It’s My Turn

H-5 menuju hari bertoga, akhirnyaaa.. Alhamdulillah 😀 Saya akui harusnya ini semua saya kerjakan setahun yang lalu, tapi buat apa disesali, disyukuri saja :’D Ternyata ribet ya mau wisuda tuh.. Harus urus ini, urus itu, booking ini, booking itu, bla bla bla blaaaa. Wisuda buat saya emang cuma acara ceremonial, tapi buat mamah-papah saya pasti jadi hari yang sangat berkesan dan berarti :’) Yap, disana mamah-papah bisa lihat anaknya sudah menyelesaikan sekolah sarjananya… Dan itu semua bukan akhir, tapi awal dari ‘dunia’ yang sebenarnyaaa :’) Tapi saya yakin, dengan segala doa dan usaha semuanya akan dijalani dengan baik, ya walopun pasti ada kerikilnya 🙂

Jadi, saya di wisuda tanggal 20 November, dan harus sudah bersiap sebelum jam 6 pagi *gak bisa lebih pagi apa yaa -___-” UGM tuh selaluuu aja kalo ambil hari wisuda pasti gak pernah pas weekend, tapi weekdays. Padahal di minggu ini ada long weekend, kan lumayan ya mamah-papah jadi bisa jalan-jalan lebih lama dan gak repot ngurusin izin kerjaan.. Penasaran saya yang tomboy jadi berubah pas wisuda? Di dandanin, pake kebaya, yah pokoknya jauh dari biasanya deh. Yaudah yaa liat nanti aja, saya aja males ngebayanginnyaa :p

Semoga lancar-lancar, diberi kesehatan, diberi keselamatan untuk saya, keluarga yang mau ke Jogja, sampai sebelum wisuda datang dan setelah wisuda selesai dan keluarga kembali ke rumah dengan selamat, AAMIIN! 😀

Hari Eksekusi

Hula halo malam.. Entah berapa lama ini kertas maya tidak dijamah, hehe. Kabar gembira datang kemarin-kemarin.. Finally saya eSHak jugaaa! Alhamdulillah…. Perjuangan selama ini terbayar sudah. Perjuangan dari mulai sms yang dibales seadanya sama DPS, sms yang kadang di bales kadang gak sama DPS, nungguin narsum rese di instansi pengawas pangan dan obat itu, dan lain sebagainya terbayar LUNAS dengan nilai SEM-PUR-NA!! Alhamdulillah *sujud syukur*

Mari kita flashback saat 1 minggu sebelum sidang….

1 minggu sebelum sidang, saya yang dijanjikan hanya akan 1x revisi lagi oleh ibu dosen tercinta ternyata eh ternyata masih ada revisi lagi. Tapi Alhamdulillahnya revisi hal-hal kecil semacam huruf besar huruf kecil, EYD, dll. Saya pun mengerjakan saat itu juga (pagi saya ambil revisi, dan siangnya saya berikan lagi ke beliau). Saat saya memberikan revisi itu, beliau langsung meng-ACC skripsinya, asiiikk!! Saya pun berasa dapet energi tambahan, maka saya pun melaju secepat kilat ke kantor bagian saya untuk daftar sidang. Menanyakan beberapa hal yang harus dipersiapkan sebagai prasyarat sidang pendadaran.

Esoknya saya kembali ke bagian, saya heran tumben bagian belum mengeluarkan jadwal sidang. Padahal yudisium itu terakhir ada pada hari Jum’at pekan itu juga. Kami yang bersiap di dadar pun kebingungan. Memang kepala bagian saya orangnya super sibuk, hari ini bisa di kota A besoknya bisa di kota B, yah begitulah beliau. Sampai akhirnya, saya baru dikabari kalo akan sidang ketika H-1, dan itu pun belum tau siapa penguji saya. Maka saya pun menanyakan ke sekretaris bagian, beliau bilang siapapun pengujinya saya harus siap dan banyak berdoa.

