Wanita Cantik Itu….

Pagi ini saya bersiap pergi ke kantor. Tas ransel yang biasa saya bawa sudah lengkap diisi dengan kebutuhan yang saya perlukan. Orang-orang kantor saya suka heran kenapa saya lebih suka memakai ransel daripada memakai tas-tas yang sewajarnya (menurut mereka) dipakai oleh seorang perempuan. Ck, bukan apa-apa saya memang terkadang kurang nyaman memakai tas-tas seperti itu. Ya setidaknya saya tidak ingin memikirkan apa kata orang.

***

Dia pergi begitu saja setelah saya bicara padanya. Dengan muka merah, merah karena marah. Dia mempertanyakan kenapa saya begini, kenapa saya pergi tanpa kabar. Dia tidak pernah mau benar-benar mendengar apa yang saya katakan. Terlalu egois, dia pergi begitu saja ketika saya sudah mulai menyukainya. SMS, BBM, whatsapp, line tidak ada satu pun yang dia balas. Sudah hampir 3 tahun, selama itu saya bertahan melawan kenang. Tapi kemudian dia datang. Dia datang ke kantor saya secara tiba-tiba.

“Bisa ketemu sama Dee?”

“Dee? Dee siapa?”

“Deelan Marish”

“Oh ya tunggu sebentar”

“Kapan kamu datang?”

“Sudah seminggu sampai di Indo”

“Lalu kenapa kamu kesini?”

“Gak boleh?”

Saya  diam.

 

“Kamu apakabar?” tanya dia.

“Baik. Seperti yang kamu lihat”

“Aku kesini cuma buat ketemu sama kamu”

Saya malas untuk sekedar bertanya kenapa semua pesan saya gak dia balas.

 

“Maafin aku ya. Maafin untuk semua pesan yang gak aku balas. Aku memang gak punya keberanian buat mengakui ini semua. Mengakui apa yang su..” kata-katanya terhenti, karena saya membungkam mulutnya dengan sejumput kerinduan yang selama ini saya juga pendam.

Saya tidak punya banyak kata memang, saya hanya ingin menumpahkan semua yang saya rasakan padanya. Bibir saya dan bibir dia bertemu, membungkam semua kata yang hendak dia katakan kepada saya. Biarlah mungkin saya terlalu bodoh, masih mau menemuinya setelah semuanya. Tapi saya tahu betul kalau saya memang merindukannya. Sangat.

***

“Sayang, makan siang belum?” line dari dia. Saya dan dia memang berhubungan jarak jauh. Satu tantangan yang kami hadapi.

“Nih lagi makan.. Kamu makan dimana? Sama siapa?”

“Ih kamu tuh yaaa kurang lengkap tuh nanyanya, hahaha. Ini sama Dena sama Iwan, makan sushi tei. Kamu bekal atau beli makan di warteg?”

“Ndak bekal, makan aja di warteg bawah. Enak banget itu sushi tei.. Mau dong yank… hehe”

“Nih ambil di mulut akuuu.. hahahaa bwekkk”

Dia datang ketika saya sedang melamun mengendarai sepeda sore-sore. Salah saya memang, saya yang melamun dan dia ngomel-ngomel saat itu. Sore itu, saya sedang berada di rumah Om. Berkunjung kesana memang kadang saya lakukan. Dilakukan ketika sedang kabur dari rumah.

“Ah maaf, mbak! Mbak gak apa-apa?” saya takut kalau-kalau dia terluka. Bodoh! Kenapa saya melamun ya.

“Makanya dong kalau naik sepeda tuh lihat-lihat! Jangan ngelamun!” omel dia.

“Iya mbak iya ma….af” saya sempat tercekat ketika wajahnya berbalik ke arah saya. Cantik.

***

Saya dan dia sudah tidak pernah bertemu lagi. Saya berhasil membiasakan semua yang saya punyai dan rasa untuknya. Stranger become lover. Lover become stranger.

