I Won’t!

image

Dari kemarin sukses banget menjalankan weekend, yipyip!! Haha. Karena biasanya ndak bisa bener-bener ngelakuin weekend dengan khusyuk #hayah

Sosial media udah mulai banyak jaman sekarang. Saya termasuk yang memakainya. Dari mulai facebook sampai path. Cuma buat saya, ternyata ada beberapa impact negatif dari itu semua.
Bagi saya si pemikir (maksudnya hal-hal kecil aja suka saya pikirin #sifatjeleksaya), perkembangan ini dan itu dari orang lain seringnya membuat saya minder #sifatjeleklainnya Itulah mengapa saya suka sebal dan malas dengan sosial media.
Sebenernya saya kesal dengan diri saya sendiri sih. Terkadang ya rasanya tuh kaya……. Yah gitu deh. Harusnya ndak kaya gitu, tapi itu kenyataannya. Hmmm.

Yasudahlah. Sepertinya memang beberapa bagian dari hidup saya HARUS lebih diperjuangkan lagi.

SEMANGAT!!!!

Belajar Stop Motion

Jadi… Kalau mau bikin video stop motion yang ketje itu kuncinya adalah:

kreatif, ambil gambarnya pada posisi kamera yang tidak berubah (dengan kata lain supaya gak berubah harus pakai tripod), atur pencahayaan sebaik mungkin, dan saat edit atur sequencenya dengan baik, juga atur timing persecond gambarnya juga harus pas.

 

Noted.

Cerita Masa Lalu

Tiket ke Jakarta udah di tangan. Dapat tiket ini aja susahnya minta ampun. Awalnya bingung harus bilang apa ke bapak-ibu. Padahal mungkin momen yang sedang saya kejar itu bakal jadi momen terakhir dengan dia. Mungkin. Apa aja bisa terjadi kan di dunia ini?

Tapi saya juga gak mau bohong dengan bapak dan ibu kalau saya ke Jakarta mau ketemu siapa. Saya bilang ke mereka kalau saya kesana tujuannya apa dan ingin bertemu siapa. Juga kenapa saya ingin bertemu dengan dia, karena saat itu dia akan pergi jauh. Pergi ke tempat yang perbedaan waktunya 6-7 jam lebih lambat dari sini.

“Aku lagi sakit perut, aku gak bisa dateng ke tempat kita janjian sebelumnya”

Sms itu datang ketika saya baru datang dan sedang makan di kaki lima di bilangan Sudirman. Waduh, udah jauh-jauh kesini masa saya gak jadi ketemu dia.

“Trus gimana?”

Saya cuma balas begitu, karena saya juga gak enak mau memaksakan dia.

 

“Kamu dimana?” balasnya. Saya bilang saya sedang di Sudirman, lagi makan dengan teman.

“Yaudah kamu kesini aja, naik taxi yaa” balas dia. Wah iya juga sih ketimbang saya gak jadi ke tempat dia. Lalu saya iyakan, tapi teman saya khawatir dengan saya. Dia tahu saya baru datang ke Jakarta dan hari sudah malam ditambah lagi harus ke bilangan Jakarta Barat yang lumayan jauh dari Pusat.

Teman saya menyarankan untuk naik busway aja. Tapi hey saya aja gak hapal jalur-jalur busway. Saya bilang kalau saya lebih baik naik ojeg. Tapi teman saya lagi-lagi khawatir, apapun bisa terjadi di Jakarta, siapapun bisa menjadi pelaku kejahatan, termasuk tukang ojeg. Saya tambah bingung harus gimana, karena kalau naik taxi saya khawatir biayanya akan jauh lebih mahal. Dana yang saya bawa tidaklah banyak, apalgi saat itu posisi saya belum bekerja. Kemudian teman saya mengantarkan saya ke jembatan penyebrangan yang ada halte buswaynya, dia gak anter saya sampai halte busway kami berpisah di tepi jembatan. Di jembatan otak saya masih terus berputar memikirkan saya mesti naik apa. Karena jujur, untuk naik busway itu jauh lebih riskan. Saya benar-benar blank jalur busway, walau mungkin bisa tanya juga sih.

