Menggerogoti Hati

Ada yang menggerogoti hati. Hingga mulut pun tertatih. Berbisik lemah mengeja rasa. Sesak penuh tidak punya daya. Setiap gerak, setiap nafas. Rindu menggerogoti. Kangen. Kangen kamu. Maaf jika rindu tereja dalam setiap tengadahan tangan di setiap doa, masih sama: kangen dan nama kamu disebut. Hanya itu yang bisa dilakukan.

Jarak

Tak peduli seberapa kuat aku meraihkan jemari

Tak peduli seberapa kuat aku berteriak

Jarak itu tak pernah mendekat

Aku diam tergugu di tepian jurang

memandang ke seberang sana

tepi yang sudah berpagar

tak mungkin lagi aku lewati

jadi aku berhenti meraihkan jemari

R

Rindu itu tidak sesederhana yang dipikirkan. Rindu itu seperti memori di kepala, yang muncul tiba-tiba bahkan saat tidak punya daya. Rindu itu terkadang membuka luka lalu memunculkan air mata. Rindu itu terkadang dekat dengan luka jika hanya satu saja yang rasa, yang lainnya tidak. Rindu membuat banyak tanya yang padahal tahu ujungnya adalah ‘tidak’.

….

Dalam hitungan waktu, saya belajar. Dalam iringan detik, saya mengeja. Di situ, dalam ruang tersembunyi, di bilik pikir yang dalam, saya menggurat. Bukan, saya bukan tidak mau mendengarkan kata-kata orang lain. Saya hanya tidak mudah percaya. Saya tidak suka merasa memenuhkan sesuatu untuk orang lain. Tidak pula suka melakukan sesuatu karena mengikuti orang lain. Saya hanya ingin berdiri dengan cara saya dan ukuran yang saya punya. Kalau satu hari, saya mau bernegosiasi tentang semua itu, semestinya orang tahu di mana dia berada. Mungkin begitu.