Pemikiran Random

Kenapa kesehatan itu mahal? Mahal dalam arti sebenarnya. Saya melihat sepasang suami-istri pergi berobat ke dokter umum. Usia mereka menurut perkiraan saya sudah mencapai 60an, atau karena adanya beban kehidupan jadi mereka terlihat lebih tua, saya juga tidak tahu. Sang suami berkemeja putih agak lusuh dengan celana panjang berwarna hijau. Sang istri berkerudung cokelat disertai baju panjang dan celana panjang warna senada namun terlihat agak kumal.
Entah siapa yang sakit, yang saya lihat sih suaminya yang sakit. Mereka sudah ada ketika saya datang, menunggu namanya dipanggil di apotek. Nama sang suami pun dipanggil, si istri yang menghampiri. Disebutkan oleh apoteker harga obat yang harus mereka bayar. 575.000 Rupiah, sebut sang apoteker. Saya yang mendengarnya kaget. Sang istri berkata agak pelan dengan apoteker untuk minta dikurangi obatnya agar biayanya bisa lebih murah. Si apoteker pun membolehkan, kemudian dia masuk lagi ke dalam untuk mengurangi obatnya. Lalu tersebutlah angka 400 ribu sekian.

Saya merasa iba, tapi saya tidak bisa apa-apa. Tapi saya juga sadar bahwa tidak semua orang ingin dikasihani. Mereka juga mungkin begitu. Kemudian otak saya memproduksi pikiran-pikiran tentang: masih banyak orang diluar sana yang butuh pengobatan tapi mungkin tidak punya biaya; berhati-hati menempatkan rasa kasihan karena tidak semua orang memang mau dikasihani; bekerjalah yang baik dan giat agar nanti bisa membantu orang tua saya kelak; dll.

— Ruang tunggu praktek dokter, Sabtu 15 Februari 2014 —

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s