Kamu

Kamu.
Kamu adalah nama yang slalu saya ketik di setiap mesin pencari yang saya buka.

Kamu.
Kamu adalah nama yang slalu saya simpan di setiap mesin pencari di setiap sosial media yang saya punya.

Kamu.
Menemukan kamu dari setiap pencarian yang saya lakukan, membuat saya tenang.
Karena saya tahu kamu ada.
Karena saya tahu kamu tidak kemana-mana.
Karena saya tahu bahwa kamu (setidaknya) baik-baik saja.

Karena kamu adalah harap.
Kamu adalah frasa arti dari kata berarti.
Kamu adalah proton plus neutron dari sebuah nukleus.
Kamu adalah dunia bagi saya yang kecil ini.

Kamu memang bukan segalanya, tapi segalanya akan hampa kalau tidak ada unsur kamu.
Diantara riuhnya hidup, mengingat kamu saja membuat saya tenang.

Kamu. Berlayarlah dengan saya. Bersama-sama.

Alur

Katanya kalau keluar alur itu aneh, abnormal, gak sejalan. Itu kata orang-orang yang mengikuti alur. Hidup harus begini, begitu. Habis sekolah, kerja. Habis kerja, nikah. Habis itu begini, habis itu begitu. Katanya sih alurnya begitu.

Trus.. kalau ada yang keluar alur ya dibilangnya aneh, abnormal, kok gitu sih. Di nyinyirin. Itulah pola hidup, katanya… Kita benar dan salah pastilah selalu ada yang ngomongin kita. Padahal siapa kita, seleb juga bukan, kan? Tapi ya itu lah..

Nah, otak saya capek buat berpikir tentang begini dan begitu. Lelah. Lelah dengan kekecewaan dan ketidaksejalanan semua. Kalau saya keluar alur, maka saya akan dikatakan aneh, abnormal, dan ih kok gitu sih. Gitu deh pasti.. Padahal semua orang pasti punya historynya masing-masing, baik yang terkatakan maupun yang disimpan sendiri. Yah sudahlah.

Saya capek, capek kecewa karena menyukai orang terlebih dahulu. I am tired being disappointed.

 

Apa sih itu menikah? Harus gitu? Perlu? Kebutuhan? Bukan kah saling menyayangi dan mencintai dan saling mempertahankan komitmen itu lebih baik? Hahahaa RANDOM. Sorry.

Kepada Kamu

Mencoba mengerti apa yang terkadang tidak dimengerti itu susah ya? Berdiri diantara teruskan dan pergi saja juga membuat banyak pertanyaan muncul. Teruskan akan apa yang dipunyai dan dirasakan tapi gak tahu akan sampai kapan dan seberapa babak belurnya sebuah penantian. Membiarkan pergi tapi seakan masih punya keyakinan bahwa pasti suatu saat nanti akan ada kesempatan.

Saya maunya kamu. Saya butuhnya kamu. Tapi kamu ada diantara ‘teruskan’ dan ‘pergi saja’ itu. Kamu adalah apa yang saya yakini. Sesuatu yang abstrak, tapi saya yakin bahwa nanti pasti akan. Kamu juga yang membuat saya bertanya pada diri sendiri “Mau sampai kapan?”

Entah seberapa rindu yang harus saya ucapkan supaya kamu tahu. Entah seberapa waktu sampai tiba masanya pasti akan. Entah sebanyak apa keyakinan yang harus saya beri supaya kamu tidak ragu. Dan entah seberapa banyak ini dan itu supaya kamu melihat saya bahwa saya sayang kamu.

Sehat

Akhir-akhir ini cuaca memang lagi gak nentu. Panas banget di siang hari, terus hujan gede pake banget di malam hari. Cuaca kaya gini rentan, rentan dengan penyakit. Kalau gak bener-bener ngejaga imun tubuh walhasil badan bisa drop.

Musim-musim kaya gini yang harusnya gak diremehin, kan gamau juga kalau sakit. Apalagi kalau kerjaan lagi banyak-banyaknya, wah harus ekstra jaga kondisi. Di kerjaan yang sekarang juga seakan beberapa hal-hal remeh tapi berat yang banyak ngehandle juga saya. Punya partner sih, tapi ya kan tahu sendiri kalau partnernya senior.. Hal-hal sepele tapi berat ya yang ngerjain yang junior. Gapapa deh, yang penting sayanya sehat dan fit.

Jadi, harus pinter-pinter jaga kondisi. Asupan vitamin juga gak lupa. Sehat sehat sehat!! Semangat!

