Bahagiaku

Setiap orang punya definisi bahagianya sendiri. Mungkin satu orang bahagia karena bisa menikah muda, satu orang lainnya berbahagia dengan perpisahannya dengan orang yang sama-sama saling menyayangi dulunya. Dan mungkin ada juga yang bahagia dengan pilihannya untuk tidak menikah. Apakah yang terakhir kelihatan tidak normal? Beberapa orang menjudgenya begitu. Tidak banyak yang mau mengerti, tapi buat saya itu tidak menjadi masalah. Saya memilih bahagia saya dengan cara seperti itu.

Kamu nantinya akan sendiria di hari tua, begitu kata orang. Iya kalau hidup sampai tua, dan lalu bukankah pada akhirnya kita juga akan sendirian? Kata saya.

***

“Mah, kok ngelamun?” aku terkesiap dengan suara yang menyahutku.

“Siapa bilang, mamah sedang berpikir kok” jawabku.

“Mamah akhir-akhir ini mikirin apa sih?” tanya dia lagi. Aku hanya membalasnya dengan senyum.

Anak berusia 11 tahun ini adalah satu-satunya penghiburku. Orang yang mungkin paling mengerti aku juga. Semenjak ada dia aku menajamkan kembali tujuan hidupku. Semuanya demi dia, hanya untuk dia. Walau dia bukan anak yang lahir dari rahimku, tapi aku menyayanginya sama seperti ibu yang melahirkan anaknya sendiri. Dewanata Brahmana, Dewa, begitu aku memanggilnya.

Setiap orang tidak pernah tahu kapan jodohnya datang, begitu juga saya. Entah mengapa untuk urusan satu itu saya tidak mau ambil pusing. Apakah kematangan umur menjadikan diri kita untuk harus disegerakan menikah? Itu kata orang-orang, pemikirannya memang begitu. Orang yang lebih tua harus menikah duluan, perempuan menikah harus umur segini, dan lain-lain. Bukan kah setiap orang juga masih punya tujuannya? Lalu bukan kah bahagia yang lebih utama? Buat apa orang lain mengurusi urusan orang lain? Sebegitu menarik kah hidup orang lain? Atau mungkin sebegitu tidak menariknya hidupnya? Ah sudahlah, buat apa juga dipikirkan.

Untuk setiap keputusan, setiap tindakan, setiap orang pasti punya pertimbangan dan alasan untuk itu semua.

***

Sore itu aku menunggu dia lama sekali. Kami janji bertemu disini, di tempat biasa kami menghabiskan waktu untuk sekedar mengobrol. Bahkan untuk sekedar berdiam diri dengan keasikkan masing-masing. Biasanya dia tidak pernah telat.

“Hey maaf nunggu lama!” ujarnya tergopoh-gopoh.

“Tumben. Kenapa telat?” tanyaku penasaran.

“Hehe.. Gebetan yang aku ceritain kemarin, inget kan, dia tadi nebeng pulang bareng aku. Makanya lama.. Maaf..” ditutupnya permintaan maaf itu dengan cengiran.

“Lang, kalo kamu jadi aku apa yang akan kamu lakukan?”

“He? Apa kasusnya deh tiba-tiba bilang begituan”

“Kamu tahu cerita orang tua ku kan, dari sana aku jadi sedikit terdoktrin dan punya pemikiran sendiri..”

“Tentang apa?”

“Pernikahan”

“Lang, aku tahu kalau manusia itu tidak bisa hidup sendirian, bahkan kamu juga ingin kan diperhatikan? Tapi Lang buat apa bersama kalau saling melukai nantinya? Bahkan cinta saja ada expirednya. Aku takut mengecewakan dan dikecewakan Lang. Ok, aku paham kalau kamu pasti akan bilang Kamu jangan merasa takut duluan sebelum kamu mau mencobanya. Dalam diriku seakan punya dua sisi Lang. Yang satu bilang seperti apa aku bilang tadi, sisi satunya berkata mungkin sama seperti apa yang akan kamu bilang nantinya. Bukan aku tidak mau mencoba Lang, dan mungkin memang aku belum menemukan dia yang kuatnya melebihi aku, batunya menyeimbangkan kerasnya aku bahkan mungkin bisa meluluhkan aku, dan juga bahkan sayangnya padaku melebihi aku menyayangi dia. Aku tidak ingin dikecewakan dan terlebih tidak ingin mengecewakan” tutupku terbata. Gilang seperti kehilangan kata-katanya untuk menanggapi aku. Dia tahu betul sahabatnya itu, dalam setiap tindakan dan pemikiranku pastilah aku mempertimbangkan dan memikirkannya dengan matang. Sebab-akibat, alasan begini dan begitu, pemikiran ‘nanti bagaimana’ bukan ‘bagaimana nanti’.