 

*** TAMAT ***

Cerita Masa Lalu

Tiket ke Jakarta udah di tangan. Dapat tiket ini aja susahnya minta ampun. Awalnya bingung harus bilang apa ke bapak-ibu. Padahal mungkin momen yang sedang saya kejar itu bakal jadi momen terakhir dengan dia. Mungkin. Apa aja bisa terjadi kan di dunia ini?

Tapi saya juga gak mau bohong dengan bapak dan ibu kalau saya ke Jakarta mau ketemu siapa. Saya bilang ke mereka kalau saya kesana tujuannya apa dan ingin bertemu siapa. Juga kenapa saya ingin bertemu dengan dia, karena saat itu dia akan pergi jauh. Pergi ke tempat yang perbedaan waktunya 6-7 jam lebih lambat dari sini.

“Aku lagi sakit perut, aku gak bisa dateng ke tempat kita janjian sebelumnya”

Sms itu datang ketika saya baru datang dan sedang makan di kaki lima di bilangan Sudirman. Waduh, udah jauh-jauh kesini masa saya gak jadi ketemu dia.

“Trus gimana?”

Saya cuma balas begitu, karena saya juga gak enak mau memaksakan dia.

 

“Kamu dimana?” balasnya. Saya bilang saya sedang di Sudirman, lagi makan dengan teman.

“Yaudah kamu kesini aja, naik taxi yaa” balas dia. Wah iya juga sih ketimbang saya gak jadi ke tempat dia. Lalu saya iyakan, tapi teman saya khawatir dengan saya. Dia tahu saya baru datang ke Jakarta dan hari sudah malam ditambah lagi harus ke bilangan Jakarta Barat yang lumayan jauh dari Pusat.

Teman saya menyarankan untuk naik busway aja. Tapi hey saya aja gak hapal jalur-jalur busway. Saya bilang kalau saya lebih baik naik ojeg. Tapi teman saya lagi-lagi khawatir, apapun bisa terjadi di Jakarta, siapapun bisa menjadi pelaku kejahatan, termasuk tukang ojeg. Saya tambah bingung harus gimana, karena kalau naik taxi saya khawatir biayanya akan jauh lebih mahal. Dana yang saya bawa tidaklah banyak, apalgi saat itu posisi saya belum bekerja. Kemudian teman saya mengantarkan saya ke jembatan penyebrangan yang ada halte buswaynya, dia gak anter saya sampai halte busway kami berpisah di tepi jembatan. Di jembatan otak saya masih terus berputar memikirkan saya mesti naik apa. Karena jujur, untuk naik busway itu jauh lebih riskan. Saya benar-benar blank jalur busway, walau mungkin bisa tanya juga sih.

Ya sampai akhirnya kaki saya melangkah justru bukan ke halte busway, tapi ke sisi sebrang jembatan. Tujuannya untuk turun kemudian cari ojek. Alhamdulillah dapat. Dengan terus baca bismillah, minta perlindungan sama Allah, saya bilang mau ke daerah Kedoya, Jakarta Barat. Abang ojeknya ternyata baik, alhamdulillah saya diantar sampai ke tempat tujuan. Ternyata memang saya tepat naik ojeg! Kenapa? Karena kalau naik busway, halte terdekat dari tempat tujuan saya ternyata jauh. Nah kalau saya naik taxi, jalan ke arah sana macet pake banget! Gatau deh habis berapa kalau naik taxi. Fiuh.

Dia mengantarkan saya sampai stasiun Gambir. Saya pamit, saya berterimakasih untuk seharian penuh sama dia. Sebelum masuk boarding pass saya menyerahkan sesuatu yang sudah saya persiapkan dari rumah untuk dia. Saya peluk dia sebentar, lalu saya masuk ke dalam. Dari dalam pintu gerbang, saya balikkan badan untuk bisa ngeliat dia pergi sampai punggungnya hilang ditelan ramainya stasiun. Saat itu saya cuma bisa bilang ke diri saya, “Kalau hari ini adalah hari terakhir saya bisa ketemu kamu lagi, saya gak akan pernah menyesalinya”

***

Terimakasih Mah, Pah, sudah mau mengerti dan mengijinkan saya untuk bisa bertemu dia sebelum dia pergi jauh. Terimakasih untuk tidak bertanya ‘Kenapa’ dan ‘Siapa’. Setidaknya dia adalah salah seorang yang pernah ada dalam fase hidup saya, sampai pada saatnya dia akan pergi dengan sendirinya dari dalam kepala saya. Mungkin belum hari ini, besok, atau lusa.