Hari H pun tiba, saya baru mengetahui bahwa penguji saya adalah pak Parip, pak Veri, dan bu Dina (DPS saya). Saya kedapatan jatah 2 hari sidang, hari pertama, Kamis 18 Oktober 2012, saya rencananya diuji sama pak Veri dan bu Dina. Baru esoknya sama pak Parip, karna beliau dekan kampus saya maka dia bisanya besoknya. Kesabaran saya pun diuji lagi, saya yang sudah datang pagi jam setengah 8 saya sudah di kampus, harus diundur sidangnya karna pak Veri dan bu Dina baru bisa menguji jam 11 nanti. Maka saya pun pergi sarapan dulu. Ohiya, malam sebelum sidang saya bener-bener gak bisa tidur. Akhirnya saya pun merasakan apa yang Agung, Iis, Anin, Eka rasakan saat mau sidang, hahahaaa. Sebelum jam 11 saya sudah tiba di kampus. Baru aja duduk saya sudah dipanggil ke dalam untuk diuji oleh pak Veri. Saya masuk, lalu saya diuji dengan pertanyaan awal seputar judul saya, selanjutnya mengalir begitu saja. Ohiya sistem sidang di bagian saya, Hukum Dagang/Hukum Bisnis, diuji oleh 3 penguji dan sistemnya kaya interview gitu face to face. Alhamdulillahnya pertanyaan dari pak Veri bisa saya jawab dengan lumayan lancar dan ngena. Akhirnya saya keluar ruangan setelah diuji oleh pak Veri, saatnya menunggu bu Dina untuk menguji saya. Sampai setelah dzuhur bu Dina gak nongol-nongol padahal udah di sms sama ketua bagian tapi smsnya tidak dibalas-balas. Akhirnya saya yang harusnya saat itu diuji terlebih dulu oleh bu Dina, ini malah diuji dulu oleh pak Dekan. Karna yang diuji pak Dekan hanya saya dan 1 lagi mas-mas, saya pun menunggu dengan dia. Dia menceritakan bagaimana pak Dekan mau menguji hari itu padahal harusnya jadwal dia menguji adalah besok Jum’at, tapi ternyata ketika si mas dkk nya sedang nongkron di kantin pak Dekan lewat dan teman-temannya itu memanggil pak Dekan sambil bilang kalo mas itu belum sidang dan sidangnya itu diuji oleh pak Dekan. Lalu pak Dekan menghampiri mereka (padahal seharusnya mahasiswa yang menghampiri beliau) dan berkata kalau si mas itu disuruh mengikuti beliau ke ruangannya untuk ujian pendadaran. Jadilah saya diberitahu bahwa pak Dekan akan menguji pada hari itu. Saya yang sedang menunggu bu Dina segera ke ruangan dekanat. Sampailah kami diuji, mas itu dulu yang masuk baru saya. Setelah dia keluar, saya masuk. Di luar perkiraan saya, pak Dekan menguji dengan gaya santainya seperti biasa. Beliau sangat sangat sangat ramahhhhh! Beliau tau cara mengurangi nervous yang sidang pendadaran, fiuh. Lalu Alhamdulillah saya pun mengakhiri hari itu dengan sempurna!! Alhamdulillah. Saya pun kembali ke kantor bagian saya, menunggu bu Dina yang belum kunjung datang. Ah padahal udah di sms dan segala macam, tapi ternyata beliau baru mengabari setelah pukul 2. Bu Dina tidak bisa menguji hari itu, maka jadwal pun diubah menjadi besok siang jam 11.

