Kurang Waktu

Deretan kata terasa tidak akan pernah cukup untuk terus ingin bersahut-sahutan dengan kamu.
Rentetan suara pun begitu.

Andai kamu tahu, 24 jam itu terasa kurang untuk kebutuhan akan kamu.

Ketika

Kamu datang ketika semua terasa datar
Kamu datang ketika semua berlalu begitu saja seperti angin lewat
Kamu datang ketika warna putih sudah terlalu lama menghiasi hari-hari

Kamu datang seperti balon warna-warni dalam foto hitam-putih
Kamu datang seperti semburat jingga pada langit senja
Kamu datang seperti pelukan hangat ditengah dinginnya kehidupan
Kamu datang memberi gelitik buncah rasa seperti ada seribu kupu-kupu

Kamu datang ketika pertanyaan sudah siapkah saya mulai terlontar lagi. Kamu datang dan saya segera belajar hal-hal buruk bilamana sesuatu terjadi.

Kebebasan

Akhir-akhir ini saya merindukan kebebasan. Kebebasan dimana saat saya menjadi seorang pelajar. Pelajar yang merantau. Hahahaa.

Mungkin karena tekanan pekerjaan yang sedang padat-padatnya,  sehingga pikiran saya sangat butuh pintu keluar untuk LIBURAN.

Aaahh saya mauu liburannn… Mau menjejakkan kaki di tempat bernama pantaiiiii…

Kamu

Kamu.
Kamu adalah nama yang slalu saya ketik di setiap mesin pencari yang saya buka.

Kamu.
Kamu adalah nama yang slalu saya simpan di setiap mesin pencari di setiap sosial media yang saya punya.

Kamu.
Menemukan kamu dari setiap pencarian yang saya lakukan, membuat saya tenang.
Karena saya tahu kamu ada.
Karena saya tahu kamu tidak kemana-mana.
Karena saya tahu bahwa kamu (setidaknya) baik-baik saja.

Karena kamu adalah harap.
Kamu adalah frasa arti dari kata berarti.
Kamu adalah proton plus neutron dari sebuah nukleus.
Kamu adalah dunia bagi saya yang kecil ini.

Kamu memang bukan segalanya, tapi segalanya akan hampa kalau tidak ada unsur kamu.
Diantara riuhnya hidup, mengingat kamu saja membuat saya tenang.

Kamu. Berlayarlah dengan saya. Bersama-sama.

Alur

Katanya kalau keluar alur itu aneh, abnormal, gak sejalan. Itu kata orang-orang yang mengikuti alur. Hidup harus begini, begitu. Habis sekolah, kerja. Habis kerja, nikah. Habis itu begini, habis itu begitu. Katanya sih alurnya begitu.

Trus.. kalau ada yang keluar alur ya dibilangnya aneh, abnormal, kok gitu sih. Di nyinyirin. Itulah pola hidup, katanya… Kita benar dan salah pastilah selalu ada yang ngomongin kita. Padahal siapa kita, seleb juga bukan, kan? Tapi ya itu lah..

Nah, otak saya capek buat berpikir tentang begini dan begitu. Lelah. Lelah dengan kekecewaan dan ketidaksejalanan semua. Kalau saya keluar alur, maka saya akan dikatakan aneh, abnormal, dan ih kok gitu sih. Gitu deh pasti.. Padahal semua orang pasti punya historynya masing-masing, baik yang terkatakan maupun yang disimpan sendiri. Yah sudahlah.

Saya capek, capek kecewa karena menyukai orang terlebih dahulu. I am tired being disappointed.

 

Apa sih itu menikah? Harus gitu? Perlu? Kebutuhan? Bukan kah saling menyayangi dan mencintai dan saling mempertahankan komitmen itu lebih baik? Hahahaa RANDOM. Sorry.