Kebebasan

Akhir-akhir ini saya merindukan kebebasan. Kebebasan dimana saat saya menjadi seorang pelajar. Pelajar yang merantau. Hahahaa.

Mungkin karena tekanan pekerjaan yang sedang padat-padatnya,  sehingga pikiran saya sangat butuh pintu keluar untuk LIBURAN.

Aaahh saya mauu liburannn… Mau menjejakkan kaki di tempat bernama pantaiiiii…

I LOVE INDONESIA

Panasnya pantura itu harus disyukuri kata dia. Beruntunglah Indonesia itu cuma punya dua musim, panas dan hujan. Bagi orang bule negara tropis itu surga, surga dimana matahari berlimpah disini. Gak kaya di negara mereka, mau dapet hangatnya matahari aja uh mungkin harus nunggu musim panas dulu kali.

Kata dia, beruntung juga bagi kita yang tinggal di Indonesia dengan makanan-makanan yang kaya rempah. Rasanya bisa enak, harum, dan pastinya berbumbu. Gak kaya disana, yang macam-macam kaya di Indonesia itu jarang bahkan mungkin mahal. Dapet kiriman dari Indonesia aja udah seneng, biarpun itu cuma bumbu-bumbu instan. Bisa mengobati lidah yang kangen sama masakan negeri sendiri. Ya pulang-pulang dari luar mungkin skill masak bisa nambah lah sedikit-sedikit, hehe.

Jadi, yaudah disyukuri aja apa yang dirasain dalam hidup. Hidup jauh dari ‘rumah’ ya resikonya gitu, tapi pastilah banyak harga yang akan dibayar dari semua proses yang sedang dan akan dijalanin nantinya.

Jadi, kamu kapan pulang? Pertanyaan yang gak perlu dijawab karena buat saya dimana pun kamu berada dan seberapa lama pun itu, nikmatin dan teruslah berkarya sebanyak apapun itu. Tapi kalau nanti kamu pulang, saya pasti akan berusaha untuk bertemu kamu lagi, sama seperti ketika kamu akan pergi jauh waktu itu.

Sayang Kalian

Saya sadar bahwa hidup tidaklah mengalami stagnasi. Hidup itu berjalan. Waktu berbunyi tik tok menandakan bahwa ia hidup.

Saya sadar, bahwa disaat saya bertumbuh dewasa uban di kepala kedua orang tua juga bertambah. Papah dan mamah sudah tidak muda lagi, mereka menjadi sepuh.
Papah yang sudah mulai agak sering sakit-sakitan. Hari ini saya membelikan papah sebuah tongkat bantu untuk berjalan. Ya, asam urat papah kumat lagi. Kakinya terasa nyeri sehingga sedikit kesulitan berjalan.

Hari ini saya belikan papah tongkat. Pulang kerja saya ke tempat yang saya tahu jual tongkat. Ketika saya sampai rumah saya bilang ke papah “Pah ini buat papah, maaf ya pah kalo papah mungkin tersinggung tapi de kasian ngeliat papah jalannya begitu”
Papah dengan suara agak terbata cuma bilang makasih. Saya terharu. Papah ndak tersinggung dan ndak marah.

Pah, selama adek masih ada, adek akan sangat berusaha semaksimal mungkin untuk membantu semuanya. Adek akan jadi anak yang bisa diandelin mamah dan papah.

Yang sehat-sehat ya mah, pah :’*

Sebuah Pemikiran

Malam ini tiba-tiba muncul pertanyaan di benak saya. Pertanyaan yang mungkin bukan mata yang dapat melihat, tapi hati yang merasakan.
Apakah bahagia itu terpatok atas norma?

Norma, yang katanya hukum yang ada di dalam masyarakat. Dia lahir dari hasil interaksi sosial manusia. Tapi tidak dengan norma agama. Karena itu adalah mutlak dari Tuhan, dan tidak dapat diganggu gugat.
Norma yang saya bicarakan adalah norma sosial. Karena untuk urusan agama tidaklah pantas saya membicarakannya. Agama adalah urusan hamba dengan Tuhannya, maka itu bukanlah judging orang terhadap orang lainnya.

Kenapa saya bertanya demikian? Saya baru baca cerita di sebuah artikel tadi, dan muncul lah pertanyaan itu.
Bahagia, hal kasat mata yang dapat dirasa oleh hati. Nyaman dan hangat. Tapi kadang mata dapat melihat bahagia itu. Dalam cerita yang saya baca itu saya dibuat takjub, apa-apa yang dilihat mata terkadang memang tidak perlu ditanyakan lewat mulut. Disitu sang pencerita bilang, bahwa dia melihat orang yang disayangnya berubah lebih ‘berwarna’ ketika seorang tetangga datang dalam hidup orang yang disayangnya. Dia tidak menghakimi ini dan itu, yang dia tahu orang yang disayangnya itu terlihat lebih bahagia semenjak sang tetangga itu datang ke kehidupannya. Si pencerita tidak menghakimi juga lewat norma sosial yang ada. Bahagia adalah segala-galanya, ketika ‘sakit’ yang dirasa dahulu. Dia tidak bertanya, apakah ada hal yang lebih diantara kedua orang itu. Yang dia tahu bahwa orang yang disayangnya bahagia. Cukup.

Hidup cuma 1 kali, jangan pernah hidup dengan hidup sebagai orang lain. Berbahagia. Hidup dengan baik. Jadilah sebaik-baiknya hamba taat kepada Tuhannya.
Selebihnya biar itu menjadi urusan Tuhan. Jangan pedulikan ini dan itu yang keluar dari mulut orang lain.

Setidaknya itu yang saya pahami.