Terimakasih kamu, untuk hal-hal yang mungkin kamu menganggapnya bukan sesuatu yang istimewa, tapi buat saya semua tentang kamu, semua hari-hari yang pernah sedikit dilewati bareng kamu, semua kumpulan cerita, kumpulan obrolan dari kamu, adalah istimewa. Kamu memang bukan segalanya, karena saya tahu kamu benci saya menuliskan ini, mungkin juga jadi hal yang memuakkan buat kamu. Terimakasih untuk tetap menganggap saya sebagai teman, walau bukan lagi jadi teman di sosial media.

🙂

***

Juli Akhir 2013

Jalan-Jalan

Siapa sih yang gak suka jalan-jalan? Gak mungkin kalau ada yang gak suka jalan-jalan. Kemana aja yang penting judulnya jalan-jalan. Ada yang suka ke pantai, ada juga yang suka hiking, bahkan ada juga yang sukanya cuma jalan-jalan ke mall.

Saya juga suka jalan-jalan, sendirian pernah, bareng-bareng pernah, sama orang yang disuka juga pernah. Poin terakhir tadi mah tepatnya ikut bantuin kerja, kerja sambil jalan-jalan, hehe. Saya benar-benar menikmati nikmatnya jalan-jalan itu justru bukan saat masih ada di dekat orang tua saya (ya walaupun jalan-jalan sama ortu juga pastilah ada kenikmatan tersendiri). Saat itu saya sedang menjadi anak perantauan di kota gudeg, nah merantau ke Jogja aja itu termasuk bagian dari jalan-jalan sih. Jalan-jalan dalam fase kehidupan #tsahh Haha.

Saat jadi mahasiswa tingkat pertama saya diajak jalan-jalan oleh teman saya ke daerah Karanganyar, Jawa Tengah. Disana ada Grojogan Sewu, air terjun. Jogja-Solo memang jaraknya gak terlalu jauh, dan Karanganyar itu letaknya dekat dengan Solo. Saya berangkat dari Jogja naik motor, dan itu jadi perjalanan pertama saya naik motor (tentunya tanpa bilang ke orang rumah kalau saya pergi jauh naik motor, hahaa). Ternyata jalan-jalan naik motor ke daerah yang punya waktu tempuhnya sekitar 2 jam cukup melelahkan. Tapi rasa lelah itu tergantikan dengan udara sejuk dan pemandangan yang aduhai indahnya!

Semenjak itu, saya dan teman saya yang ngajak saya pergi bareng itu udah jadi kaya partner in crime dalam soal jalan-jalan. Ya walaupun gak setiap ada waktu jalan-jalan dia selalu ngajak saya sih, tapi seringnya sih begitu. Jadi kaya ketagihan setelah perjalanan itu saya jadi punya history buat saya sendiri dalam soal jalan-jalan, dari pantai sampai gunung, dari pasar tradisional sampai kecapekan di supermarket, dari terminal ke terminal, dari pelabuhan ujung barat Bali sampai pelabuhan ujung timurnya, dari nyebrang Jawa sampai nyebrang Nusa Tenggara Barat.

Banyak cerita, banyak kenangan, dan dari jalan-jalan juga jadi nambah teman. Teman ke teman, dari satu jadi tiga, dari tiga jadi lima, dari lima jadi sembilan, lima belas, dst. Itu bisa jadi bahan obrolan yang gak ada matinya saat tua nanti, ngetawain hal-hal konyol yang dilakuin, ngetawain apaaa ajaaa yang seru-seru.

