Sisi Lainnya

Apa yang dia tahu?

Dia tahu, di balik semua yang orang lihat, dibalik semua pilihan-pilihan terbaik yang dia pilih, dia bisa memilih yang sebaliknya. Dia bisa mengurutkan sekian pilihan yang menjatuhkan orang lain. Dia bisa memilih sekian cara untuk menusukkan belati ke orang-orang yang menyakitinya. Dia bisa memanipulasi orang untuk mencapai apa yang dia mau. Dia bisa memainkan politik dan membuang orang-orang yang tidak disukainya.

Tapi, selalu ada satu sisi yang mengatakan “Jangan”.

Satu sisi yang menuntut dia membuat pilihan-pilihan yang benar, lebih daripada yang baik. Sisi yang memaksa dia memilih menyakiti diri daripada menyakiti orang lain. Sisi yang menyuruh dia diam dan berlari daripada mencaci maki orang lain. Sisi yang mengekang dan menyuruh dia tunduk pada apa yang benar. Sisi yang dia maki setiap kali dia ingin menusukkan belati dan harus diam tertahan. Sisi yang membuat dia tetap di jalan yang benar, sementara dia ingin berlari keluar.

Terkadang dia tidak tahu.

Tidak tahu, sisi yang mana yang menjaga dia tetap waras. Ketika setiap pikiran untuk menyakiti orang lain atau dirinya muncul sebagai pelarian, ada tangan lain yang menahannnya. Ketika dia ingin menghukum orang yang menyakitinya, ada suara lain yang menahan dia begitu kuat dan memaparkan segala alasan yang membuat dia memandang dari sisi yang berbeda. Setiap tubrukan yang membuat dia bertanya, yang mana dirinya.

Dia menyadari keberadaan si jahat dalam dirinya.

Dia menyadari setiap suara dan bisikan yang mendorong dia untuk melakukan hal-hal yang akan membuat dia puas. Hal-hal yang menurut dia dirinya. Menyakiti, menghukum, memanipulasi, memaki, semua yang tak perlu dia tahan untuk terlontar. Dia tidak pernah menghitung berapa kali pikiran untuk mengakhiri sesuatu terlintas di kepala. Tidak pernah menghitung juga pikiran untuk membiarkan orang yang menyakitinya menderita perlahan atas apa yang dia rasakan.

Tapi, selalu ada hal-hal yang menahan dia. Suara yang memaki dia ketika dia tidak bisa mengontrol amarahnya. Bisikan yang mengejeknya ketika pikiran-pikiran untuk mengakhiri hidupnya berkelebat dengan kuat di kepala. Ejekan di kepala yang menggelayut setiap kali dia terpikir untuk menghukum orang-orang yang menyakitinya. Suara yang menahan dia di jalan yang benar. Bisikan yang menahan dia dari tindakan-tindakan bodoh yang di luar kontrol. Suara yang membuat dia menimbun rasa bersalah dan menarik tali kekang kuat-kuat. Suara yang mengejek setiap kali dia tidak bisa menahan emosinya dan meluapkannya ke dinding-dinding yang bisu.

Dia tidak tahu.

Suara mana yang harus dia perintahkan diam. Itu mengapa dia memilih berlari dalam kesendirian. Memilah dan membungkam semua suara di kepala. Mengguratkannya dalam larik-larik tak bermakna. Sekedar berlari, sekedar membungkam segala caci maki. Dia hanya tidak mau menyakiti untuk disakiti oleh apa yang tidur di benaknya. Mungkin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s