The Ugly Truth

“Maaf aku gak bisa sama kamu..”

Aku memperhatikan setiap kata yang dia ucapkan.

“Aku gak bisa membalas apa yang kamu rasa ke aku”

Aku masih diam melihatnya terus berbicara. Padahal aku juga tidak butuh jawaban, tapi mungkin baginya menegaskan apa yang dia rasa ke aku adalah sebuah keharusan.

“Kamu kok diem? Apa yang aku bilang menyinggung kamu ya” tanya dia.

“Aku tahu kok kamu bakal ngomong apa, makanya aku juga gak mau kamu jawab pertanyaan aku tadi. Saat aku berani mengatakan semua, maka saat itu aku tahu kalau aku harus kuat. Dan aku cukup kuat untuk menghadapi setiap kata-kata kamu” aku bicara juga akhirnya.

“Aku tahu setelah ini beberapa hal pasti akan ada yang berubah, tapi aku mau kamu tahu kalau dari aku aku akan tetap sama. Walau mungkin yang akan aku hadapi pasti jauh akan lebih sulit, kenyataan bahwa kamu akan menjauh. Tapi buat aku, setidaknya aku sudah jujur pada diri sendiri.. Amanda, maaf jika aku salah, salah dengan semua yang aku rasakan ini untuk kamu..” lanjutku. Dan dia hanya diam.

***

To: amanda@hotmail.com

Subject:

Amanda,

aku tahu dia dari cerita-cerita yang kamu ceritakan dulu ke aku. Kamu bilang dia orang baik, dan aku bilang beruntunglah dia bisa bersama kamu. Kamu bilang dia mendekatimu sudah lama dan saat itu kamu masih mengatakan tidak untuknya, aku bilang semua bisa berubah termasuk ‘tidak’ pada saat itu.

Amanda,

kamu mungkin gak pernah tahu betapa telingaku sakit setiap kamu sebut namanya, mataku perih ketika kamu menuliskan namanya, dan hatiku teriris ketika kata mesra diucapkan untuknya. Tapi aku tahu diri, aku tahu ini adalah risiko dari semuanya maka aku harus merasakan itu semua.

Amanda,

dengan siapapun kamu nanti, pastikan itu pilihan kamu sendiri yang berarti dengan dia lah kamu akan bahagia. Maka jika kamu bahagia, aku pun bahagia. Aku sedih jangan ditanya, sudah pasti iya, tapi kamu bahagia kan? Maka aku juga.

Amanda,

aku memang tidak bisa menyelam di lautan, bahkan menyelami pikiran dan hati kamu pun aku tidak ada kesempatan. Aku memang bukan dia yang pandai memotret setiap detail momen yang ditemui. Aku memang bukan dia yang mungkin banyak hal lebih yang dia punyai, dan aku tidak. Aku dan dia berbeda. Hanya saja buat kamu, aku seakan tidak terlihat. Aku dan dia sama, sama-sama ingin membahagiakan kamu. Hanya saja dia yang bisa lebih membahagiakan kamu.

Amanda,

aku ada untuk kamu seperti hujan yang datang disaat kemarau panjang, seperti penghapus yang dipakai untuk menghapus kesedihan, seperti bahu yang siap untuk setiap senderan kepala, seperti buku diari yang ditulisi tentang cerita senang dan sedih walau itu tentang orang yang dicintai si penulis, seperti memori di kepala yang walau hanya diingat sehitungan detik. Tapi sayangnya, aku seakan tidak terlihat.

Amanda,

bolehkah aku diberi kesempatan suatu saat nanti? Mungkin tidak untuk di kehidupan ini, mungkin nanti. Setidaknya berilah aku kesempatan. Boleh?

Aku mencintai kamu dengan caraku mencintai kamu. Maaf jika aku salah.

*Klik send e-mail

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s