Hari Eksekusi

Hula halo malam.. Entah berapa lama ini kertas maya tidak dijamah, hehe. Kabar gembira datang kemarin-kemarin.. Finally saya eSHak jugaaa! Alhamdulillah…. Perjuangan selama ini terbayar sudah. Perjuangan dari mulai sms yang dibales seadanya sama DPS, sms yang kadang di bales kadang gak sama DPS, nungguin narsum rese di instansi pengawas pangan dan obat itu, dan lain sebagainya terbayar LUNAS dengan nilai SEM-PUR-NA!! Alhamdulillah *sujud syukur*

Mari kita flashback saat 1 minggu sebelum sidang….

1 minggu sebelum sidang, saya yang dijanjikan hanya akan 1x revisi lagi oleh ibu dosen tercinta ternyata eh ternyata masih ada revisi lagi. Tapi Alhamdulillahnya revisi hal-hal kecil semacam huruf besar huruf kecil, EYD, dll. Saya pun mengerjakan saat itu juga (pagi saya ambil revisi, dan siangnya saya berikan lagi ke beliau). Saat saya memberikan revisi itu, beliau langsung meng-ACC skripsinya, asiiikk!! Saya pun berasa dapet energi tambahan, maka saya pun melaju secepat kilat ke kantor bagian saya untuk daftar sidang. Menanyakan beberapa hal yang harus dipersiapkan sebagai prasyarat sidang pendadaran.

Esoknya saya kembali ke bagian, saya heran tumben bagian belum mengeluarkan jadwal sidang. Padahal yudisium itu terakhir ada pada hari Jum’at pekan itu juga. Kami yang bersiap di dadar pun kebingungan. Memang kepala bagian saya orangnya super sibuk, hari ini bisa di kota A besoknya bisa di kota B, yah begitulah beliau. Sampai akhirnya, saya baru dikabari kalo akan sidang ketika H-1, dan itu pun belum tau siapa penguji saya. Maka saya pun menanyakan ke sekretaris bagian, beliau bilang siapapun pengujinya saya harus siap dan banyak berdoa.

Hari H pun tiba, saya baru mengetahui bahwa penguji saya adalah pak Parip, pak Veri, dan bu Dina (DPS saya). Saya kedapatan jatah 2 hari sidang, hari pertama, Kamis 18 Oktober 2012, saya rencananya diuji sama pak Veri dan bu Dina. Baru esoknya sama pak Parip, karna beliau dekan kampus saya maka dia bisanya besoknya. Kesabaran saya pun diuji lagi, saya yang sudah datang pagi jam setengah 8 saya sudah di kampus, harus diundur sidangnya karna pak Veri dan bu Dina baru bisa menguji jam 11 nanti. Maka saya pun pergi sarapan dulu. Ohiya, malam sebelum sidang saya bener-bener gak bisa tidur. Akhirnya saya pun merasakan apa yang Agung, Iis, Anin, Eka rasakan saat mau sidang, hahahaaa. Sebelum jam 11 saya sudah tiba di kampus. Baru aja duduk saya sudah dipanggil ke dalam untuk diuji oleh pak Veri. Saya masuk, lalu saya diuji dengan pertanyaan awal seputar judul saya, selanjutnya mengalir begitu saja. Ohiya sistem sidang di bagian saya, Hukum Dagang/Hukum Bisnis, diuji oleh 3 penguji dan sistemnya kaya interview gitu face to face. Alhamdulillahnya pertanyaan dari pak Veri bisa saya jawab dengan lumayan lancar dan ngena. Akhirnya saya keluar ruangan setelah diuji oleh pak Veri, saatnya menunggu bu Dina untuk menguji saya. Sampai setelah dzuhur bu Dina gak nongol-nongol padahal udah di sms sama ketua bagian tapi smsnya tidak dibalas-balas. Akhirnya saya yang harusnya saat itu diuji terlebih dulu oleh bu Dina, ini malah diuji dulu oleh pak Dekan. Karna yang diuji pak Dekan hanya saya dan 1 lagi mas-mas, saya pun menunggu dengan dia. Dia menceritakan bagaimana pak Dekan mau menguji hari itu padahal harusnya jadwal dia menguji adalah besok Jum’at, tapi ternyata ketika si mas dkk nya sedang nongkron di kantin pak Dekan lewat dan teman-temannya itu memanggil pak Dekan sambil bilang kalo mas itu belum sidang dan sidangnya itu diuji oleh pak Dekan. Lalu pak Dekan menghampiri mereka (padahal seharusnya mahasiswa yang menghampiri beliau) dan berkata kalau si mas itu disuruh mengikuti beliau ke ruangannya untuk ujian pendadaran. Jadilah saya diberitahu bahwa pak Dekan akan menguji pada hari itu. Saya yang sedang menunggu bu Dina segera ke ruangan dekanat. Sampailah kami diuji, mas itu dulu yang masuk baru saya. Setelah dia keluar, saya masuk. Di luar perkiraan saya, pak Dekan menguji dengan gaya santainya seperti biasa. Beliau sangat sangat sangat ramahhhhh! Beliau tau cara mengurangi nervous yang sidang pendadaran, fiuh. Lalu Alhamdulillah saya pun mengakhiri hari itu dengan sempurna!! Alhamdulillah. Saya pun kembali ke kantor bagian saya, menunggu bu Dina yang belum kunjung datang. Ah padahal udah di sms dan segala macam, tapi ternyata beliau baru mengabari setelah pukul 2. Bu Dina tidak bisa menguji hari itu, maka jadwal pun diubah menjadi besok siang jam 11.