Hari kedua ujian,

Saya datang jam setengah 11 dan menunggu di depan bagian internasional, kantornya bu Dina. Sampai jam 11 bu Dina belum datang, akhirnya pukul 11 lebih beliau datang. Saya masuk pertama. Beliau menanyakan seputar penelitian lapangan saya. Saya pun bisa menjawabnya dengan Alhamdulillah.. Walaupun ada revisi di bagian bab IV dan bab V tapi gak banyak, Alhamdulillah SH pun ditangan. Nilai keluar dan Alhamdulillah lagi nilainya sempurna :’D Perjuangan selama 5 tahun 1 bulan :’D

 

Terimakasih Allah SWT, terimakasih untuk semua kemudahan keringanan kelancaran dan kelulusan selama sidang pendadaran, terimakasih tiada terhingga… :*

 

Terimakasih juga buat,

mamah-papah-aa-teteh-dede dhila

Agung, Iis, Epti, Eriana, Wisnu, Anin, Eka, Dessy, Kiki, Febri, Kakak Tiara, Sheila, Puji, Amanda

Terimakasih tiada terhingga untuk setiap doa dan dukungannya :’D

 

TERIMAKASIH SEMUAAAA

Cerita Siang Hari

Siang yang terik di Jogja, dan kosan mati lampu. Saya pun keluar mencari secercah listrik nyala. Finally terdamparlah saya di Togamas. Sebenarnya saya mau ke Djendelo kafe yang terletak tepat diatas toko buku Togamas, tapi apa daya ketika saya datang tempatnya pun belum buka. Lalu saya putuskan untuk membaca buku dulu di Togamas. Tepat di pintu masuk, saya melihat bukunya mba Asma Nadia, dulu saya sempat membaca bukunya yang ‘Catatan Hati di Setiap Sujudku’ dan itu bagus banget. Kali ini saya melihat dan tertarik dengan bukunya yang judulnya ‘Catatan Hati di Setiap Doa’ (kalo gak salah ingat itu judulnya, hehe). Sambil menunggu kafenya buka, saya pun membaca itu. Ada 2 kisah yang membuat saya nyaris menangis (tapi saya tahan karna saya sadar saya sedang di tempat publik, hehe).

Cerita pertama mengisahkan tentang seorang anak yang jauh dari keluarganya. Anaknya ini sudah berkeluarga sendiri dan harus menetap di luar negeri. Saat itu dia mendapat kabar jika ayahnya sakit, koma selama beberapa hari. Karna dia jauh dari rumah, si anak hanya bisa mengetahui kabar ayahnya via telfon walaupun sebenarnya si anak ingin sekali pulang ke Indonesia. Apa daya saat itu tiket murah belum didapatnya. Dia pun berdoa sama Allah, tidak hentinya dia berkata: Ya Allah jika ini memang saat terakhir hamba bertemu ayah hamba maka pertemukanlah hamba dengannya, ijinkan hamba untuk bisa ada disamping beliau disaat terakhir beliau. Pada suatu hari ibunya menelfon jika ayahnya sudah sekarat, ibunya meminta dia untuk mengucapkan beberapa doa ditelinga ayahnya, dia pun berkata lewat telfon: yah ini beby. Sontak ayahnya tiba-tiba menjawab: ya beby.. Orang-orang yang ada disekeliling ayahnya pun kaget, padahal sebelumnya sang ayah koma selama beberapa hari. Dengan menahan isak diujung telfon, si anak pun mulai menuntun ayahnya membacakan doa, Subhanallahnya sang ayah dapat dengan lancar mengikuti doa yang anaknya ucapkan. Terlebih lagi setelah itu, si anak mendapat kemudahan untuk pulang ke Indonesia, tiket murah sudah ditangan, dan ayahnya pun semakin membaik.