Wanita Cantik Itu….

Pagi ini saya bersiap pergi ke kantor. Tas ransel yang biasa saya bawa sudah lengkap diisi dengan kebutuhan yang saya perlukan. Orang-orang kantor saya suka heran kenapa saya lebih suka memakai ransel daripada memakai tas-tas yang sewajarnya (menurut mereka) dipakai oleh seorang perempuan. Ck, bukan apa-apa saya memang terkadang kurang nyaman memakai tas-tas seperti itu. Ya setidaknya saya tidak ingin memikirkan apa kata orang.

***

Dia pergi begitu saja setelah saya bicara padanya. Dengan muka merah, merah karena marah. Dia mempertanyakan kenapa saya begini, kenapa saya pergi tanpa kabar. Dia tidak pernah mau benar-benar mendengar apa yang saya katakan. Terlalu egois, dia pergi begitu saja ketika saya sudah mulai menyukainya. SMS, BBM, whatsapp, line tidak ada satu pun yang dia balas. Sudah hampir 3 tahun, selama itu saya bertahan melawan kenang. Tapi kemudian dia datang. Dia datang ke kantor saya secara tiba-tiba.

“Bisa ketemu sama Dee?”

“Dee? Dee siapa?”

“Deelan Marish”

“Oh ya tunggu sebentar”

“Kapan kamu datang?”

“Sudah seminggu sampai di Indo”

“Lalu kenapa kamu kesini?”

“Gak boleh?”

Saya  diam.

 

“Kamu apakabar?” tanya dia.

“Baik. Seperti yang kamu lihat”

“Aku kesini cuma buat ketemu sama kamu”

Saya malas untuk sekedar bertanya kenapa semua pesan saya gak dia balas.

 

“Maafin aku ya. Maafin untuk semua pesan yang gak aku balas. Aku memang gak punya keberanian buat mengakui ini semua. Mengakui apa yang su..” kata-katanya terhenti, karena saya membungkam mulutnya dengan sejumput kerinduan yang selama ini saya juga pendam.

Saya tidak punya banyak kata memang, saya hanya ingin menumpahkan semua yang saya rasakan padanya. Bibir saya dan bibir dia bertemu, membungkam semua kata yang hendak dia katakan kepada saya. Biarlah mungkin saya terlalu bodoh, masih mau menemuinya setelah semuanya. Tapi saya tahu betul kalau saya memang merindukannya. Sangat.

***

“Sayang, makan siang belum?” line dari dia. Saya dan dia memang berhubungan jarak jauh. Satu tantangan yang kami hadapi.

“Nih lagi makan.. Kamu makan dimana? Sama siapa?”

“Ih kamu tuh yaaa kurang lengkap tuh nanyanya, hahaha. Ini sama Dena sama Iwan, makan sushi tei. Kamu bekal atau beli makan di warteg?”

“Ndak bekal, makan aja di warteg bawah. Enak banget itu sushi tei.. Mau dong yank… hehe”

“Nih ambil di mulut akuuu.. hahahaa bwekkk”

Dia datang ketika saya sedang melamun mengendarai sepeda sore-sore. Salah saya memang, saya yang melamun dan dia ngomel-ngomel saat itu. Sore itu, saya sedang berada di rumah Om. Berkunjung kesana memang kadang saya lakukan. Dilakukan ketika sedang kabur dari rumah.

“Ah maaf, mbak! Mbak gak apa-apa?” saya takut kalau-kalau dia terluka. Bodoh! Kenapa saya melamun ya.

“Makanya dong kalau naik sepeda tuh lihat-lihat! Jangan ngelamun!” omel dia.

“Iya mbak iya ma….af” saya sempat tercekat ketika wajahnya berbalik ke arah saya. Cantik.

***

Saya dan dia sudah tidak pernah bertemu lagi. Saya berhasil membiasakan semua yang saya punyai dan rasa untuknya. Stranger become lover. Lover become stranger.

 

*** TAMAT ***

I MISS YOU

Kangen.

Sudah seminggu ini yang slalu ada dipikiran tuh ya kamu. Terserang kangen setelah sekian lama coba buat gak terlalu ngerasain itu. Tapi apa daya, hal-hal semacam ini seakan bikin diri jadi lemah.

Kamu, hari-hari yang dulu pernah dialami bareng kamu, percakapan-percakapan sama kamu, jadi satu ramuan yang namanya….. Kangen.

 

I do really miss you. Then this feeling gonna disappear as usual, yes?

Dan muncul lagi setelahnya. Berulang.