang lain atau dirinya muncul sebagai pelarian, ada tangan lain yang menahannnya. Ketika dia ingin menghukum orang yang menyakitinya, ada suara lain yang menahan dia begitu kuat dan memaparkan segala alasan yang membuat dia memandang dari sisi yang berbeda. Setiap tubrukan yang membuat dia bertanya, yang mana dirinya.

Dia menyadari keberadaan si jahat dalam dirinya.

Dia menyadari setiap suara dan bisikan yang mendorong dia untuk melakukan hal-hal yang akan membuat dia puas. Hal-hal yang menurut dia dirinya. Menyakiti, menghukum, memanipulasi, memaki, semua yang tak perlu dia tahan untuk terlontar. Dia tidak pernah menghitung berapa kali pikiran untuk mengakhiri sesuatu terlintas di kepala. Tidak pernah menghitung juga pikiran untuk membiarkan orang yang menyakitinya menderita perlahan atas apa yang dia rasakan.

Tapi, selalu ada hal-hal yang menahan dia. Suara yang memaki dia ketika dia tidak bisa mengontrol amarahnya. Bisikan yang mengejeknya ketika pikiran-pikiran untuk mengakhiri hidupnya berkelebat dengan kuat di kepala. Ejekan di kepala yang menggelayut setiap kali dia terpikir untuk menghukum orang-orang yang menyakitinya. Suara yang menahan dia di jalan yang benar. Bisikan yang menahan dia dari tindakan-tindakan bodoh yang di luar kontrol. Suara yang membuat dia menimbun rasa bersalah dan menarik tali kekang kuat-kuat. Suara yang mengejek setiap kali dia tidak bisa menahan emosinya dan meluapkannya ke dinding-dinding yang bisu.

Dia tidak tahu.

Suara mana yang harus dia perintahkan diam. Itu mengapa dia memilih berlari dalam kesendirian. Memilah dan membungkam semua suara di kepala. Mengguratkannya dalam larik-larik tak bermakna. Sekedar berlari, sekedar membungkam segala caci maki. Dia hanya tidak mau menyakiti untuk disakiti oleh apa yang tidur di benaknya. Mungkin.