Berkali-kali menekan tombol ‘add friend’, berkali-kali juga sepertinya di reject. Bukankah hidup itu jangan pantang menyerah? Saya sedang melakukan itu. Berusaha dan terus berusaha.

Advertisements

Kamu

Kamu.
Kamu adalah nama yang slalu saya ketik di setiap mesin pencari yang saya buka.

Kamu.
Kamu adalah nama yang slalu saya simpan di setiap mesin pencari di setiap sosial media yang saya punya.

Kamu.
Menemukan kamu dari setiap pencarian yang saya lakukan, membuat saya tenang.
Karena saya tahu kamu ada.
Karena saya tahu kamu tidak kemana-mana.
Karena saya tahu bahwa kamu (setidaknya) baik-baik saja.

Karena kamu adalah harap.
Kamu adalah frasa arti dari kata berarti.
Kamu adalah proton plus neutron dari sebuah nukleus.
Kamu adalah dunia bagi saya yang kecil ini.

Kamu memang bukan segalanya, tapi segalanya akan hampa kalau tidak ada unsur kamu.
Diantara riuhnya hidup, mengingat kamu saja membuat saya tenang.

Kamu. Berlayarlah dengan saya. Bersama-sama.

Kepada Kamu

Mencoba mengerti apa yang terkadang tidak dimengerti itu susah ya? Berdiri diantara teruskan dan pergi saja juga membuat banyak pertanyaan muncul. Teruskan akan apa yang dipunyai dan dirasakan tapi gak tahu akan sampai kapan dan seberapa babak belurnya sebuah penantian. Membiarkan pergi tapi seakan masih punya keyakinan bahwa pasti suatu saat nanti akan ada kesempatan.

Saya maunya kamu. Saya butuhnya kamu. Tapi kamu ada diantara ‘teruskan’ dan ‘pergi saja’ itu. Kamu adalah apa yang saya yakini. Sesuatu yang abstrak, tapi saya yakin bahwa nanti pasti akan. Kamu juga yang membuat saya bertanya pada diri sendiri “Mau sampai kapan?”

Entah seberapa rindu yang harus saya ucapkan supaya kamu tahu. Entah seberapa waktu sampai tiba masanya pasti akan. Entah sebanyak apa keyakinan yang harus saya beri supaya kamu tidak ragu. Dan entah seberapa banyak ini dan itu supaya kamu melihat saya bahwa saya sayang kamu.

I MISS YOU

Kangen.

Sudah seminggu ini yang slalu ada dipikiran tuh ya kamu. Terserang kangen setelah sekian lama coba buat gak terlalu ngerasain itu. Tapi apa daya, hal-hal semacam ini seakan bikin diri jadi lemah.

Kamu, hari-hari yang dulu pernah dialami bareng kamu, percakapan-percakapan sama kamu, jadi satu ramuan yang namanya….. Kangen.

 

I do really miss you. Then this feeling gonna disappear as usual, yes?

Dan muncul lagi setelahnya. Berulang.

Cerita Masa Lalu

Tiket ke Jakarta udah di tangan. Dapat tiket ini aja susahnya minta ampun. Awalnya bingung harus bilang apa ke bapak-ibu. Padahal mungkin momen yang sedang saya kejar itu bakal jadi momen terakhir dengan dia. Mungkin. Apa aja bisa terjadi kan di dunia ini?

Tapi saya juga gak mau bohong dengan bapak dan ibu kalau saya ke Jakarta mau ketemu siapa. Saya bilang ke mereka kalau saya kesana tujuannya apa dan ingin bertemu siapa. Juga kenapa saya ingin bertemu dengan dia, karena saat itu dia akan pergi jauh. Pergi ke tempat yang perbedaan waktunya 6-7 jam lebih lambat dari sini.

“Aku lagi sakit perut, aku gak bisa dateng ke tempat kita janjian sebelumnya”

Sms itu datang ketika saya baru datang dan sedang makan di kaki lima di bilangan Sudirman. Waduh, udah jauh-jauh kesini masa saya gak jadi ketemu dia.

“Trus gimana?”

Saya cuma balas begitu, karena saya juga gak enak mau memaksakan dia.

 

“Kamu dimana?” balasnya. Saya bilang saya sedang di Sudirman, lagi makan dengan teman.

“Yaudah kamu kesini aja, naik taxi yaa” balas dia. Wah iya juga sih ketimbang saya gak jadi ke tempat dia. Lalu saya iyakan, tapi teman saya khawatir dengan saya. Dia tahu saya baru datang ke Jakarta dan hari sudah malam ditambah lagi harus ke bilangan Jakarta Barat yang lumayan jauh dari Pusat.