Cerita kedua, seorang anak yang dekat dengan ibunya. Jarak mereka hanya 18 tahun. Mereka sering pergi berdua, berbelanja bersama, hingga dikira adik-kakak. Suatu hari, di dada ibunya terdapat benjolan yang ternyata itu adalah kanker paru-paru. Suami dan anak-anak ibu itu terkejut, tidak pernah menyangka sebelumnya. Si ibu yang dulu sehat dan segar bugar, terpaksa harus menepuh 20x radiotherapi dan 7x kemotherapi, dan itu pun kata dokter belum dijamin bisa membunuh sel kankernya. Selama menjalani terapi-terapi tersebut, si ibu belum juga terlihat membaik, badannya mulai mengurus, rambutnya habis akibat kemo, dan punggungnya terbakar akibat radioterapi. Suami dan anak-anaknya pun telah menghabiskan banyak dana untuk kesembuhan sang ibu. Anaknya berdoa pada Allah, pada saat ibunya terdeteksi menderita kanker, sang anak berdoa: ya Allah sembuhkanlah ibuku; ketika di tengah perawatan ibunya yang tidak kunjung membaik juga, doa sang anak diubah: ya Allah sungguh kami pasrahkan semua kepada-Mu karna hanya Engkau yang dapat memberikan yang terbaik dari yang terbaik; di penghujung setelah vonis dijatuhkan dokter, sang anak berdoa: ya Allah jika ini menyiksa ibuku tolong angkatlah rasa sakit itu dari ibuku, aku percaya yang terbaik menurut-Mu. Setelah beberapa lama menjalani perawatan yang ada sang ibu wafat, dan keluarga mereka pun ikhlas. Walaupun sesekali si anak merindukan hari kebersamaan bersama ibunya.

Yang saya pahami dan mengerti dari buku yang saya baca itu adalah: jangan meremehkan kekuatan doa, Allah itu ora sare, Dia mengetahui segala yang ada di dalam hati sekalipun di yang paling dalam. Allah mengabulkan doa dengan 3 cara: mengabulkan apa yang dimohon pada saat itu,  menggantinya dengan yang lebih baik, dan menundanya serta memberikan yang terbaik. Definisi doa pun gak cuma menengadahkan tangan sambil meminta kepada-Nya, doa pun adalah ikhtiar untuk bisa berjuang mencapai apa yang dimohonkan. Nah, dikala saya sedang ‘jatuh’ seperti akhir-akhir sembari mengingat mamah yang marah-marah sama saya gara-gara tugas saya sebagai anak ada yang belum selesai, saya pun merasa terangkat sedikit semangat yang ada. Mungkin ada beberapa hal dari cara saya berdoa, dari isi doa saya yang salah, sehingga kemarin-kemarin saya merasa kurang semangat dan malas-malasan. Saya gak mau kehabisan waktu, saya mau selama kedua orang tua saya masih ada saya bisa memberikan yang terbaik kepada mereka. Kehilangan dan melihat diryu sudah bersama orang lain memang menyakitkan, tapi saya paham ada yang jauh lebih menyakitkan dari sekedar hal tersebut, yakni suatu saat kehilangan kedua orang tua saya. :”( Maka saya pun harus meluruskan niat saya, saya sayang diryu tapi saya harus lebih sayang dengan orang tua saya dan diri saya sendiri. Serta jauh lebih sayang sama Allah. Bismillah. Ya Allah beri saya waktu untuk bisa membahagiakan kedua orang tua saya, selama saya dan beliau-beliau masih diberikan nafas di dunia ini, maka saya sebagai anak hanya ingin membahagiakan mereka. Saya percaya untuk saat ini mungkin saya belum bisa mendapat cinta dari orang yang saya sayang (diryu), tapi untuk saat ini maka ijinkanlah saya untuk bisa memberikan yang terbaik dulu untuk mamah-papah. Maka tetaplah isi kekosongan hati dan pikiran dalam diri saya, jangan tinggalkan saya barang satu detik pun, saya ingin bahagiakan mamah-papah dengan jerih payah yang saya punyai dan perjuangkan, untuk yang terdekat ini saya mohon Allah bantu saya untuk bisa menyelesaikan tugas akhir kuliah saya sehingga mamah-papah bisa melihat saya mengenakan toga, begitu sekiranya hal simple dekat-dekat ini yang diminta oleh mamah-papah. Aamiin ya rabbal’alamin.

Maka Berjuanglah

Terlambat. Mungkin begitu. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk tetap dan terus berjuang. pasang saja kacamata kuda, agar tidak melihat kiri dan kanan, melihat hanya ke depan. Pasang saja headset di telinga, agar tidak mendengar nada-nada sumbang dan cibiran. Hidup sudah sulit, maka akan lebih sulit jika sibuk mendengarkan apa kata orang. Maka berjuanglah, buat diri bangga, buat mereka tersenyum lega. Maka berjuanglah. Walau mungkin sudah terlambat beberapa kali. Tapi pastikan ini yang terakhir. Yakinkan. Berusahalah.

