Sebuah Pemikiran

Malam ini tiba-tiba muncul pertanyaan di benak saya. Pertanyaan yang mungkin bukan mata yang dapat melihat, tapi hati yang merasakan.
Apakah bahagia itu terpatok atas norma?

Norma, yang katanya hukum yang ada di dalam masyarakat. Dia lahir dari hasil interaksi sosial manusia. Tapi tidak dengan norma agama. Karena itu adalah mutlak dari Tuhan, dan tidak dapat diganggu gugat.
Norma yang saya bicarakan adalah norma sosial. Karena untuk urusan agama tidaklah pantas saya membicarakannya. Agama adalah urusan hamba dengan Tuhannya, maka itu bukanlah judging orang terhadap orang lainnya.

Kenapa saya bertanya demikian? Saya baru baca cerita di sebuah artikel tadi, dan muncul lah pertanyaan itu.
Bahagia, hal kasat mata yang dapat dirasa oleh hati. Nyaman dan hangat. Tapi kadang mata dapat melihat bahagia itu. Dalam cerita yang saya baca itu saya dibuat takjub, apa-apa yang dilihat mata terkadang memang tidak perlu ditanyakan lewat mulut. Disitu sang pencerita bilang, bahwa dia melihat orang yang disayangnya berubah lebih ‘berwarna’ ketika seorang tetangga datang dalam hidup orang yang disayangnya. Dia tidak menghakimi ini dan itu, yang dia tahu orang yang disayangnya itu terlihat lebih bahagia semenjak sang tetangga itu datang ke kehidupannya. Si pencerita tidak menghakimi juga lewat norma sosial yang ada. Bahagia adalah segala-galanya, ketika ‘sakit’ yang dirasa dahulu. Dia tidak bertanya, apakah ada hal yang lebih diantara kedua orang itu. Yang dia tahu bahwa orang yang disayangnya bahagia. Cukup.

Hidup cuma 1 kali, jangan pernah hidup dengan hidup sebagai orang lain. Berbahagia. Hidup dengan baik. Jadilah sebaik-baiknya hamba taat kepada Tuhannya.
Selebihnya biar itu menjadi urusan Tuhan. Jangan pedulikan ini dan itu yang keluar dari mulut orang lain.

Setidaknya itu yang saya pahami.

Advertisements

Ndak Akan Pernah Nyesel

Nyesel tuh perbuatan percuma yang bikin kita lemah. Tapi nyesel juga bisa jadi penguat dan momen kebangkitan.

Hidup itu cuma satu kali, jadi buat apa punya rasa nyesel lama-lama.

Dan saya ndak pernah nyesel buat nyapa kamu duluan, ngajak ngobrol kamu duluan, sekalipun seakan convo nya itu cuma jalan satu arah.

Saya bakal tetap jadi supporter nomor 1 nya kamu (diluar keluarga dan orang dekat kamu), dan ndak akan nyesel untuk seperti itu 😀

Saya udah ikhlas kamu ‘pergi’, saya dengan hidup saya dan kamu dengan hidup kamu. Jalan masing-masing. Berkarya masing-masing. Semangat!!

Selamat yaa buat kamu, selamat atas sandangan profesi barunya, am so proud of you!

Cc: #DearYou

Meet a Stranger

Percaya gak? Kadang cerita sama orang yang gak dikenal itu jauh lebih plonk ketimbang dengan siapapun yang selalu kamu ceritakan. Beberapa hal tentunya.

Saya sih percaya. Itu yang saya alami. Dia teman yang baru saya kenal tapi kami sudah lumayan banyak bertukar cerita. Hal yang gak saya temuin ketika saya bercerita dengan teman yang biasa jadi ‘tempat sampah’ saya adalah si orang baru itu tidak menyindir, menjadikan bahan becandaan apa yang saya ceritakan ke dia.
Setidaknya saya tidak merasakan sakit hati dibecandain, tidak seperti yang kadang saya terima dari teman tempat saya bercerita.

Dengan orang asing saya hanya ingin didengarkan. Karena saya terkadang letih untuk mendengarkan. Itulah kenapa terkadang saya introvert. Tapi saya juga capek dengan posisi yang terus mendengarkan. Ah.
Sampai pada saatnya nanti, saya percaya kalau saya akan bertemu dia yang mau mendengarkan dengan antusias apapun yang saya ceritakan, memberikan tanggapan yang mampu membuat saya merasakan hangat dan lembutnya didengarkan. Dan begitu juga saya, saya yang tidak merasa capek ketika mendengar dia bercerita ini dan itu tanpa ada yang ditutup-tutupi. Saya dan dia pastilah bertemu di suatu saat yang tepat nanti (dan segera), dan kami sama-sama merasakan bahwa satu-sama lain adalah orang yang tepat selama ini.

Aamiin ya rabbal’alamin.

