Masih: Kamu, Dimana?

Siapa yang tahu lagunya Richard Marx yang Right Here Waiting? Kurang lebih kaya gini reffnya: Wherever you go Whatever you do I will be right here waiting for you Whatever it takes Oh how my heart breaks I will be right here waiting for you. Yap, saya sedang merasakan itu. Terombang-ambing dengan perasaan hampa. Belum tahu kabar dari sana, belum ada kabar. Masih dengan pertanyaan: kamu dimana? Kalo kata Anang: separuh jiwaku pergi. Yah kurang lebih gitu rasanya. Kaya kapas ketiup angin, melayang-layang tanpa arah, kaya separuh nyawa hilang. Iya saya tahu, dia aja bukan milik saya, kok saya bisa ngerasain kaya gitu? Pertanyaan sama yang saya tanyakan ke diri sendiri, dan…saya gatau jawabannya, tapi itu semua yang saya rasain. Kehilangan kabar dari dia selama beberapa hari ini ngebuat saya kaya krupuk yang kena air, mlepes. Kaya layang-layang gak diarahin ketiup angin, melayang-layang gak jelas. Kaya bunga dandelion yang ketiup angin, terbang melayang gatau arah. Agak lebay ya? Tapi gitu rasanya. Hampa. Kamu pernah ngerasain? Seperti itu tadi rasanya.

Kamu, dimana? :”(

Advertisements

Takut

Terbangun dari mimpi buruk? Ya, itu saya. Mimpi aneh, bikin nafas terengah, dan…saya lupa mimpi apa. Aneh? Bukankah setiap orang juga pernah melupakan mimpi apa dia tadi? Jadi, wajar kan? Yang saya ingat hanya: melihat dari kejauhan, nafas terengah, dan…saya terbangun. Sebelum tidur memang saya dalam keadaan pusing berat (padahal  sudah menenggak satu tablet panadol merah), dan merasa kehilangan seseorang. Hampa rasanya. Tapi…saya tidak punya daya. Hampa rasanya :”( Apa itu kamu? Apa begitu rasanya kehilangan? Takut kehilangan. Takut kehilangan sesuatu/seseorang yang notabene padahal bukan miliknya (bukan milik kita). Aneh? Iya, saya berpikir juga begitu. Tapi itu yang saya rasakan. Saya takut kehilangan seseorang yang notabene padahal hatinya bukan milik saya (tapi hati saya masih untuk dia). Itu yang mungkin membuat saya bermimpi buruk. Saya takut kamu hilang dari sepemandangan mata saya. Sekarang pun saya sedang kehilangan kamu. Mencari di setiap detil yang saya tahu, tapi…kamu belum terlihat. Kamu tahu? Hampa rasanya. Apakah saya kehilangan kamu? Saya takut kehilangan seseorang yang notabene padahal hatinya bukan untuk saya, saya takut kehilangan kamu. Maaf jika sikap saya yang seperti itu salah dimata kamu. But, that is true. I feel so empty for a view days without you, without seeing you, without know any news about you :”(

Kamu, Dimana?

Kamu memang sering bepergian bertugas, seminggu saja bisa 2 kali berpindah ke tempat berbeda. Selama itu kamu lakukan pasti kamu selalu ‘mengabari’ entah update twitter, path, atau display picture/personal message BBM. Tapi, kali ini tidak. Saya gatau sekarang kamu dimana, tidak ada update-an twitter, path, bahkan display picture/personal message BBM. Ini diluar kebiasaan yang ada. Saya mencoba menghubungi via DM, BBM, bahkan sms. DM, terkirim tapi saya tidak tahu kamu sudah membacanya atau belum, hanya sekedar dibaca tidak dibalas pun tidak apa-apa. BBM, saya kirim BBM dari 2 ponsel yang saya pegang, yang satu menunjukkan tanda silang merah yang entah artinya apa, yang satu lagi hanya sekedar ceklis tanpa D bahkan R. Sms, saya meng-sms nomor kamu yang saya tahu, tapi bahkan sms pun hanya sekedar ceklis tanpa ada huruf D yang menandakan ‘delivered’. Ini diluar kebiasaan. Jujur, saya khawatir. Beberapa hari tanpa tahu kamu dimana, sedang apa, dengan siapa, membuat saya khawatir. Saya tahu kamu pasti akan bilang ‘semua baik, gak usah khawatir’, tapi kamu gatau persis itu rasanya seperti apa jika menjadi saya. Maaf jika menurut kamu sikap saya berlebihan, dan maaf mungkin menurut kamu saya tidak lah harus bersikap seperti ini karna memang siapa saya. Kamu tahu? Bagi saya, dengan melihat kamu meng-update twitter, path, display picture/personal message itu menandakan kamu ada, kamu baik, dan kamu ‘dekat’. Kehilangan jejak kamu selama beberapa hari ini membuat saya merasakan sepi, khawatir, dan…hampa. Kamu dimana? Saya percaya Allah menjaga kamu, maka jika kamu baca ini tolong kabari saya dengan cara apapun: kamu update twitter, path, display picture/personal message BBM  pun cukup bagi saya (tidak membalas DM atau sms saya pun tidak apa-apa).