“Mi, bukankah bahagia menurut setiap orang berbeda-beda? Cuma kamu yang tahu Mi bagaimana kamu bisa bahagia, cuma kamu Mi yang bisa ngerasain itu semua. Aku memang teman kamu Mi, sampai kapanpun, tapi maafkan aku nanti jika waktuku untuk kamu nanti tidak sebanyak waktuku sekarang. Tapi percaya lah Mi, mau kamu jadi apa dan bagaimana pun, pilihlah untuk menjadi bahagia. Jangan pikirkan kata orang, kamu harus lebih kuat ya Mi nanti..” ujarnya sambil memeluk aku.

***

Bukan saya tidak pernah suka dan disukai, tapi terkadang hidup tidak semulus pahanya Cherrybe** kan? Saya bahagia hidup bersama Dewa, berdua. Tidak membohongi siapa-siapa, terlebih tidak membohongi diri sendiri. Itu yang utama. Mungkin begitu.

— Tamat —

Cerita kedua apa ketiga ya yang saya tulis. Haha. Yah semoga gak ngantuk bacanya 🙂

Andai Kamu Tahu

andai kamu tahuPagi indah, mentari masuk lewat celah jendela. Wangi yang tak biasa membangunkan saya dari tidur yang belum tuntas, 5 jam waktu tidur yang kurang. Meja kerja berantakan, kertas berserakan, tv semalam belum dimatikan. Sambil setengah terbangun saya beranjak dari tempat tidur. Kebiasaan setelah bangun saya adalah duduk berdiam di tepi tempat tidur, memandang keluar jendela yang tirainya sedikit terbuka. Saya takut terbangun di tempat berbeda yang tidak saya kenal, tapi ternyata tidak. Masih ada pohon palem, bunga mawar yang nyaris merekah, jalaran daun mesona menutupi sebagian tembok, ya berarti saya tidak bangun di tempat yang salah. Tidak seperti waktu itu. Sampai sekarang pun saya masih bertanya-tanya, apakah itu sebuah kesalahan atau bukan. Saya ingat kamu, saya ingat kedipan mata itu, senyuman yang nyaris membuat detak jantung berhenti setiap kali melihatnya. Saya takut, saya takut saya salah.

Andai kamu tahu.

***

“Kopi, jangan terlalu manis”

“Seperti biasa?” tanya dia. Rupanya dia sudah tahu kebiasaan saya jika kesini, karena saking seringnya.

“Ini, sesuai pesanan” disodorkannya secangkir kopi yang masih mengepul hangat.

“… dan ini tambahan ekstra buat pelanggan setia” sepiring gorengan pisang terhidang di meja saya, sekaligus memberi tambahan ekstra lagi, yakni senyuman. Hal yang tidak biasa yang dia lakukan. Deg!

 

“Oh ya, terimakasih” balas saya sopan namun tergagap. Apa ini? Sial jangan lagi!

Hari itu, saya pergi untuk pertama kalinya ke tempat ini. Rumah sederhana yang memiliki halaman cukup luas, rindang dengan pohon-pohon. Pohon beringin besar di tengah-tengah adalah rajanya. Di halamannya tersusun kursi-kursi dengan rapih, ornament jawa kental mewarnai tempat ini. Teman saya bilang, dari begitu banyak kafe di kota ini, tempat ini salah satunya yang ramah dengan isi dompet. Benar saja, selain menu yang ditawarkan ramah dengan dompet, wifi gratis yang ditawarkan pun memanjakan gadget saya dengan koneksi cepatnya. Saya memanggil pelayan karena sudah siap untuk memesan, tapi mereka sedang sibuk dengan pelanggan yang lain. Saya sabarkan diri untuk menunggu.

“Siap untuk memesan?”

Salah satu pelayan datang menghampiri saya,

“Ya, tolong segelas kopi jangan terlalu manis, dan… sandwich tuna satu” pesan saya. Tanpa mengulangi apa yang saya order dia pergi begitu saja, dengan muka juteknya.