Sebuket Bunga Untuk Mamah

Mah, selamat ulang tahun! Lihat uban mamah makin banyak *plak*digaplok mamah, hehe* Tapi buat dek seberapa banyak pun uban mamah, mamah tetap seksoy kok.. Mah, maaf ya kalo adek masih sering ngecewain, masih belum bisa bikin bangga. Anak mamah yang satu ini masih bandel, belum lulus kuliahnya, adek gamau bikin excuse adek cuma mau minta maaf (entah yang keberapa kali, dan terimakasih untuk bisa mengerti alasannya apa dan kenapa *peluk mamah erat-erat). Mah, adek punya list doa yang panjaaangg banget buat mamah di ulang tahun ini, adek udah bikin proposal ke Allah, udah disampein langsung juga.. Semoga mamah sehat selalu, diberikan kebahagiaan dunia-akhirat, diberikan slalu rizki yang halal dan melimpah, diberikan keberkahan hidup dalam setiap langkah kehidupan, awet sama papah sampai kakek-nenek sampai kumpul lagi di akhirat, diberikan slalu senyum dalam setiap hari yang ada dalam hidup, dihapuskan sgala kesedihan baik di wajah maupun di hati, ibadahnya slalu slalu dan bertambah rajin, bisa naik haji lagi (semoga dengan biaya dari adek), tetap dan semakin menjadi istri ibu dan nenek yang baik bagi kami semua, segala kebaikan doa untuk mamah, semoga Allah mendengar dan mengabulkan, aamiin ya rabbal’alamin…

Sore ini, mamah bilang: kamu kok romantis banget sih ngasih-ngasih mamah bunga? Ngerepotin Puji juga tuh kamu..

Saya bilang: hehee *nyengir* semoga mamah suka yaa.. Baru tahu anaknya romantis? Si mamah kemane aje.. *nyengir lagi*

Mamah bilang: mamah mau kado kamu skripsi selesai dan lulus yaa

Saya bilang: Iya mah, doain. Tapi sepertinya Mei itu sidang, bukan wisuda. Maaf terus mengecewakan 😦

Mamah bilang: iya gapapa, yang penting adeknya gak setres yaaa

Saya bilang: (rahasia, karna disini saya mewek :”( )

Mamah, sekali lagi maaf masih mengecewakan dan belum bisa membanggakan.. Sayang mamah selalu, gak peduli seberapa pun kecewanya yang kemarin-kemarin, sayang mamah selalu. Terimakasih buat segala kasih sayang dan pengertiannya.

FOCUS

Bagian yang ini dalam kehidupan saya, disebut SKRIPSI. Sebuah hal yang memerlukan tingkat kefokusan tinggi dan tidak boleh ditinggalkan terlalu lama, karna FATAL akibatnya yakni bisa berhenti lama juga *menghela nafas. Jika ingin melanjut ke fase berikutnya, bagian yang ini HARUS bisa terlampaui. Satu kata yang didalamnya jika terselesaikan akan banyak kebahagiaan yang buncah dari kedua orang tua. Walau tidak tahu apa yang akan ada nanti untuk fase berikutnya, ah kan jangan berpikir yang belum terjadi, mewanti-wanti sih gak apa-apa. Lihat lah sudah banyak yang bisa melewatinya, maka kamu juga bisa, pasti! Semalam bermimpi kalau saya di sidang, wah rasanya itu mmm rasanya itu deg-degan campur senang! Itu baru di mimpi, pasti aslinya lebih dahsyat! Nah jika bisa fokus di yang sekarang, (mungkin) yang lain-lainnya (entah itu bahagia atau sedih) yang ingin dikerjakan bisa terasa sedikit ringan. Kuncinya adalah FOKUS. Bisa?