Simfoni Hitam — Tak Akan Bisa Sentuh Hatimu (?)

Malam sunyi ku impikanmu. Ku lukiskan kita bersama. Namun slalu aku bertanya “Adakah aku di mimpimu?” Di hatiku terukir namamu. Cinta rindu beradu satu. Namun selalu aku bertanya “Adakah aku di hatimu?” Tlah ku nyanyikan, alunan-alunan senduku. Tlah ku bisikkan, ceritacerita gelapku. Tlah ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku. Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu? Bila saja kau di sisiku, kan ku beri kau segalanya. Namun tak henti aku bertanya “Adakah aku di benakmu?” Tlah ku nyanyikan alunan-alunan senduku. Tlah ku bisikkan cerita-cerita gelapku. Tlah ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku. Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu? Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku? Dengar simfoni ku, simfoni hanya untukmu. Tlah ku nyanyikan alunan-alunan senduku. Tlah ku bisikkan cerita-cerita gelapku. Tlah ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku. Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu? Tlah ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku. Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu?

Bercerita — Menulis Secarik Kertas

Serapuh kelopak sang mawar yang disapa badai diselimutkan gontai. Saat aku menahan sendiri, diterpa dan diluka oleh senja. Semegah semerbak dijaga, matahari pagi bermahkotakan embun. Saat engkau, ada disini dan pekat berakhir sudah. Akhirnya ku menemukanmu saat ku bergelut dengan waktu. Beruntung aku menemukanmu, jangan pernah berhenti memilikiku hingga ujung waktu. Setenang hamparan samudera, dentuman burung camar takkan berhenti bernyanyi. Saat aku berkhayal denganmu, dan janji pun terukir sudah. Jika kau menjadi istriku nanti, pahami aku saat menangis. Saat kau menjadi istriku nanti, jangan pernah berhenti memilikiku.. Hingga ujung waktu. Jika kau menjadi istriku nanti, pahami aku saat menangis. Saat kau menjadi istriku nanti, jangan pernah berhenti memilikiku hingga ujung waktu.

Keisengan Baru

Halo selamat siang.. Bersiap makan siang ya? Who is your lunch? #ditabok hehe

Ok, saya mau ceritain satu hal yang lagi diisengin akhir-akhir ini. Sambil nungguin kabar dari #DearYou (yakali emang bakal inget). Jadi, yang lagi diisengin buat dilakuin akhir ini yaitu….. Btw mau tahu aja apa mau tahu banget…? Hahaa. Entah ada angin topan atau angin kumbang atau malah angin-anginan (mmm.. kayanya yang terakhir deh), saya lagi suka masaaakk! Iya.. Ciyus!! Em a ma es asa k, MASUK!! Eh, masak.. Hehe. Karna tipenya saya beginner #tsah jadi saya masak yang gampang dulu, kaya steik medium rare, ayam bakar madu bumbu pedas (mau dilanjutin bohongnya gak nih? HAHAHAA) :p Bagi pemula bumbu instan adalah penolong dikala kamu gak tahu bumbu benernya gimana. Bukannya gak mau masak yang ribet-ribet, tapi saya belum ketemu chef master Juna untuk sekedar tanya masak chicken cordon bleu gimana #ditabok HAHAA. Masak tempe aja kadang masih suka kegosongan (maklumin yah kan pemula, hehee *kedip-kedip genit*). Sebenernya langkah memasak juga dipilih untuk menghemat. Mamah saya bilang,”Wahai anakku, kejarlah ilmu sampai negeri Cina, maka masaklah buat hemat-hemat biaya ya” Zonk! Apa hubungannya yaa, hehe *nyengir* Dari dulu udah disuruh sih, tapi karna saya ini berjiwa petualang (kecuali dalam urusan cinta yaa, gimana mau berpetualang orang kadang keseret-seret *meratap dipojokan jeep putih* #setelahadayangbacainisiapsiapsodorinpipibuatditabok), jadi saya lebih suka cari makan dimana ajaaa (padahal juga kalo perseorangan maupun rame-rame pasti selain pertanyaan ‘mana pacarnya’, pertanyaan ‘makan dimana’ pun menjadi sulit terjawab). Jadilah saya sampai dimana petualangan ini saya sebut ‘SEDANG MOOD MEMASAK’ (baca: hemat uang bulanan).

Untuk gak bosen (karna yang bumbunya instan saya cuma tau beberapa, hehe), saya harus berpikir setiap harinya agar berganti menu (praktis) yang bisa saya masak. Jadi, ada yang tahu PIN BBnya chef Juna? PING me yaa.. Hehehe..

Selamat beraktifitas, salam hangat terdahsyat dari kompor di dapur kosan *lambai lambai tangan*