***

“Kamu sedang apa disini?” saya melihat dia sedang duduk sendiri dan menangis. Orang-orang sekitar melihatnya, tapi tidak ada satu pun yang berani mendekatinya. Itu pun saya memberanikan diri mendekatinya karena saya tahu itu dia. Raya. Raya menangis tersedu di sudut rumah sakit.

“Kamu kenapa, Ray?” ulang saya. Dia masih menangis. Saya mengajaknya ke ruangan saya. Mempersilahkannya duduk. Tapi dia masih terus menangis. Saya bingung, saya ambilkan dia segelas air putih.

“Terimakasih” katanya sambil tersedu.

“Dia pergi tanpa pamit, Vi”

Dia? Dia siapa? Kataku dalam hati.

“Ehm, dia? Dia siapa, Ray?”

“Banyu.. Suamiku. Selepas operasi jantung tadi, dokter bilang kalau dia sudah tidak bisa ditolong lagi” ujarnya sambil menangis tersedu sehingga kata-katanya pun terbata.

“Aku turut berduka, Ray”

Terkadang menjadi hal yang sangat sulit bagi profesi saya ketika ilmu dan kemampuan yang kami punya masih belum bisa menolong orang lain. Ya memang ilmu yang manusia punya pun notabene tidak bisa mengalahkan kehendak Illahi. Melihat orang-orang menangis di lorong rumah sakit adalah hal biasa buat saya, hal biasa yang tentunya tidak membuat hati ini mati rasa yang lalu tidak dipungkiri juga ikut bersedih. Hari ini sedikit berbeda, saya melihat dia menangis. Menangisi kepergian suaminya, melihat dia begitu entah bagaimana saya seperti ikut tersakiti juga. Kamu, jangan bersedih. Ada aku disini.

***

“Adek kenapa nangis?” tanya saya pada seorang anak kecil yang menangis di sebuah mall. Tidak ada satpam atau satu pun yang menghampiri, mungkin benar kata orang kalau orang kota terkadang cuek dan individualis.

I lost my mom

“Wah.. Ayo sini kakak antar cari mamah kamu”

“Mamah aku bilang, jangan ikut sama orang yang gak dikenal”

Aku tersenyum, “Kalo gitu.. kita kenalan dulu. Nama kakak Vidi. Adek namanya siapa?”

“Rayhan” kata dia sambil menjabat tangan saya.

“Nah.. Kita udah saling kenal kan.. Kakak janji gak ngejahatin adek deh, kalo kakak ngejahatin adek, kakak siap ditangkap sama pak satpam!” kata saya membujuk. Dia pun mengangguk, tanda setuju untuk ikut saya ke bagian informasi.

“Mbak tolong ini diumumkan ada anak hilang ya, namanya Rayhan…” ujar saya pada operator di bagian informasi.

“Rayhan!” tiba-tiba ada yang berteriak dari belakang.

“Mamahhh…!” Rayhan berlari menuju yang nampaknya itu memang mamahnya. Dipeluknya orang itu.

“Terimakasih yaa” ujar ibunya. Saya tidak menatap wajahnya, karena sibuk dengan urusan administrasi di bagian operator informasi.

“Oh ya sama-sama” balas saya. Deg! Saya kaget, wajah itu saya kenal. Matanya, senyumnya.

“Vidi!” kata dia. 7 tahun sudah saya tidak mendengar kabarnya, setelah kematian suaminya saya tidak pernah tahu kemana Raya pergi. Dan sekarang dia ada di depan, dia sudah punya anak.

“Hei..” kata saya sambil tersenyum.

“Ini.. Anak kamu?”

Dia mengangguk. Saya agak kikuk, saya pun mengalihkan pandang pada anak kecil yang digandeng tangannya oleh Raya.

“Hey jagoan, akhirnya ketemu juga kan sama mamah? Lain kali kamu harus lebih hati-hati ya, jangan main kejauhan.. Mamahnya juga jagain jagoan kecilnya, jangan konsen sama belanjaan ah, hehe”

Dia tertawa. Rayhan tersenyum malu.

“Yasudah kalau begitu aku pergi duluan ya Ray..” pamit saya sambil berbalik pergi.

“Vi!” dia memanggil lagi. Saya menoleh,

“Ya?”

“Mau ngopi dulu sebentar? Kamu ada waktu kan?”

Duh saya punya kelemahan jika di depannya, setiap permintaan dari dia membuat saya sulit untuk berkata ‘tidak’. Saya pun mengangguk.

***

“Ray, terimakasih lho ekstra pisang gorengnya lagi kemarin” tetiba saja saya punya kekuatan untuk mengucapkan itu.