Ya sampai akhirnya kaki saya melangkah justru bukan ke halte busway, tapi ke sisi sebrang jembatan. Tujuannya untuk turun kemudian cari ojek. Alhamdulillah dapat. Dengan terus baca bismillah, minta perlindungan sama Allah, saya bilang mau ke daerah Kedoya, Jakarta Barat. Abang ojeknya ternyata baik, alhamdulillah saya diantar sampai ke tempat tujuan. Ternyata memang saya tepat naik ojeg! Kenapa? Karena kalau naik busway, halte terdekat dari tempat tujuan saya ternyata jauh. Nah kalau saya naik taxi, jalan ke arah sana macet pake banget! Gatau deh habis berapa kalau naik taxi. Fiuh.

Dia mengantarkan saya sampai stasiun Gambir. Saya pamit, saya berterimakasih untuk seharian penuh sama dia. Sebelum masuk boarding pass saya menyerahkan sesuatu yang sudah saya persiapkan dari rumah untuk dia. Saya peluk dia sebentar, lalu saya masuk ke dalam. Dari dalam pintu gerbang, saya balikkan badan untuk bisa ngeliat dia pergi sampai punggungnya hilang ditelan ramainya stasiun. Saat itu saya cuma bisa bilang ke diri saya, “Kalau hari ini adalah hari terakhir saya bisa ketemu kamu lagi, saya gak akan pernah menyesalinya”

***

Terimakasih Mah, Pah, sudah mau mengerti dan mengijinkan saya untuk bisa bertemu dia sebelum dia pergi jauh. Terimakasih untuk tidak bertanya ‘Kenapa’ dan ‘Siapa’. Setidaknya dia adalah salah seorang yang pernah ada dalam fase hidup saya, sampai pada saatnya dia akan pergi dengan sendirinya dari dalam kepala saya. Mungkin belum hari ini, besok, atau lusa.

Terimakasih kamu, untuk hal-hal yang mungkin kamu menganggapnya bukan sesuatu yang istimewa, tapi buat saya semua tentang kamu, semua hari-hari yang pernah sedikit dilewati bareng kamu, semua kumpulan cerita, kumpulan obrolan dari kamu, adalah istimewa. Kamu memang bukan segalanya, karena saya tahu kamu benci saya menuliskan ini, mungkin juga jadi hal yang memuakkan buat kamu. Terimakasih untuk tetap menganggap saya sebagai teman, walau bukan lagi jadi teman di sosial media.

🙂

***

Juli Akhir 2013

Jalan-Jalan

Siapa sih yang gak suka jalan-jalan? Gak mungkin kalau ada yang gak suka jalan-jalan. Kemana aja yang penting judulnya jalan-jalan. Ada yang suka ke pantai, ada juga yang suka hiking, bahkan ada juga yang sukanya cuma jalan-jalan ke mall.

Saya juga suka jalan-jalan, sendirian pernah, bareng-bareng pernah, sama orang yang disuka juga pernah. Poin terakhir tadi mah tepatnya ikut bantuin kerja, kerja sambil jalan-jalan, hehe. Saya benar-benar menikmati nikmatnya jalan-jalan itu justru bukan saat masih ada di dekat orang tua saya (ya walaupun jalan-jalan sama ortu juga pastilah ada kenikmatan tersendiri). Saat itu saya sedang menjadi anak perantauan di kota gudeg, nah merantau ke Jogja aja itu termasuk bagian dari jalan-jalan sih. Jalan-jalan dalam fase kehidupan #tsahh Haha.

Saat jadi mahasiswa tingkat pertama saya diajak jalan-jalan oleh teman saya ke daerah Karanganyar, Jawa Tengah. Disana ada Grojogan Sewu, air terjun. Jogja-Solo memang jaraknya gak terlalu jauh, dan Karanganyar itu letaknya dekat dengan Solo. Saya berangkat dari Jogja naik motor, dan itu jadi perjalanan pertama saya naik motor (tentunya tanpa bilang ke orang rumah kalau saya pergi jauh naik motor, hahaa). Ternyata jalan-jalan naik motor ke daerah yang punya waktu tempuhnya sekitar 2 jam cukup melelahkan. Tapi rasa lelah itu tergantikan dengan udara sejuk dan pemandangan yang aduhai indahnya!