Berhati-hatilah

Manusia itu memang (katanya) tempat salah dan lupa. Tempat segala khilaf.

Hari ini saya melihat display image BBM seorang teman kantor, dia bilang: ketika orang menilai kita seakan mereka tahu segalanya abaikan saja, anjing tidak akan menggonggong pada orang yang dikenalnya.
Saya hanya senyum mringis aja bacanya. Bukan apa-apa, karena saya tahu track record dia. Dia punya gank di kantor, dan saya banyak dapat cerita ini dan itu tentang mereka. Selain cerita saya juga melihat langsung, dan memang bisa menilai mereka seperti apa.

Lucu aja, terkadang memang manusia lupa kalo mereka itu kadang seperti apa yang mereka katakan via dp BBM atau pm BBM. Dan saya melihat dp BBM dia seperti itu jadi lucu sendiri, karena sebenarnya itu buat dia. Hahahaa. Jadi lucu aja, dia adalah apa yang dia katakan. Hanya saja dia lupa pernah ada di posisi orang yang membicarakan orang lain itu. Hahahaha.

Itulah mengapa saya tahu dia, dan mereka seperti apa. Maka saya juga menjaga jarak dengan mereka-mereka yang menurut saya tidak banyak memberikan hal positif dan bermanfaat 🙂

Entah siapa yang dia maksud via dp bbm itu, tapi yang jelas bukan saya. Karena saat ini saya tidak lagi berurusan dengan mereka-mereka itu.

Hahahaa sumpah pengen ketawa..

Ya Allah jauhkanlah hamba dari orang-orang jahat, hal-hal buruk, dan kesewenang-wenangan orang lain, aamiin ya rabbal’alamin.

Si Bungsu

Apa itu adil? Manusia tidak akan pernah bisa berlaku adil. Bahkan terkadang kasih orang tua pun tidak begitu.

Hmm.

Waktu kecil katanya anak bungsu itu anak yang paling disayang. Sudah besar, si bungsu yang tumbuh menjadi lebih dewasa dibanding kakak-kakaknya. Si bungsu yang selalu dilaporkan akan ini dan itu dari apa yang terjadi di rumah, si bungsu yang melihat secara langsung ini dan itu, si bungsu yang bukan lagi menjadi anak yang dimanja (tapi tetap disayang) tumbuh menjadi seorang: pemikir, sandaran bahu bagi mereka, yang paling suka dimarahi karena ‘suaranya’ paling keras (menyuarakan apa yang ia lihat, dengar, rasakan, dan yakin jika itu suatu kebenaran).

Dibanding kakak-kakaknya, si bungsu juga anak yang perhatian, pemikir, pembuat keputusan, dan penurut. Tapi lagi-lagi selalu dia yang paling disalahkan jika dia menyuarakan apa-apa yang sebenarnya dipendam oleh mereka yang berada di tempat yang mereka sebut rumah.

Lagi.. Lagi.. Dan lagi. Semakin tumbuh dewasa, si bungsu berpikir bahwa kakak laki-lakinya lah yang sekarang lebih pantas disebut “bungsu”.
Dia tidak ada yang memarahi jika dia benar-benar melakukan kesalahan. Hal yang bungsu pikir aneh, dan menyebalkan. Lalu letak adilnya dimana? Si bungsu hanya bisa diam dan tidak tahu kemana harus bercerita dan mengadu. Mengadu pada makhluk nyata (selain Tuhan pastinya, karena mengadu pada Tuhan adalah hal yang tidak boleh tidak), bahkan kedua orang tuanya pun tidak benar-benar mendengarkan.

Si bungsu yang penurut, yang selalu jadi objek omelan pertama kali, yang masih mau disuruh ini dan itu, kini ingin berkata…..MENGAPA BEGITU, MAH, PAH?

Musuh dalam Selimut

Berhati-hatilah.

Mata gak bisa dibohongin. Apa yang dilihat, apa yang dirasain. Fakta berbicara. Maka garis jarak pun harus ditetapkan. Biar apa kata mereka tentang kita, tentang saya. Bapak bilang, hidup itu begitu jangan hiraukan apa kata orang terlebih lagi yang jelek-jelek tentang kita, karena bukan mereka yang nentuin masa depan kita.

Dunia itu gak berbentuk kotak, yang ketika kita berjalan terpentok sudut-sudut kotak itu. Dunia itu bulat, maka tidak akan ada hentinya dan tak akan ada ujungnya untuk terus melangkah. Berjalan mengerjakan apapun yang kamu suka, apa yang kamu usahakan dan kamu cita-citakan.
Saya, dan mereka. Garis batas saya gambar, jaga jarak, begitu tulisan yang saya buat.

— Jangan peduli apa kata orang tentang kita, apalagi yang jelek-jelek, bukan mereka yang nentuin masa depan kita *Bapak saya* —