“Sama-sama vi.. Kamu gak dinas hari ini?”

“Nanti malam baru masuk”

Waktu itu dia memang menjuteki saya, tapi semenjak papahnya ternyata pasien saya, kami jadi semakin sering mengobrol. Saya memantau kondisi papahnya setiap kali, dia juga sering menanyakannya pada saya. Papahnya sakit diabetes, Raya sering menanyakan pada saya apa-apa saja yang mesti papahnya makan dan apa-apa saja yang mesti papahnya hindari. Dia seakan seperti mengadu pada saya jika papahnya nakal tidak mengikuti apa yang saya larang.

Saya jadi lebih sering ke kafe Raya. Selain karena wangi kopinya, ya karena disitu ada Raya. Raya membuat saya ingin terus datang kesana, melihat dia melayani pengunjung, kerepotan dia membuat pesanan, dan saya senang melihat itu dari kejauhan.

“Vi… Ini..” disodorkannya sebuah undangan. Apa ini? Un-dang-an pernikahan..

“Sebulan lagi aku mau nikah.. Namanya Banyu, teman kuliahku dulu. Setelah lama dia di luar negeri, akhirnya dia kembali. Ternyata LDR itu memang tidak mudah Vi. Kami putus nyambung, tapi akhirnya kami sama-sama sadar kalau kami sama-sama membutuhkan, dan satu minggu yang lalu dia melamar aku” ujarnya senang. Terlihat dari matanya, binar bahagia.

Saya termenung. Saya memang tidak pernah tahu jika Raya sudah memiliki… pacar.

“Oh kamu punya pacar juga toh.. Aku kira kamu ini jojoba, jomblo-jomblo bahagia” ujarku becanda, untuk menutupi ‘sakit’ ini.

Dia tertawa sambil memukuli lenganku.

“Aku gak pernah cerita ya sama kamu.. Maaf yaa” kata dia sambil nyengir.

Ray.. Sakit, Ray. Aku memang seorang dokter, tapi untuk yang ini aku tidak tahu apa obatnya.

***

“Kamu udah bangun?” sapanya sambil mendaratkan kecupan di dahi saya.

“Dimana ini?”

“Di rumah aku sayang… Masa kamu lupa sih? Semalem aku suruh kamu tidur sini, habisan si Rayhan maunya sama kamu melulu”

Ah iya, saya lupa. Saya memang tidak terbiasa menginap di tempat orang, tapi kali ini berbeda. Saya menginap di rumah Raya, dan semalam Rayhan memang merengek pada saya agar saya tidak pulang. Malam itu saya tidur di kamar yang asing untuk saya, di kamar Raya. Kalau tidak karena permintaan Rayhan, saya juga enggan menginap disini. Raya menyuruh saya tidur di kamarnya, bukan di kamar tamu. Dan entah kenapa saya pun menurutinya. Dia tertidur di sebelah saya, hangat dalam dekapan saya. Dia tidak tahu rupanya bagaimana deg-degannya saya sedekat itu dengannya. Lalu saya pun tertidur. Hangat rasanya.

Sudah disiapkannya sandwich tuna di atas meja makan. Rayhan sudah rapih dengan baju seragamnya.

“Pagi uncle, Vi” ujarnya sambil tersenyum dengan belepotan mayonnaise.

“Pagi jagoan!”

Dan kamu pun tersenyum. Ah, pagi ini indah. Hal berbeda yang saya rasakan. Rasanya hangat.

***

Ray, ijinkanlah saya untuk mencerna semua ini dulu. Satu hal yang pasti, aku sayang kamu dan Rayhan. Jangan pernah meragukan itu.

Pagi indah, mentari masuk lewat celah jendela.

“Vi, sarapan dulu ayo turun!” sahut Edo dari bawah.

Edo yang menemani saya semenjak kamu pergi Ray. ….  Andai kamu tahu.

– End –

#1

(Masih) Tentang Rindu

AvSaya cuma ingin kamu tahu, kalau ada rindu yang terpahat di situ, mungkin itu milik saya. Untuk kamu. Mungkin itu apa yang diujar terus dan akhirnya mengikisnya hingga lesak dan mengukirkan nama kamu.

Tidak, saya tidak meminta kamu mengujar dengan cara yang sama. Tidak juga meminta kamu membalasnya. Saya hanya ingin kamu tahu. Sesederhana itu. Kamu dan sekian hari yang entah akan menuntun ke mana. Mungkin begitu.