Semenjak itu, saya dan teman saya yang ngajak saya pergi bareng itu udah jadi kaya partner in crime dalam soal jalan-jalan. Ya walaupun gak setiap ada waktu jalan-jalan dia selalu ngajak saya sih, tapi seringnya sih begitu. Jadi kaya ketagihan setelah perjalanan itu saya jadi punya history buat saya sendiri dalam soal jalan-jalan, dari pantai sampai gunung, dari pasar tradisional sampai kecapekan di supermarket, dari terminal ke terminal, dari pelabuhan ujung barat Bali sampai pelabuhan ujung timurnya, dari nyebrang Jawa sampai nyebrang Nusa Tenggara Barat.

Banyak cerita, banyak kenangan, dan dari jalan-jalan juga jadi nambah teman. Teman ke teman, dari satu jadi tiga, dari tiga jadi lima, dari lima jadi sembilan, lima belas, dst. Itu bisa jadi bahan obrolan yang gak ada matinya saat tua nanti, ngetawain hal-hal konyol yang dilakuin, ngetawain apaaa ajaaa yang seru-seru.

 

Saya kangen buat bisa jalan-jalan lagiiii!! ARRRGG!! Semenjak kerja, dan masih jadi tenaga kontrak agak susah cari waktu buat bisa jalan-jalan jauh gitu. Selain terpatok waktu, terpatok dana juga. Nanti juga kalau udah dapat jatah cuti, dalam setahun di tempat kerja saya cuma ngasih 6 hari cuti dalam setahun. Sigh. Tapi saya yakin lah, sayanya juga harus pintar-pintar mencari celah buat bisa nikmatin yang namanya jalan-jalan lagi. Ya paling tidak, jangan yang jauh-jauh dulu.

Sabar… Sabar.. Sabar…

 

“Traveling lah, banyak hal indah diluar sana. Bagian bumi, bagian dunia yang belum pernah dilihat dan dirasakan sebelumnya” 🙂

Am I Wrong?

Am I wrong for thinking out the box from where I stay?
Am I wrong for saying that I choose another way?
I ain’t trying to do what everybody else doing
Just cause everybody doing what they all do
If one thing I know, I’ll fall but I’ll grow
I’m walking down this road of mine, this road that I call home

So am I wrong?
….
For trying to reach the things that I can’t see?
….

Am I tripping for having a vision?
My prediction: I’ma be on the top of the world
Walk your walk and don’t look back, always do what you decide
Don’t let them control your life, that’s just how I feel
Fight for yours and don’t let go, don’t let them compare you, no
….

I LOVE INDONESIA

Panasnya pantura itu harus disyukuri kata dia. Beruntunglah Indonesia itu cuma punya dua musim, panas dan hujan. Bagi orang bule negara tropis itu surga, surga dimana matahari berlimpah disini. Gak kaya di negara mereka, mau dapet hangatnya matahari aja uh mungkin harus nunggu musim panas dulu kali.

Kata dia, beruntung juga bagi kita yang tinggal di Indonesia dengan makanan-makanan yang kaya rempah. Rasanya bisa enak, harum, dan pastinya berbumbu. Gak kaya disana, yang macam-macam kaya di Indonesia itu jarang bahkan mungkin mahal. Dapet kiriman dari Indonesia aja udah seneng, biarpun itu cuma bumbu-bumbu instan. Bisa mengobati lidah yang kangen sama masakan negeri sendiri. Ya pulang-pulang dari luar mungkin skill masak bisa nambah lah sedikit-sedikit, hehe.

Jadi, yaudah disyukuri aja apa yang dirasain dalam hidup. Hidup jauh dari ‘rumah’ ya resikonya gitu, tapi pastilah banyak harga yang akan dibayar dari semua proses yang sedang dan akan dijalanin nantinya.

Jadi, kamu kapan pulang? Pertanyaan yang gak perlu dijawab karena buat saya dimana pun kamu berada dan seberapa lama pun itu, nikmatin dan teruslah berkarya sebanyak apapun itu. Tapi kalau nanti kamu pulang, saya pasti akan berusaha untuk bertemu kamu lagi, sama seperti ketika kamu akan pergi jauh waktu itu.