Semoga Menjadi Kenyataan

Apa yang sudah, sedang, dan akan saya lakukan? Kalau untuk sudah, saya bingung jawabnya. Kalau untuk sedang, rasa-rasanya belum lah memberi manfaat banyak bagi yang lain. Dan kalau untuk akan, banyak yang ingin saya lakukan hanya saja kesempatannya belum ada. Dicari, pasti. Saya sedang dalam proses melangkah ke fase selanjutnya, fase setelah saya lulus kuliah. Ya, melamar dan mendapatkan pekerjaan. Untuk beberapa hari ke depan ini, mimpi saya simple yakni diterima bekerja di perusahaan yang sedang saya lamar. Salah satu anak perusahaan dari penyuplai listrik di Indonesia, PT PJB. Saya harap saya bisa diberi kesempatan untuk bisa melangkah ke tahap tes selanjutnya, dan harapan besar saya adalah agar saya bisa menjadi salah satu karyawan disana, aamiin.

Mimpi saya tentunya untuk bahagianya saya, tapi dalam bahagia saya itu terkandung bahagia orang-orang yang saya sayang, keluarga saya. Oleh karenanya, jika saya mendapat pekerjaan bukan hanya untuk kelangsungan hidup saya nantinya, tapi untuk meringankan beban dan membantu keluarga saya. Semoga yang terbaik diberikan oleh Allah, aamiin.

Membangun ‘Tembok’

Di daun yang ikut mengalir lembut Terbawa sungai ke ujung mata Dan aku mulai takut terbawa cinta Menghirup rindu yang sesakkan dada

 

Lagu itu yang mungkin jadi soundtrack hidup saya akhir-akhir ini. Bukan apa-apa, itu semua hanya karena satu orang.

“Kamu dimana? Lagi ngapain? Anter aku yuk, ada yang mau dibeli di Supermall”

Sms masuk ke hp saya. Dari dia. Pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya menerka-nerka, ini apa? Dia teman saya, kami memang dekat, tapi sebelumnya tidak sedekat ini. Perhatian-perhatian yang dia berikan datang bertubi-tubi akhir-akhir ini. Dia selalu me-sms setiap pagi, siang, sore, bahkan malam. Sms manja, sms ingin diperhatikan, sms perhatian, sms-sms sepele yang membuat saya merasa dia butuhkan. Bukan tanpa alasan saya bicara begitu, lebih karena setiap dia ingin pergi jauh atau dekat dia selalu menghubungi saya untuk sekedar menemaninya.

Tapi terkadang dia juga menyebalkan, disaat saya yang sedang ingin bermanja-manjaan dengan dia, dia malah seakan cuek. Ah tidak adil! Begitu kata saya. Dia memang sudah punya pacar, LDR, dia menyebutnya begitu. Kemudian saya berpikir, pikiran negatif mungkin, saya hanya ‘dilihat’ ketika pacarnya sedang tidak ada disisinya (baik secara emosional maupun secara nyata). Sudah sering teori itu dibuktikan, misalnya ketika pacarnya sibuk bekerja sehingga untuk sekedar membalas smsnya pun jarang, dia pasti menghubungi saya untuk mengajak keluar.

Sampai pada akhirnya saya sadar, yang saya dapatkan dari dia adalah ‘kenyamanan semu’. Dia memang sudah mampu membuat hati saya cenat-cenut, pada awalnya begitu, tapi pada akhirnya saya mulai ‘mendinginkan’ hati saya kepada dia. Saya mulai jarang membalas smsnya, setiap dibalas saya jawab seadanya. Saya ingin membangun ‘tembok’ dengannya. Saya tahu dia teman saya, dan terlebih saya tahu saya cuma teman untuknya. Tapi maaf, saya harus membangun ‘tembok’ dengan kamu.

“Di rumah, lagi nulis aja. Gak ah males.”

 

 

… Dan aku mulai takut terbawa cinta Menghirup rindu yang sesakkan dada.

Melepaskan

Kemarin saya masih merengkuh harap itu. Tapi kini saya menyerah. Terkantuk realita yang ada. Kejam, tidak. Tapi memang begitu adanya. Sakit, memang iya. Tapi tak apa, saya sudah berdarah-darah dengan semua yang ada. Saya menyerah, dan memilih bangkit menyembuhkan luka. Tolong jangan tanya apa masih ada kamu disana.. Karna kamu pasti tahu jawabannya adalah, iya.

Percaya

#DearYou tidak ada yang benar-benar mau mendengarkan saya lagi. Mendengarkan saya bercerita tentang kamu. Mendengarkan saya bahwa saya bahagia walau hanya dengan mengingat kamu. Mereka bilang: bahagia kamu musibah buat aku. Tidak sedikit juga yang mengacuhkan, dan berkata:  bye! Ketika saya mulai bercerita tentang kamu.

Padahal saya percaya mereka itu teman. Padahal saya hanya butuh untuk di dengar. Tapi jika begitu yang bisa saya lakukan hanya menulis disini. Bercerita pada lembaran kertas maya ini. Mereka bisu, tapi mereka dengan sabar mendengarkan semuanya tentang kamu: tentang kangen, sedih, dan gembira.

Ada yang bilang, orang seperti  mereka itu hanya ada 2: membenci, atau berbicara di belakang kamu.

Saya berharap tidak ada yang termasuk dalam keduanya, tapi saya tidak tahu pasti. Mungkin begitu.

Mimpi dan Bagiannya

Menyentuh pagi, menengguk semangat di bulan baru. Selalu ingat mimpi, dibantu tengadahan tangan menundukkan kepala mohon bantuan pada Yang Kuasa.

Sapaan pagi menjadi sebuah energi, mengingatkan bahwa masih ada cinta disini. Apapun yang telah dan akan terjadi, selamanya tak akan terganti.

Bermimpilah yang besar. Target yang besar akan mudah untuk dibidik, lalu ditembak.

— posting-yang-seharusnya-diposting-tadi-pagi —