A Goodbye

image

Saya gak pernah tahu rasanya perpisahan di bandara. Tapi saya paham rasanya ditinggalkan.

Dia bilang dia akan pergi jauh. Dia akan pergi ke negeri ratu Elizabeth. Senang dan sedih bercampur saat itu. Tapi saya paham itu cita-citanya. Dan dia memang orang yang hebat yang bisa menggapai cita-citanya itu.

“Aku akan ambil master disana” kata dia sambil menyesap kopinya.

“Satu tahun. Mungkin waktu yang lama buat kamu. Tapi percayalah itu cuma sebentar. Aku tahu menunggu adalah hal yang sulit, tapi aku percaya kamu mampu, bisa, dan mau”

Saya menatapnya. Lebih tepat menerawang dengan pikiran ini dan itu. Bukan, bukan kekhawatiran. Bukan juga ketakutan. Rasa campur aduk. Sulit dijelaskan.

***

Dia bilang, dia sudah dapat kepastian pergi. Visanya sudah keluar. Malam pertama lebaran dia akan berangkat. Ah andai saya bisa dihilangkan oleh Copperfield dan bisa muncul disana, di bandara. Tapi waktu tidak berpihak pada saya.

***

Bunga sudah ditangan. Saya berlari sekuat tenaga saya. Lalu saya berhenti, 100 meter dari tempat dia berdiri. Dia sedang berbincang dengan teman-temannya. Dan pacarnya. Saya melihat troly sudah terisi oleh kopernya. Saya urungkan mendekat. Entah kenapa saya melemah.

“Dek boleh minta tolong?” Saya bertanya pada seorang anak kecil tukang bersih-bersih di bandara.

“Tolong sampaikan bunga ini ke orang yang ada di sebelah sana, bisa?”

Dia mengangguk tanpa banyak tanya kenapa. Mungkin apa yang saya lakukan sudah sering terjadi di bandara, dan entah sudah berapa orang yang dia bantu.
Saya melihat anak kecil itu mendekatinya. Lalu dia berbicara kepadanya sambil menyerahkan buket bunga itu, kemudian menunjuk ke arah tempat saya berdiri tadi. Iya tadi, karena saya sudah pindah tempat “bersembunyi”. Dia terlihat mencari-cari.

Maaf saya hanya bisa melepas kamu dari jauh.

Saya tinggalkan keriuhan lebaran di rumah, meminta izin ibu dan bapak untuk pergi sebentar ke bandara. Saya berlari keluar rumah, mengambil kunci mobil dan segera melesat ke arah bandara.
Sembari berdoa jalanan Jakarta baik pada saya hanya untuk malam ini saja. Saya memegang bunga yang sudah saya beli siang tadi di toko bunga dekat rumah. Saya tahu dia akan pergi.

***

“Kamu dimana? Kenapa kamu gak mendekat? Btw thanks bunganya. Sweet. Kamu mau menunggu setahun lagi?” BBM masuk ke hp saya.

“Dari sini aku bisa ngeliat kamu kok. Cukup. Aku takut jika mendekat. Takut merindukan senyum kamu, muka kamu, lesung pipit itu lebih lagi ketika kamu pergi. Jika nanti kamu benci sama aku, aku pun akan tetap menunggu sampai tangan kamu mau menjabat tanganku lagi. Jadi setahun mungkin akan jadi waktu yang sebentar dibanding itu. Semoga tercapai segala keinginan kamu yaa. Am gonna miss you, every day I will”
Sent.

“A thank you wouldn’t be enough. I Love you, always have and always will”

Aku hanya diam membacanya. Melihat dia masuk untuk check in. Menghilang perlahan dari pandangan saya.

— THE END —

Ini hanya cerita fiksi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s