 

Saya kangen buat bisa jalan-jalan lagiiii!! ARRRGG!! Semenjak kerja, dan masih jadi tenaga kontrak agak susah cari waktu buat bisa jalan-jalan jauh gitu. Selain terpatok waktu, terpatok dana juga. Nanti juga kalau udah dapat jatah cuti, dalam setahun di tempat kerja saya cuma ngasih 6 hari cuti dalam setahun. Sigh. Tapi saya yakin lah, sayanya juga harus pintar-pintar mencari celah buat bisa nikmatin yang namanya jalan-jalan lagi. Ya paling tidak, jangan yang jauh-jauh dulu.

Sabar… Sabar.. Sabar…

 

“Traveling lah, banyak hal indah diluar sana. Bagian bumi, bagian dunia yang belum pernah dilihat dan dirasakan sebelumnya” 🙂

Sebuah Pemikiran

Malam ini tiba-tiba muncul pertanyaan di benak saya. Pertanyaan yang mungkin bukan mata yang dapat melihat, tapi hati yang merasakan.
Apakah bahagia itu terpatok atas norma?

Norma, yang katanya hukum yang ada di dalam masyarakat. Dia lahir dari hasil interaksi sosial manusia. Tapi tidak dengan norma agama. Karena itu adalah mutlak dari Tuhan, dan tidak dapat diganggu gugat.
Norma yang saya bicarakan adalah norma sosial. Karena untuk urusan agama tidaklah pantas saya membicarakannya. Agama adalah urusan hamba dengan Tuhannya, maka itu bukanlah judging orang terhadap orang lainnya.

Kenapa saya bertanya demikian? Saya baru baca cerita di sebuah artikel tadi, dan muncul lah pertanyaan itu.
Bahagia, hal kasat mata yang dapat dirasa oleh hati. Nyaman dan hangat. Tapi kadang mata dapat melihat bahagia itu. Dalam cerita yang saya baca itu saya dibuat takjub, apa-apa yang dilihat mata terkadang memang tidak perlu ditanyakan lewat mulut. Disitu sang pencerita bilang, bahwa dia melihat orang yang disayangnya berubah lebih ‘berwarna’ ketika seorang tetangga datang dalam hidup orang yang disayangnya. Dia tidak menghakimi ini dan itu, yang dia tahu orang yang disayangnya itu terlihat lebih bahagia semenjak sang tetangga itu datang ke kehidupannya. Si pencerita tidak menghakimi juga lewat norma sosial yang ada. Bahagia adalah segala-galanya, ketika ‘sakit’ yang dirasa dahulu. Dia tidak bertanya, apakah ada hal yang lebih diantara kedua orang itu. Yang dia tahu bahwa orang yang disayangnya bahagia. Cukup.

Hidup cuma 1 kali, jangan pernah hidup dengan hidup sebagai orang lain. Berbahagia. Hidup dengan baik. Jadilah sebaik-baiknya hamba taat kepada Tuhannya.
Selebihnya biar itu menjadi urusan Tuhan. Jangan pedulikan ini dan itu yang keluar dari mulut orang lain.

Setidaknya itu yang saya pahami.

Meet a Stranger

Percaya gak? Kadang cerita sama orang yang gak dikenal itu jauh lebih plonk ketimbang dengan siapapun yang selalu kamu ceritakan. Beberapa hal tentunya.

Saya sih percaya. Itu yang saya alami. Dia teman yang baru saya kenal tapi kami sudah lumayan banyak bertukar cerita. Hal yang gak saya temuin ketika saya bercerita dengan teman yang biasa jadi ‘tempat sampah’ saya adalah si orang baru itu tidak menyindir, menjadikan bahan becandaan apa yang saya ceritakan ke dia.
Setidaknya saya tidak merasakan sakit hati dibecandain, tidak seperti yang kadang saya terima dari teman tempat saya bercerita.