Hari kedua ujian,

Saya datang jam setengah 11 dan menunggu di depan bagian internasional, kantornya bu Dina. Sampai jam 11 bu Dina belum datang, akhirnya pukul 11 lebih beliau datang. Saya masuk pertama. Beliau menanyakan seputar penelitian lapangan saya. Saya pun bisa menjawabnya dengan Alhamdulillah.. Walaupun ada revisi di bagian bab IV dan bab V tapi gak banyak, Alhamdulillah SH pun ditangan. Nilai keluar dan Alhamdulillah lagi nilainya sempurna :’D Perjuangan selama 5 tahun 1 bulan :’D

 

Terimakasih Allah SWT, terimakasih untuk semua kemudahan keringanan kelancaran dan kelulusan selama sidang pendadaran, terimakasih tiada terhingga… :*

 

Terimakasih juga buat,

mamah-papah-aa-teteh-dede dhila

Agung, Iis, Epti, Eriana, Wisnu, Anin, Eka, Dessy, Kiki, Febri, Kakak Tiara, Sheila, Puji, Amanda

Terimakasih tiada terhingga untuk setiap doa dan dukungannya :’D

 

TERIMAKASIH SEMUAAAA

Advertisements

Bercerita — Nya

Aku mencintainya, Tuhan.

Nya, yang memiliki senyum yang mampu menyejukkan hati.

Nya, yang memiliki sepasang lesung pipi dipinggiran senyumnya.

 

Aku mencintainya, Tuhan.

Nya, yang sudah dimiliki orang lain.

 
Aku tidak pernah mau bertanya: Kenapa harus dia?

Aku tidak punya kuasa akan pertanyaan itu.

 
Mereka bilang: Cinta itu nyata kalau memilikinya.

Buat aku, ini bukan hanya soal memiliki.

Buat aku, ini bukan soal dia sudah atau belum dengan siapa pun.

 

Siapa sih Tuhan yang tidak ingin bersama orang dicintai? Bukankah tidak ada yang tidak ingin? Aku percaya Engkau pasti punya maksud dengan ini semua. Terlepas dari itu semua Tuhan, berikanlah selalu dia kebahagiaan. Agar aku bisa ikut bahagia juga. Aku terlalu naif, dan terlalu bodoh nampaknya. Tapi tidak juga, banyak hal yang aku pelajari dari dia. Hal yang mereka tidak paham, dan terkadang aku juga tidak paham.

Aku mencintainya Tuhan, jaga dia untukku, limpahkan dia dengan cintamu yang jauh lebih banyak dari cinta yang aku punya untuknya. Jika waktuku habis, sampaikan bahwa aku mencintainya dengan ‘walaupun’.