Teman saya menyarankan untuk naik busway aja. Tapi hey saya aja gak hapal jalur-jalur busway. Saya bilang kalau saya lebih baik naik ojeg. Tapi teman saya lagi-lagi khawatir, apapun bisa terjadi di Jakarta, siapapun bisa menjadi pelaku kejahatan, termasuk tukang ojeg. Saya tambah bingung harus gimana, karena kalau naik taxi saya khawatir biayanya akan jauh lebih mahal. Dana yang saya bawa tidaklah banyak, apalgi saat itu posisi saya belum bekerja. Kemudian teman saya mengantarkan saya ke jembatan penyebrangan yang ada halte buswaynya, dia gak anter saya sampai halte busway kami berpisah di tepi jembatan. Di jembatan otak saya masih terus berputar memikirkan saya mesti naik apa. Karena jujur, untuk naik busway itu jauh lebih riskan. Saya benar-benar blank jalur busway, walau mungkin bisa tanya juga sih.

Ya sampai akhirnya kaki saya melangkah justru bukan ke halte busway, tapi ke sisi sebrang jembatan. Tujuannya untuk turun kemudian cari ojek. Alhamdulillah dapat. Dengan terus baca bismillah, minta perlindungan sama Allah, saya bilang mau ke daerah Kedoya, Jakarta Barat. Abang ojeknya ternyata baik, alhamdulillah saya diantar sampai ke tempat tujuan. Ternyata memang saya tepat naik ojeg! Kenapa? Karena kalau naik busway, halte terdekat dari tempat tujuan saya ternyata jauh. Nah kalau saya naik taxi, jalan ke arah sana macet pake banget! Gatau deh habis berapa kalau naik taxi. Fiuh.

Dia mengantarkan saya sampai stasiun Gambir. Saya pamit, saya berterimakasih untuk seharian penuh sama dia. Sebelum masuk boarding pass saya menyerahkan sesuatu yang sudah saya persiapkan dari rumah untuk dia. Saya peluk dia sebentar, lalu saya masuk ke dalam. Dari dalam pintu gerbang, saya balikkan badan untuk bisa ngeliat dia pergi sampai punggungnya hilang ditelan ramainya stasiun. Saat itu saya cuma bisa bilang ke diri saya, “Kalau hari ini adalah hari terakhir saya bisa ketemu kamu lagi, saya gak akan pernah menyesalinya”

***

Terimakasih Mah, Pah, sudah mau mengerti dan mengijinkan saya untuk bisa bertemu dia sebelum dia pergi jauh. Terimakasih untuk tidak bertanya ‘Kenapa’ dan ‘Siapa’. Setidaknya dia adalah salah seorang yang pernah ada dalam fase hidup saya, sampai pada saatnya dia akan pergi dengan sendirinya dari dalam kepala saya. Mungkin belum hari ini, besok, atau lusa.

Terimakasih kamu, untuk hal-hal yang mungkin kamu menganggapnya bukan sesuatu yang istimewa, tapi buat saya semua tentang kamu, semua hari-hari yang pernah sedikit dilewati bareng kamu, semua kumpulan cerita, kumpulan obrolan dari kamu, adalah istimewa. Kamu memang bukan segalanya, karena saya tahu kamu benci saya menuliskan ini, mungkin juga jadi hal yang memuakkan buat kamu. Terimakasih untuk tetap menganggap saya sebagai teman, walau bukan lagi jadi teman di sosial media.

🙂

***

Juli Akhir 2013

Ndak Akan Pernah Nyesel

Nyesel tuh perbuatan percuma yang bikin kita lemah. Tapi nyesel juga bisa jadi penguat dan momen kebangkitan.

Hidup itu cuma satu kali, jadi buat apa punya rasa nyesel lama-lama.

Dan saya ndak pernah nyesel buat nyapa kamu duluan, ngajak ngobrol kamu duluan, sekalipun seakan convo nya itu cuma jalan satu arah.

Saya bakal tetap jadi supporter nomor 1 nya kamu (diluar keluarga dan orang dekat kamu), dan ndak akan nyesel untuk seperti itu 😀

Saya udah ikhlas kamu ‘pergi’, saya dengan hidup saya dan kamu dengan hidup kamu. Jalan masing-masing. Berkarya masing-masing. Semangat!!

Selamat yaa buat kamu, selamat atas sandangan profesi barunya, am so proud of you!

Cc: #DearYou