Dengan orang asing saya hanya ingin didengarkan. Karena saya terkadang letih untuk mendengarkan. Itulah kenapa terkadang saya introvert. Tapi saya juga capek dengan posisi yang terus mendengarkan. Ah.
Sampai pada saatnya nanti, saya percaya kalau saya akan bertemu dia yang mau mendengarkan dengan antusias apapun yang saya ceritakan, memberikan tanggapan yang mampu membuat saya merasakan hangat dan lembutnya didengarkan. Dan begitu juga saya, saya yang tidak merasa capek ketika mendengar dia bercerita ini dan itu tanpa ada yang ditutup-tutupi. Saya dan dia pastilah bertemu di suatu saat yang tepat nanti (dan segera), dan kami sama-sama merasakan bahwa satu-sama lain adalah orang yang tepat selama ini.

Aamiin ya rabbal’alamin.

Si Bungsu

Apa itu adil? Manusia tidak akan pernah bisa berlaku adil. Bahkan terkadang kasih orang tua pun tidak begitu.

Hmm.

Waktu kecil katanya anak bungsu itu anak yang paling disayang. Sudah besar, si bungsu yang tumbuh menjadi lebih dewasa dibanding kakak-kakaknya. Si bungsu yang selalu dilaporkan akan ini dan itu dari apa yang terjadi di rumah, si bungsu yang melihat secara langsung ini dan itu, si bungsu yang bukan lagi menjadi anak yang dimanja (tapi tetap disayang) tumbuh menjadi seorang: pemikir, sandaran bahu bagi mereka, yang paling suka dimarahi karena ‘suaranya’ paling keras (menyuarakan apa yang ia lihat, dengar, rasakan, dan yakin jika itu suatu kebenaran).

Dibanding kakak-kakaknya, si bungsu juga anak yang perhatian, pemikir, pembuat keputusan, dan penurut. Tapi lagi-lagi selalu dia yang paling disalahkan jika dia menyuarakan apa-apa yang sebenarnya dipendam oleh mereka yang berada di tempat yang mereka sebut rumah.

Lagi.. Lagi.. Dan lagi. Semakin tumbuh dewasa, si bungsu berpikir bahwa kakak laki-lakinya lah yang sekarang lebih pantas disebut “bungsu”.
Dia tidak ada yang memarahi jika dia benar-benar melakukan kesalahan. Hal yang bungsu pikir aneh, dan menyebalkan. Lalu letak adilnya dimana? Si bungsu hanya bisa diam dan tidak tahu kemana harus bercerita dan mengadu. Mengadu pada makhluk nyata (selain Tuhan pastinya, karena mengadu pada Tuhan adalah hal yang tidak boleh tidak), bahkan kedua orang tuanya pun tidak benar-benar mendengarkan.

Si bungsu yang penurut, yang selalu jadi objek omelan pertama kali, yang masih mau disuruh ini dan itu, kini ingin berkata…..MENGAPA BEGITU, MAH, PAH?

Dunia Diluar Sana

image

Saya ingin bisa melihat dunia. Tapi saya tahu kalau saya belum mampu. Kemudian saya punya cara, saya coba melihat dunia di luar sana lewat mata orang lain. Saya lihat dunia di luar sana lewat dunia maya. Saya lihat dunia di luar sana lewat akun sosial media. Saya membayangkan bahwa saya yang sedang berada disana. Aneh, ada campuran rasa senang, iri, mupeng, dan keinginan untuk bisa merasakan langsung apa yang mereka rasakan ketika menapakkan kaki dan hidup di bagian dunia sana.
Saya senang membaca blog teman saya yang sedang mengambil internship di Warsawa, saya senang membaca cerita travelingnya seorang selebtweet di Islandia, saya senang saat teman saya menceritakan bagaimana dia melewati hari-harinya di musim dingin, ah rasanya seperti apa yang tadi saya bilang 😀

Saya ingin melihat dunia yang mereka lihat, Tuhan. Beri saya kesempatan, saya mohon :’)