A Letter

Dear London,

Gimana natalan di negeri Harry Potter? Jadi hal yang baru ya buat kamu. Salju dan cuaca dingin. Suasana kota yang pasti sangat kental dan meriah disana, karena disana hal yang menjadi mayoritas. Gak seperti disini.

Dear London,

Saya baru tahu kamu bisa main seluncur es, haha. Wajah kamu sumringah sekali. Iya saya liat itu lewat foto. Senyum dan wajah gembira itu yang sering ngebuat saya kangen. Kangen diam-diam.

Disana tempat mana yang biasa dijadikan pusat perayaan natal? Pinggiran sungai Thames? Atau Trafalgar square? Disini hanya saya dapat libur 2 hari. Sangat lumayan untuk rehat.

Baik-baik dan sehat-sehat disana ya. Kalimat yang sama yang sering saya bilang, mungkin kamu bosan.

Dear London,

Jaga dia ya disana.

Ps: kirim salju kesini dong, jangan lupa dibungkus senyuman kamu. Selamat hari natal bagi teman2 nasrani.

Curcol

Kasus posisi:

Di kantor mbak A gamau bantuin kerjaan mbak B dan C dengan alasan mereka jarang membantu pekerjaan mbak A. Mbak B dan C tahu kalau mbak A gamau bantuin kerjaan mereka. Lalu merek juga keesokan harinya gamau bantuin kerjaan mbak A. Mbak A berpartner dengan adek D. Adek D suka bantuin kerjaan mbak B dan C. Karena dia sadar bahwa mbak B dan C kadang suka bantuin juga. Bantuan sekecil apapun yang dilakuin mbak B dan C menurut adek D adalah hal yang sangat membantu. Tapi sayang mbak A gak punya pemikiran yang sama dengan adek D.
Mbak A gamau bantuin kerjaan mbak B dan C. Kemudian mbak B dan C membalas dengan gamau bantuin kerjaan mbak A dan adek D. Perhitungan. Balas-membalas. Tapi adek D punya pendirian sendiri. Dia gamau seperti mbak A, B, dan C. Selama kerjaan dia udah selesai dan bisa bantuin mbak B dan C maka dia akan mengerjakannya sebaik mungkin. Dia gamau punya pribadi jelek kaya mbak A, B dan C. Adek D korban keegoisan mbak-mbak senior. Adek D percaya ‘what goes aroun comes around’. Hal jelek sebaiknya jangan dibalas dengan hal jelek juga. Biar orang lain menilai berdasarkan tindakan nyata, bukan kata si ini dan si itu.

Sekian curcol dari seorang junior di kantor.

Candu

Ngobrol sama kamu itu kaya candu. Bikin nyandu. Padahal gak banyak. Bahkan terlihat seperti formalitas dan basa-basi. Tapi buat saya itu berarti. Tapi sebalnya kemudian itu semua meninggalkan candu. Ingin lagi dan lagi. Maka disini saya harus bisa menahan diri dari kecanduan akan kamu. Karna jika tidak, semua akan terlihat fana dan kembali hanya kesenangan belaka. Entah kapan kamu menjadi nyata hanya ada kamu dan aku menjadi kita..

Ps: kangen ini kaya choki2 yang gak habis2.

Katarsis

Sudah tak ada bangku untuk saya duduki. Duduk melihat kamu dari jauh. Kamu pergi. Menjauhkan diri. Membuat garis. Saya bangkit dengan luka. Lewat kata membekas luka di hati saya.

Semoga kamu tidak merasakan apa yang saya rasa. Semoga kamu tidak diperlakukan seperti saya diperlakukan kamu. Saya mau kamu bahagia. Dan pasti kamu bahagia. Dengan siapapun nantinya.
Aamiin.

Andai Kamu Jadi Aku

Kehilangan kamu adalah salah satu ketakutanku.
Kamu menjauh adalah ketakutanku satu lagi.

Dan itu semua terjadi. Kamu membenci. Kamu mencaci. Aku tertampar kata-kata kamu. Sakit membaca deretan huruf yang kamu kirim kala itu.
Ah andai kamu jadi aku. Ah andai kamu tahu rasanya. Sayangnya kamu tak pernah melakukan itu. What goes around comes around. Kali ini masa ku sakit oleh kata-kata dari orang yang sampai kini pun masih aku sayang. Suatu saat mungkin kamu bisa jadi ada di posisi aku.

Tak ada yang pernah tahu. Tapi jika saat itu datang, aku harap kamu ingat ketika kamu melakukan itu kepadaku. Aku harap kamu ingat sakitnya seperti apa.

Kamu tahu? Aku melawan luka. Aku menggiring benci agar tidak berdiam di hati. Aku benci kamu. Memang. Saat itu. Kini? Aku tidak tahu. Sayang? Iya. Masih.

Ah andai kamu jadi aku.